Home Uncategorized3 Tingkatan Itsar menurut Ibnul Qayyim

3 Tingkatan Itsar menurut Ibnul Qayyim

Seorang hamba rela meninggalkan apa yang ia cintai demi mendapatkan ridha Allah, serta tidak menjadikan manusia sebagai tujuan utama dalam pengorbanannya.

by Abu Umar
0 comments 60 views

Itsar adalah sikap mendahulukan kepentingan orang lain di atas kepentingan diri sendiri, meskipun dalam kondisi membutuhkan. Akhlak mulia ini merupakan salah satu tanda kesempurnaan iman dan banyak dipuji dalam Al-Qur’an, di antaranya dalam Surah Al-Hasyr ayat 9 yang menggambarkan kaum Anshar yang mengutamakan saudaranya meski mereka sendiri dalam kesulitan.

Menurut penjelasan ulama besar Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, itsar memiliki tiga tingkatan yang menunjukkan kedalaman iman seseorang.

Tingkatan pertama adalah itsar dalam perkara dunia.

Ini adalah tingkatan yang paling umum, yaitu ketika seseorang mendahulukan orang lain dalam urusan harta, makanan, atau kebutuhan duniawi lainnya. Misalnya, seseorang memberikan makanan kepada orang lain padahal ia sendiri sedang lapar. Tingkatan ini sangat dianjurkan dan termasuk akhlak yang terpuji, karena menunjukkan kepedulian dan kasih sayang antar sesama.

BACA JUGA: Nasihat Ibnul Qayyim tentang Istighfar

Tingkatan kedua adalah itsar dalam perkara yang dicintai jiwa.

Ini lebih tinggi dari sekadar berbagi harta, karena berkaitan dengan sesuatu yang sangat disukai atau sulit untuk dilepaskan. Misalnya, seseorang mengalah dalam urusan yang ia inginkan, seperti kedudukan, kesempatan, atau hak tertentu, demi kebaikan orang lain. Pada tingkatan ini, pengorbanan terasa lebih berat, namun pahalanya juga lebih besar karena melibatkan perjuangan melawan hawa nafsu.

Adapun tingkatan ketiga adalah itsar dalam perkara yang berkaitan dengan Allah.

Ini adalah tingkatan tertinggi dan paling mulia. Namun, Ibnu Qayyim Al-Jauziyah menegaskan bahwa tidak boleh ada itsar dalam ibadah yang sifatnya wajib atau mendekatkan diri kepada Allah. Artinya, seseorang tidak boleh mendahulukan orang lain dalam hal yang bisa mengurangi ketaatannya kepada Allah, seperti memberikan giliran shalat atau meninggalkan kewajiban demi orang lain.

BACA JUGA:  Siapa Imam Ibnul Jauzi?

Yang dimaksud dalam tingkatan ini adalah mendahulukan keridhaan Allah di atas segala-galanya, bahkan di atas kepentingan diri sendiri dan orang lain. Seorang hamba rela meninggalkan apa yang ia cintai demi mendapatkan ridha Allah, serta tidak menjadikan manusia sebagai tujuan utama dalam pengorbanannya.

Dari tiga tingkatan ini, dapat dipahami bahwa itsar bukan sekadar berbagi, tetapi juga tentang bagaimana seseorang menata hatinya agar lebih mencintai orang lain dan, yang paling utama, mencintai Allah di atas segalanya. []

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

Ikuti kami di Facebook Humayro. Satu tempat untuk pembelajaran tiada henti. Pembelajaran setiap hari. Pembelajaran sepanjang hayat.

Subscribe

Subscribe my Newsletter for new blog posts, tips & new photos. Let's stay updated!

Humayro.com – Belajar Sepanjang Hayat.  Kantor : Jalan Taman Pahlawan Gg. Ikhlas No. 2 RT18/RW 08 Purwakarta 41119