Tidak sedikit orangtua yang terkadang memilih jalan pintas untuk menenangkan anak-anaknya atau sekadar mendapatkan perhatian mereka. Cara yang dianggap praktis ini biasanya berupa menakut-nakuti anak dengan hal-hal yang sebenarnya tidak ada, atau menjanjikan sesuatu yang disenangi anak tanpa kejelasan kapan janji itu akan dipenuhi.
Sekilas, cara ini mungkin berhasil. Anak tampak tenang, atau memberikan perhatian penuh. Namun, di balik ketenangan sesaat itu tersimpan bahaya besar. Ia bisa berbuah menjadi kebiasaan yang membekas dalam hati anak hingga dewasa.
Anak-anak, terutama pada usia dini, berada dalam fase meniru. Mereka belajar dari apa yang mereka lihat dan dengar. Sosok pertama yang paling mereka teladani tentu saja orangtua. Maka, jika orangtua terbiasa berdusta meski dalam hal kecil, anak akan mencatatnya sebagai sesuatu yang wajar. Kebohongan akan dipandang lumrah, dan ini menjadi benih yang berbahaya bagi akhlak mereka di masa depan.
BACA JUGA: Iblis Berencana Memperdaya Anak Cucu Adam
Rasulullah ﷺ dengan tegas memperingatkan hal ini. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau bersabda: “Barangsiapa yang mengatakan pada seorang anak kecil, ‘Kemarilah aku beri sesuatu,’ namun ia tidak memberinya, maka itu adalah suatu kedustaan.” (HR. Ahmad)
Hadis ini menunjukkan betapa Islam menaruh perhatian besar terhadap kejujuran, bahkan dalam hal yang dianggap sepele. Orangtua tidak boleh meremehkan janji kepada anak, karena anak adalah amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah.
Imam Abdullah bin Mubarak rahimahullah pernah berkata, “Dasar dari seluruh akhlak yang baik adalah kejujuran, sedangkan dasar dari seluruh akhlak yang buruk adalah dusta.” Maka, ketika orangtua mengajarkan jujur sejak dini, sejatinya mereka sedang menanam pondasi akhlak mulia dalam diri anak-anaknya.
BACA JUGA: Anak yang Berbakti Itu
Begitu pula nasihat dari Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah, “Anak-anakmu adalah bagian darimu, maka perbaikilah dirimu, niscaya mereka pun akan baik.” Kalimat ini mengingatkan kita bahwa anak adalah cerminan dari sikap dan perilaku orangtuanya. Jika orangtua menjaga lisan dan janji, anak pun akan tumbuh dalam kejujuran.
Mendidik dengan kejujuran berarti menjaga adab, bahkan dalam bercanda. Sebab candaan yang mengandung dusta tetaplah dusta. Orangtua adalah cermin, tempat anak-anak berkaca. Mereka memantulkan apa yang mereka lihat pada kita.
Oleh karena itu, mari jaga kejujuran di hadapan anak-anak. Jangan menakut-nakuti mereka dengan hal yang tidak nyata, jangan pula menjanjikan sesuatu tanpa kepastian. Jadikan rumah sebagai tempat mereka tumbuh dalam kebenaran, sehingga kelak mereka menjadi generasi yang amanah, jujur, dan diridhai Allah Ta’ala. []
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

