Mu’awiyah bin Abu Sufyan radhiyallahu ‘anhu pernah berkata:
“Perempuan itu mengalahkan suami yang mulia, dan dikalahkan oleh suami yang buruk perangainya.” (Fathul Bari, Ibnu Hajar, 11/576)
Ungkapan singkat ini menyimpan hikmah yang mendalam tentang tabiat manusia dan dinamika kehidupan rumah tangga. Ia menunjukkan bahwa kemuliaan dan keburukan seorang suami akan tampak dari bagaimana ia memperlakukan istrinya — apakah dengan kelembutan atau kekerasan, dengan kasih sayang atau kemarahan.
1. Suami yang Mulia — Lemah Lembut dan Suka Mengalah
Suami yang berakhlak mulia tidak menuntut ketaatan dengan paksaan, tetapi dengan kasih sayang. Ia memuliakan istrinya, menghormatinya, dan berusaha menjaga hatinya dari luka. Bahkan, jika harus mengalah, ia melakukannya dengan penuh kelapangan dada.
Suami seperti ini tampak seolah “dikalahkan” oleh istrinya, padahal sebenarnya ia sedang menang dalam akhlak dan kemuliaan jiwa.
BACA JUGA: Rasulullah, Suami yang Romantis
Al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata: “Tidak ada kemuliaan yang lebih tinggi bagi seorang lelaki dibandingkan akhlaknya yang lembut terhadap keluarganya.”
Begitu pula, Rasulullah ﷺ — manusia paling mulia — adalah teladan terbaik dalam kelembutan terhadap istri-istrinya. Beliau bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya, dan aku adalah yang paling baik di antara kalian terhadap keluargaku.” (HR. Tirmidzi)
Maka, suami yang mampu menahan amarah, memaafkan kesalahan istrinya, dan tetap menunaikan haknya dengan sabar — dialah suami yang sejati, yang dimuliakan di sisi Allah.
2. Suami yang Buruk Akhlak — Kasar dan Menakutkan
Sebaliknya, suami yang buruk perangainya seringkali keras dan mudah marah. Ucapannya menyakitkan, perbuatannya menakutkan. Istri tidak menaatinya karena cinta, tetapi karena takut. Ia diam bukan karena ridha, melainkan karena khawatir pukulan dan amarah suaminya akan meledak kapan saja.
Padahal, kehidupan rumah tangga yang dibangun di atas ketakutan tidak akan pernah menghadirkan ketenangan.
Ibnu Qayyim rahimahullah mengingatkan: “Sesungguhnya kasih sayang dan kelembutan mampu menundukkan hati yang keras, sementara kekerasan hanya akan melahirkan kebencian dan jarak.”
Berapa banyak perempuan yang bertahan hidup bersama suami semacam ini — bukan karena bahagia, tetapi karena memikirkan anak-anak, atau takut dengan pandangan masyarakat terhadap status janda. Padahal, rumah tangga tanpa kasih sayang hanyalah tempat tinggal, bukan tempat berteduh.
Menyeimbangkan Cinta dan Wibawa
Istri memang butuh dipahami dan diperhatikan. Namun suami pun butuh dihargai dan dihormati. Kelembutan tanpa wibawa akan membuat istri sulit menaruh respek, sementara ketegasan tanpa kasih akan membuat istri kehilangan cinta.
Karena itu, Imam al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata: “Orang beriman adalah yang paling lembut hatinya, tetapi paling tegas dalam menegakkan kebenaran.”
BACA JUGA: Hukum Memisahkan Antara Suami Isteri dengan Sihir
Inilah keseimbangan yang diajarkan Islam: menjadi suami yang lembut tanpa kehilangan wibawa, dan tegas tanpa kehilangan kasih sayang.
Doa Penutup
Semoga Allah menjadikan rumah tangga kita dipenuhi rahmat, saling menghormati, dan saling memuliakan. Karena hakikat kebahagiaan bukan pada siapa yang menang dalam perdebatan, tetapi pada siapa yang paling banyak bersabar dan berlapang dada.
Sebagaimana doa yang sering dipanjatkan oleh hamba-hamba yang shalih: “Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan dan keturunan yang menjadi penyejuk hati kami, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan: 74) []
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

