Home KajianTerkunci dalam Lingkaran Maksiat

Terkunci dalam Lingkaran Maksiat

Pada awalnya, meninggalkan maksiat mungkin terasa berat. Hati terasa sempit, jiwa merasa gelisah, dan setan terus membisikkan agar kembali kepada kebiasaan lama.

by Abu Umar
0 comments 10 views

Salah satu dampak paling berbahaya dari dosa adalah bahwa maksiat dapat berubah menjadi kebiasaan yang mengikat hati seseorang. Pada awalnya, seseorang mungkin melakukan dosa karena dorongan syahwat, rasa penasaran, atau kelalaian. Namun jika ia terus-menerus melakukannya tanpa taubat, dosa tersebut perlahan menjadi bagian dari kehidupannya hingga sulit untuk ditinggalkan.

Inilah yang dijelaskan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah ketika membahas pengaruh buruk kemaksiatan terhadap hati manusia. Beliau berkata:

ولو عطل المجرم المعصية وأقبل على الطاعة؛ لضاقت عليه نفسه وضاق صدره، وأعيت عليه مذاهبه، حتى يعاودها، حتى إن كثيرا من الفساق ليواقع المعصية من غير لذة يجدها، ولا داعية إليها، إلا بما يجد من الألم بمفارقتها

“Seandainya seorang pendosa menghentikan maksiat dan beralih kepada ketaatan, niscaya dirinya akan merasa sempit, dadanya menjadi sesak, dan berbagai jalan terasa sulit baginya, hingga akhirnya ia kembali lagi kepadanya. Bahkan banyak orang fasik melakukan maksiat tanpa lagi merasakan kenikmatan di dalamnya dan tanpa dorongan kuat ke arahnya, kecuali karena rasa sakit yang ia rasakan ketika meninggalkannya.” Ad-Da’u wad Dawa’u, hlm. 56

BACA JUGA:  Orang Terus Berbuat Maksiat kemudian Bertaubat Istighfar Lagi

Perkataan ini menggambarkan kondisi yang sangat memprihatinkan. Ada orang yang terus melakukan maksiat bukan karena masih menikmati dosa tersebut, tetapi karena hatinya telah terbiasa dengannya. Ia merasa tidak nyaman ketika berusaha meninggalkannya, sehingga kembali lagi kepada dosa tersebut meskipun sebenarnya tidak lagi mendapatkan kenikmatan darinya.

Ibnul Qayyim kemudian menukil perkataan Al-Hasan bin Hani, yang dikenal sebagai Abu Nuwas:

وكأس شربت على لذة … وأخرى تداويت منها بها

“Aku meminum satu gelas karena kenikmatannya, dan gelas lainnya aku gunakan untuk mengobati diriku darinya dengan dirinya sendiri.”

Syair ini menggambarkan keadaan seseorang yang menggunakan sesuatu yang menjadi penyakitnya sebagai obat bagi penyakit itu sendiri. Padahal kenyataannya, penyakit tersebut justru semakin bertambah parah.

Demikian pula dengan kemaksiatan. Sebagian orang mencari ketenangan dengan kembali kepada dosa yang selama ini merusak hatinya. Ketika gelisah, ia kembali kepada maksiat. Ketika sedih, ia kembali kepada maksiat. Ketika menghadapi masalah, ia mencari pelarian pada dosa yang sama. Akibatnya, ia terjebak dalam lingkaran yang sulit diputus.

Allah Ta’ala berfirman:

ثُمَّ كَانَ عَاقِبَةَ الَّذِينَ أَسَاءُوا السُّوأَىٰ أَنْ كَذَّبُوا بِآيَاتِ اللَّهِ

“Kemudian akibat orang-orang yang berbuat kejahatan adalah mereka mendustakan ayat-ayat Allah.” (QS. Ar-Rum: 10)

Ayat ini menunjukkan bahwa dosa yang terus-menerus dilakukan dapat menyeret seseorang kepada dosa yang lebih besar lagi. Karena itulah para ulama salaf sangat takut terhadap kemaksiatan, sekecil apa pun bentuknya.

Namun seorang muslim tidak boleh berputus asa. Meskipun dosa telah lama menguasai dirinya, pintu taubat Allah tetap terbuka. Obat dari lingkaran maksiat bukanlah kembali kepada maksiat tersebut, melainkan kembali kepada Allah dengan taubat yang tulus, memperbanyak istighfar, menjauhi sebab-sebab dosa, dan bersungguh-sungguh dalam menjalankan ketaatan.

BACA JUGA:  

banner

Orang-orang yang Tertipu: Terus Berbuat Maksiat

Pada awalnya, meninggalkan maksiat mungkin terasa berat. Hati terasa sempit, jiwa merasa gelisah, dan setan terus membisikkan agar kembali kepada kebiasaan lama. Akan tetapi, apabila seorang hamba bersabar, Allah akan mengganti kesempitan itu dengan ketenangan, mengganti kegelisahan dengan ketenteraman, dan mengganti kenikmatan semu maksiat dengan manisnya iman.

Karena itu, jangan biarkan dosa menjadi rantai yang mengikat hati. Semakin cepat seseorang bertaubat, semakin mudah ia melepaskan diri dari lingkaran maksiat tersebut. Sebaliknya, semakin lama ia menunda taubat, semakin kuat pula ikatan dosa yang membelenggunya. []

Sumber: Ad daa Wad Dawaa, Macam-macam Penyakit hati yang Membahayakan dan Resep Pengobatannya, karya Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Pustaka Imam As-Syafi’i, Cetakan ke-10 November 2016 M 

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

Ikuti kami di Facebook Humayro. Satu tempat untuk pembelajaran tiada henti. Pembelajaran setiap hari. Pembelajaran sepanjang hayat.

Subscribe

Subscribe my Newsletter for new blog posts, tips & new photos. Let's stay updated!

Humayro.com – Belajar Sepanjang Hayat.  Kantor : Jalan Taman Pahlawan Gg. Ikhlas No. 2 RT18/RW 08 Purwakarta 41119