Permusuhan di antara keluarga, kerabat, dan sesama saudara bukan hanya masalah pribadi. Jika dibiarkan, ia akan menjadi racun sosial yang melemahkan umat.
Ketika hati dipenuhi:
dendam,
iri,
kebencian,
ego,
dan kepentingan pribadi,
maka hubungan menjadi mudah hancur. Setan sangat menyukai keadaan ini, karena umat yang terpecah adalah umat yang lemah.
BACA JUGA: Hak-Hak Para Kerabat dan Sanak Keluarga, Salah Satunya Terus Menyambung Silaturahim
Allah berfirman:
{وَيَقْطَعُونَ مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَن يُوصَلَ وَيُفْسِدُونَ فِى الأرْضِ أُوْلَئِكَ لَهُمُ اللَّعْنَةُ وَلَهُمْ سُوءُ الدَّارِ}
“Dan mereka memutuskan apa yang Allah perintahkan untuk disambung, serta membuat kerusakan di muka bumi. Mereka itulah yang mendapat laknat dan bagi mereka tempat kembali yang buruk.”
(QS. Ar-Ra’d: 25)
Ayat ini menunjukkan bahwa memutus hubungan bukan sekadar “masalah keluarga”, tetapi bisa menjadi sebab laknat Allah bila dilakukan dengan sengaja dan tanpa penyesalan.
Silaturahmi Adalah Tanda Iman
Di tengah semua ini, Islam tidak membiarkan kita tanpa arah. Islam justru menegaskan bahwa menyambung silaturahmi adalah bagian dari iman.
Rasulullah ﷺ bersabda:
«مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ»
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaklah ia menyambung silaturahmi.”
(HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Bukan hanya itu, silaturahmi juga menjadi sebab:
diluaskan rezeki,
dipanjangkan umur,
diturunkannya keberkahan hidup.
Nabi ﷺ bersabda:
«مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ، وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَجَلِهِ؛ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ»
“Barang siapa ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung silaturahmi.”
(HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Maka jangan remehkan telepon singkat kepada orang tua.
Jangan anggap kecil pesan maaf kepada saudara.
Jangan tunda kunjungan kepada kerabat.
Bisa jadi itu sebab turunnya rahmat Allah ke dalam hidup kita.
Orang yang Benar-Benar Menyambung Silaturahmi Bukan yang Hanya Membalas
Banyak orang merasa dirinya sudah baik karena ia berkata:
“Saya baik kalau mereka baik.”
“Saya datang kalau mereka datang.”
“Saya telepon kalau mereka telepon duluan.”
Padahal Rasulullah ﷺ mengajarkan ukuran yang jauh lebih tinggi.
Beliau bersabda:
«لَيْسَ الْوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ، وَلَكِنَّ الْوَاصِلَ الَّذِي إِذَا قُطِعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا»
“Orang yang benar-benar menyambung silaturahmi bukanlah orang yang hanya membalas, tetapi orang yang tetap menyambung ketika hubungan diputuskan.”
(HR. Al-Bukhari)
BACA JUGA: Menyambung Silaturahim
Inilah akhlak yang agung.
Bukan menunggu mereka berubah.
Bukan menunggu mereka meminta maaf duluan.
Bukan menunggu semua menjadi ideal.
Tetapi kita memilih tetap menjadi orang yang menyambung, walaupun tidak selalu dibalas dengan hangat.
Bahkan ketika seseorang berkata kepada Nabi ﷺ bahwa ia punya kerabat yang selalu ia sambung tetapi mereka memutus, ia berbuat baik tetapi mereka membalas buruk, Nabi ﷺ tetap memerintahkannya untuk terus berbuat baik.
Artinya, silaturahmi adalah ibadah, bukan transaksi. []
Sumber:
QS. Muhammad: 22–23
QS. Ar-Ra’d: 21, 25
HR. Al-Bukhari dan Muslim tentang silaturahmi
Kutipan dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah رحمه الله
Diadaptasi dari materi khutbah tentang fenomena retaknya keluarga (التفكك الأسري)
AR-ISLAMWAY.NET
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

