Home Nasihat Ulama3 Penyempurna Iman

3 Penyempurna Iman

Tiga hal ini—menahan diri saat marah, bersikap adil saat ridha, dan amanah saat berkuasa—adalah cerminan kesempurnaan iman dan kematangan hati.

by Abu Umar
0 comments 113 views

Sarri as-Saqathi rahimahullah berkata :

ثلاث مَن كُنّ فيه استكمل الإيمان: مَن إِذَا غضب لم يخرجه غضبه عن الحقّ، وَ إِذَا رضي لم يخرجه رضاه إلى الباطل، وَ إِذَا قدر لم يتناول ما ليس له

“Ada tiga hal yang apabila seluruhnya terdapat pada seseorang, dia telah menyempurnakan keimanannya:
1. Jika dia marah, amarahnya tidak mengeluarkan dirinya dari kebenaran.
2. Jika ia ridha, keridhaannya tidak mengantarkannya menuju kebatilan.
3. Jika ia sedang berkuasa, dia tidak mengambil apa yang bukan miliknya.”

📚 Shifatush Shafwah hlm. 365

1. Jika Ia Marah, Amarahnya Tidak Mengeluarkannya dari Kebenaran

Marah adalah sifat manusiawi yang tidak mungkin dihapus sepenuhnya, namun seorang mukmin sejati mampu mengendalikan amarahnya agar tetap dalam koridor kebenaran. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Bukanlah orang kuat itu yang menang dalam gulat, tetapi orang kuat adalah yang mampu menahan dirinya ketika marah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

BACA JUGA:  Rasa Tanggung Jawab dan Iman kepada Akhirat dari Para Sahabat Nabi

Seorang yang beriman tidak membiarkan amarahnya menjadikannya zhalim, mencaci, memutus silaturahmi, atau melanggar hak orang lain. Ia menahan diri, berpikir sebelum bertindak, dan menjadikan rasa takut kepada Allah sebagai rem bagi emosinya.

Imam al-Ghazali rahimahullah menjelaskan bahwa amarah adalah ujian bagi keikhlasan seseorang. Bila dalam keadaan marah ia tetap menjaga lisan dan perbuatannya agar tidak melampaui batas, berarti ia telah menunjukkan tingkat keimanan yang matang dan dewasa secara spiritual.

2. Jika Ia Ridha, Keridhaannya Tidak Mengantarkannya Menuju Kebatilan

Ridha adalah sikap tenang terhadap takdir dan keputusan, baik yang menyenangkan maupun tidak. Namun, keridhaan yang benar tidak boleh menutup mata dari kebenaran atau membenarkan kebatilan.

Seorang mukmin tidak membiarkan rasa senang, cinta, atau loyalitasnya membuatnya condong kepada hal yang salah. Allah Ta‘ala berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penegak keadilan karena Allah, sekalipun terhadap dirimu sendiri atau orang tua dan kerabatmu.” (QS. An-Nisa’: 135)

Artinya, keridhaan seorang mukmin bukan berarti memihak secara buta. Ia tetap berpegang pada prinsip al-haqq (kebenaran), walau terhadap orang yang dicintai sekalipun.

Sebagaimana dikatakan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah: “Cinta dan ridha seseorang akan diuji pada saat kebenaran bertentangan dengan kepentingan pribadinya.”

Maka, orang yang sempurna imannya akan tetap teguh di atas kebenaran, meski rasa senang dan cinta mencoba menggoyahkan pendiriannya.

3. Jika Ia Berkuasa, Ia Tidak Mengambil Apa yang Bukan Miliknya

Inilah ujian terbesar bagi manusia: kekuasaan dan kemampuan. Banyak orang tampak jujur saat lemah, tetapi berubah ketika diberi wewenang.

Sarri as-Saqathi mengajarkan bahwa keimanan sejati terlihat ketika seseorang mampu menahan diri dari kezhaliman padahal ia mampu melakukannya.

Rasulullah ﷺ bersabda: “Tidak ada seorang hamba yang diberi kekuasaan oleh Allah atas rakyat, lalu ia mati dalam keadaan menipu rakyatnya, melainkan Allah haramkan surga baginya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Maka, seorang mukmin yang kuat imannya tidak akan memanfaatkan kedudukan untuk kepentingan pribadi. Ia sadar bahwa setiap kekuasaan adalah amanah, bukan kesempatan untuk mengambil keuntungan.

BACA JUGA:  Menjadi Kaya dengan Saudara Seiman

Umar bin Abdul Aziz rahimahullah pernah berkata: “Kekuasaan adalah ujian yang paling berat. Siapa yang menunaikannya dengan amanah, ia selamat; siapa yang mengkhianatinya, ia binasa.”

Penutup

Tiga hal ini—menahan diri saat marah, bersikap adil saat ridha, dan amanah saat berkuasa—adalah cerminan kesempurnaan iman dan kematangan hati.

Mereka yang mampu menjaga ketiganya adalah orang yang hatinya hidup dengan takut kepada Allah dan jiwanya tenang dengan keadilan. Ia tidak dikendalikan oleh emosi, cinta, atau kekuasaan, melainkan dikendalikan oleh iman dan rasa muraqabah (merasa diawasi Allah).

Sebagaimana perkataan indah dari Imam Sarri as-Saqathi ini, iman bukan sekadar keyakinan di hati, tetapi keseimbangan antara akal, emosi, dan tindakan di bawah cahaya petunjuk Allah. []

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

Ikuti kami di Facebook Humayro. Satu tempat untuk pembelajaran tiada henti. Pembelajaran setiap hari. Pembelajaran sepanjang hayat.

Subscribe

Subscribe my Newsletter for new blog posts, tips & new photos. Let's stay updated!

Humayro.com – Belajar Sepanjang Hayat.  Kantor : Jalan Taman Pahlawan Gg. Ikhlas No. 2 RT18/RW 08 Purwakarta 41119