Nikmat adalah karunia Allah yang sering kali baru kita sadari setelah ia pergi. Kesehatan terasa begitu berharga ketika sakit datang. Waktu terasa mahal ketika kesibukan memenuhi hari. Kehadiran orang-orang tercinta terasa berarti ketika mereka mulai menjauh atau telah tiada.
Namun, pernahkah kita bertanya, mengapa sebuah nikmat bisa dicabut?
Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah memberikan jawaban yang sangat dalam. Beliau berkata,
ما سلبت النعم إلا بترك تقوى الله، والإساءة إلى الناس
“Tidaklah nikmat itu dicabut, melainkan karena meninggalkan ketakwaan kepada Allah dan berbuat jelek kepada orang lain.” (Ahkamu Ahlidz Dzimmah, 1/21).
BACA JUGA: Berlaku Bijak terhadap Kenikmatan
Perkataan ini mengingatkan kita bahwa hilangnya nikmat bukan selalu karena keadaan yang kebetulan berubah. Ada kalanya ia menjadi akibat dari perilaku kita sendiri.
Ketakwaan adalah salah satu sebab utama terjaganya nikmat. Ketika seorang hamba menjaga hubungannya dengan Allah, menjauhi maksiat, menaati perintah-Nya, dan berusaha menjaga hati, Allah memberikan keberkahan dalam hidupnya.
Sebaliknya, ketika ketakwaan mulai ditinggalkan, dosa dianggap ringan, ibadah mulai disepelekan, dan hati semakin jauh dari Allah, keberkahan dapat berkurang sedikit demi sedikit.
Selain meninggalkan ketakwaan, Ibnul Qayyim juga mengingatkan tentang berbuat buruk kepada orang lain. Betapa banyak manusia yang rajin beribadah, tetapi lisannya menyakiti. Tangannya merugikan. Sikapnya merendahkan. Ia mudah menzalimi, memfitnah, mengambil hak, atau menyakiti hati sesama.
BACA JUGA: Tanggung Jawab Nikmat
Padahal, hubungan dengan manusia juga harus dijaga.
Karena itu, ketika sebuah nikmat terasa berkurang, jangan hanya bertanya, “Mengapa Allah mengambilnya dariku?” Cobalah bertanya kepada diri sendiri, “Apa yang telah berubah dalam hubunganku dengan Allah dan dengan manusia?”
Mungkin ada ketakwaan yang mulai ditinggalkan. Mungkin ada dosa yang terus dipelihara. Mungkin ada hati yang pernah kita lukai.
Maka, sebelum menuntut nikmat kembali, perbaikilah diri. Kembali kepada Allah. Tinggalkan maksiat. Perbaiki hubungan dengan sesama.
Sebab menjaga nikmat bukan hanya dengan mensyukurinya ketika ada, tetapi juga dengan menjaga sebab-sebab keberkahannya. []
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

