Wajib bagi orang yang berakal untuk senantiasa berdiri di depan pintu Rabb-nya, selalu berharap limpahan karunia dan keutamaan-Nya. Baik ketika terjatuh dalam maksiat maupun saat berada di jalan ketaatan, hendaknya ia tetap kembali kepada Allah. Jangan pernah merasa bahwa pintu rahmat-Nya telah tertutup. Rasakanlah kesejukan ketika bermunajat kepada-Nya. Jika muncul perasaan sepi dan jauh dari-Nya, segeralah usir perasaan itu dengan zikir, doa, dan taubat.
Seorang penyair berkata:
Jika engkau merasa resah akibat tingkahmu,
maka berbuat baiklah dan sejukkanlah hatimu.
Orang yang cerdas senantiasa mengawasi keadaan hatinya. Ketika melihat dirinya mulai condong kepada dunia, ia segera menariknya kembali. Ketika merasakan kecenderungan kepada akhirat, ia memohon taufik kepada Allah agar diberi kemampuan untuk terus melakukan amal-amal yang mengantarkannya menuju kebahagiaan akhirat.
BACA JUGA: Keinginan dalam Diri Manusia
Apabila ia khawatir terjerat oleh tipu daya dunia, ia segera berdoa agar Allah memperbaiki hatinya dan menyembuhkan penyakit-penyakit yang ada di dalamnya. Ia menyadari bahwa hati yang sehat tidak akan menginginkan sesuatu yang membahayakan dirinya. Jika hati telah menjadi baik, niscaya kehidupan di dunia pun akan terasa lebih tenteram, lapang, dan penuh kenikmatan.
Namun, ada satu perkara yang sangat penting untuk selalu diingat, yaitu setiap orang wajib membentengi dirinya dengan ketakwaan. Takwa adalah kunci kesejukan, ketenangan, dan kedamaian hati. Orang-orang yang bertakwa tidak menyandarkan harapan mereka kepada makhluk. Kesibukan terbesar mereka adalah berserah diri, berdoa, dan memohon pertolongan kepada Allah semata.
Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa ketika berperang melawan orang-orang Turki, Qutaibah bin Muslim sempat merasakan kegelisahan. Lalu ia bertanya, “Di manakah Muhammad bin Wasi’?”
Orang-orang menjawab, “Beliau berada di barisan paling kanan. Ia sedang bersandar pada busurnya sambil mengangkat jari telunjuknya ke arah langit.”
Mendengar itu, Qutaibah berkata, “Satu jari itu lebih berharga bagiku daripada seratus ribu pedang yang terhunus dan ribuan anak panah yang melesat.”
BACA JUGA: Orang-orang Fasik
Setelah Allah memberikan kemenangan kepada kaum muslimin, Muhammad bin Wasi’ ditanya, “Apa yang engkau lakukan saat itu?”
Beliau menjawab, “Aku menunjukkan kepada kalian jalan-jalan pintas menuju kemenangan.”
Kisah ini mengajarkan bahwa kemenangan yang sejati bukan hanya ditentukan oleh banyaknya pasukan atau kekuatan senjata, tetapi juga oleh doa, ketakwaan, dan ketergantungan hati kepada Allah. Sebab, siapa yang terus mengetuk pintu Rabb-nya dengan penuh harap, niscaya tidak akan dibiarkan kembali dengan tangan hampa. []
Sumber: Shaidul Khatir, Cara Manusia Cerdas Menang dalam Hidup, karya Imam Ibnu Al Jauzi, Penerbit Maghfirah Pustaka, Cetakan Juni 2022
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

