Ia datang sebagai tamu.
Tanpa kemegahan.
Tanpa jarak.
Rasulullah ﷺ singgah di sebuah rumah.
Rumah yang sederhana.
Rumah seorang sahabat.
Makanan pun dihidangkan.
Wathbah.
Campuran kurma, keju, dan mentega.
Beliau memakannya dengan tenang.
Tanpa memilih.
Tanpa menolak.
BACA JUGA: Rasulullah Sudah Ungkap Sendi Manusia Berjumlah 360
Lalu kurma disuguhkan.
Beliau mengambilnya satu per satu.
Mengunyahnya perlahan.
Biji kurma dilepaskan lembut,
di antara dua jari—
telunjuk dan tengah—
seolah adab kecil pun tak luput dari teladan.
Air minum pun datang.
Beliau meminumnya.
Kemudian menyerahkannya
kepada yang berada di sebelah kanan.
Hak didahulukan.
Tata krama dijaga.
Saat beliau hendak beranjak,
seorang ayah memegang kendali tunggangannya.
Bukan menahan langkah.
Hanya berharap langit dibukakan.
“Doakan kami.”
Dan doa itu pun mengalir.
Bukan panjang.
Namun penuh cahaya:
“Ya Allah,
berkahilah rezeki mereka,
ampuni dosa-dosa mereka,
dan limpahkan rahmat-Mu kepada mereka.”
Doa seorang Nabi.
Untuk tuan rumah yang memuliakan tamu.
Beginilah beliau.
Datang tanpa membebani.
Pergi tanpa menyisakan kecanggungan.
Makan apa yang dihidangkan.
Mendoakan lebih dari yang diminta.
BACA JUGA: Rasulullah Memuliakan Tukang Sapu
Di rumah-rumah sahabat,
akhlak beliau tumbuh.
Dalam suapan sederhana,
ajaran besar diwariskan.
Bahwa keberkahan
lahir dari adab.
Bahwa kemuliaan
terpancar dari doa.
Dan bahwa Rasulullah ﷺ
adalah teladan,
bahkan dalam hal yang paling kecil. []
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

