Home HadistHadist: Sehat Lebih Berharga daripada Kaya

Hadist: Sehat Lebih Berharga daripada Kaya

Tiga nikmat inilah yang akan membuat kehidupan menjadi lebih bermakna dan penuh keberkahan.

by Abu Umar
0 comments 25 views

Banyak orang bekerja keras demi mengejar kekayaan. Tidak sedikit yang rela mengorbankan waktu, tenaga, bahkan kesehatannya agar memperoleh harta yang melimpah. Padahal, Islam mengajarkan bahwa kekayaan bukanlah tujuan utama hidup. Yang paling penting adalah ketakwaan kepada Allah, karena harta hanyalah sarana, bukan ukuran kemuliaan seseorang.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَا بَأْسَ بِالْغِنَى لِمَنِ اتَّقَى، وَالصِّحَّةُ لِمَنِ اتَّقَى خَيْرٌ مِنَ الْغِنَى، وَطِيبُ النَّفْسِ مِنَ النِّعَمِ

“Tidak mengapa seseorang itu kaya asalkan bertakwa. Sehat bagi orang yang bertakwa itu lebih baik daripada kekayaan. Dan hati yang bahagia adalah bagian dari nikmat.” (HR. Ibnu Majah no. 2141).

Hadis ini memberikan pelajaran yang sangat indah tentang urutan nikmat yang seharusnya kita syukuri.

BACA JUGA: Hadist: Jauhi Jalan Mereka!

Pertama, Islam tidak pernah melarang seseorang menjadi kaya. Bahkan banyak sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dikenal sebagai saudagar sukses, seperti Abu Bakar Ash-Shiddiq, Utsman bin Affan, dan Abdurrahman bin Auf radhiyallahu ‘anhum. Namun, kekayaan itu harus dibangun di atas ketakwaan, diperoleh dengan cara yang halal, dan digunakan untuk kebaikan.

Kedua, Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa kesehatan lebih baik daripada kekayaan. Harta yang melimpah akan terasa kurang berarti jika tubuh dipenuhi penyakit. Sebaliknya, orang yang sehat memiliki kesempatan lebih besar untuk beribadah, bekerja, menuntut ilmu, membantu sesama, dan menikmati berbagai nikmat Allah. Karena itu, menjaga kesehatan juga termasuk bentuk syukur kepada-Nya.

Ketiga, hati yang lapang dan bahagia merupakan nikmat yang sering terlupakan. Ada orang yang hartanya melimpah, tetapi hidupnya dipenuhi kecemasan. Ada pula yang sederhana secara materi, tetapi hatinya tenang karena selalu merasa cukup dengan pemberian Allah. Inilah yang disebut ṭībun-nafs, yaitu hati yang ridha, lapang, dan penuh ketenangan.

Para ulama menjelaskan bahwa kebahagiaan sejati bukanlah banyaknya harta, melainkan ketenangan hati yang lahir dari iman dan rasa syukur. Ketika hati dipenuhi tawakal dan qana’ah, seseorang tidak akan mudah gelisah oleh urusan dunia.

BACA JUGA:  Hadist: Orang-Orang yang Enggan Masuk Surga

Hadis ini juga menjadi pengingat agar kita tidak hanya berdoa meminta rezeki yang banyak, tetapi juga memohon ketakwaan, kesehatan, dan hati yang tenang. Sebab, tiga nikmat inilah yang akan membuat kehidupan menjadi lebih bermakna dan penuh keberkahan.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala mengaruniakan kepada kita rezeki yang halal dan berkah, kesehatan yang digunakan untuk beribadah, serta hati yang selalu tenang dalam mengingat-Nya. Dengan ketakwaan, kekayaan menjadi berkah. Dengan kesehatan, ibadah menjadi lebih mudah. Dan dengan hati yang bahagia, hidup terasa lebih indah meski sederhana.

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

Ikuti kami di Facebook Humayro. Satu tempat untuk pembelajaran tiada henti. Pembelajaran setiap hari. Pembelajaran sepanjang hayat.

Subscribe

Subscribe my Newsletter for new blog posts, tips & new photos. Let's stay updated!

Humayro.com – Belajar Sepanjang Hayat.  Kantor : Jalan Taman Pahlawan Gg. Ikhlas No. 2 RT18/RW 08 Purwakarta 41119