Home KajianPelit Lagi Tamak, Sumber Banyak Keburukan

Pelit Lagi Tamak, Sumber Banyak Keburukan

Harta yang banyak tidak akan menenangkan hati yang dikuasai kerakusan.

by Abu Umar
0 comments 4 views

Pelit dan tamak adalah dua sifat yang dapat merusak hati.

Pelit membuat seseorang berat mengeluarkan harta untuk kebaikan.
Tamak membuat seseorang tidak pernah merasa cukup dengan apa yang telah dimilikinya.

Ia sudah memiliki banyak, tetapi masih merasa kurang.

Ia sudah mendapatkan nikmat, tetapi masih mengejar sesuatu yang belum menjadi haknya.

Bahkan, demi mendapatkan keinginannya, seseorang bisa terdorong melakukan berbagai keburukan.

Hal inilah yang dipahami oleh Abdurrahman bin Auf رضي الله عنه.

BACA JUGA:  Doa Berlindung dari Sifat Lemah, Malas, Pengecut, Pikun, Kikir, Siksa Kubur dan Fitnah Kehidupan dan Kematian

Dikisahkan bahwa ketika beliau melakukan thawaf mengelilingi Ka’bah, beliau terus mengulang doa:

اللَّهُمَّ قِنِي شُحَّ نَفْسِي

“Ya Allah, lindungilah aku dari sifat kikir lagi tamak dalam diriku.”

Ketika ditanyakan mengapa beliau terus membaca doa tersebut, beliau menjawab:

إني إذا وقيت شح نفسي لم أسرق ولم أزن ولم أفعل

“Sesungguhnya, apabila aku terjaga dari sifat syuhh dalam diriku, tentu aku tidak akan mencuri, tidak akan berzina, dan tidak pula melakukan keburukan lainnya.” (Dinukil dalam Tafsir Ibnu Katsir)

Perkataan ini menunjukkan betapa bahayanya sifat syuhh.

Syuhh bukan sekadar enggan berbagi. Ia juga mencakup kerakusan, kecintaan yang berlebihan terhadap harta, dan keinginan untuk mengambil sesuatu yang bukan haknya.

Ketika sifat ini menguasai hati, seseorang bisa menghalalkan berbagai cara.

Ia menipu demi keuntungan.

Ia mengambil hak orang lain.

Ia berbuat curang dalam perdagangan.

Ia mengingkari amanah.

Ia bahkan rela melakukan dosa besar demi memenuhi keinginannya.

Karena itu, Islam tidak hanya mengajarkan kita untuk mencari rezeki yang halal. Islam juga mengajarkan kita untuk membersihkan hati dari kerakusan terhadap dunia.

Allah berfirman, “Dan barang siapa dijaga dirinya dari kekikiran, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (Al-Hasyr: 9)

Perhatikanlah, Allah menyebut orang yang terjaga dari kekikiran sebagai orang yang beruntung.

Sebab, keberuntungan bukan hanya ketika harta bertambah.

Keberuntungan adalah ketika hati mampu merasa cukup.

Ketika tangan ringan bersedekah.

Ketika seseorang mampu menahan diri dari mengambil hak orang lain.

Ketika ia lebih takut kepada Allah daripada tergoda oleh keuntungan dunia.

BACA JUGA:  Jangan Jadi Orang yang Pelit, Kikir, Bakhil

Saudaraku, jangan hanya berdoa agar harta kita bertambah.

Berdoalah agar hati kita dijauhkan dari sifat tamak.

Jangan hanya meminta rezeki yang luas.

Mintalah pula rezeki yang halal dan penuh keberkahan.

Sebab, harta yang banyak tidak akan menenangkan hati yang dikuasai kerakusan.

Maka, biasakan bersedekah.

Latih diri untuk berbagi.

Syukuri nikmat yang telah Allah berikan.

Dan jangan biarkan keinginan memiliki sesuatu membuat kita melupakan batas-batas yang telah Allah tetapkan. []

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

Ikuti kami di Facebook Humayro. Satu tempat untuk pembelajaran tiada henti. Pembelajaran setiap hari. Pembelajaran sepanjang hayat.

Subscribe

Subscribe my Newsletter for new blog posts, tips & new photos. Let's stay updated!

Humayro.com – Belajar Sepanjang Hayat.  Kantor : Jalan Taman Pahlawan Gg. Ikhlas No. 2 RT18/RW 08 Purwakarta 41119