Abu Hanifah adalah dokter hati dan ulama, benteng kokoh bagi berbagai permasalahan dan persoalan rumit. Suatu hari, Sa’dan bin Sa’id duduk di antara sahabat-sahabatnya menceritakan kemuliaan dan keagungan Abu Hanifah. la berkata, “Abu Hanifah adalah dokter umat ini karena kebodohan adalah rumah tanpa batas, sedangkan ilmu adalah penyakit yang tidak ada batasnya. la kemudian menjelaskan ilmu ini dengan jelas dan memadai dimana kebodohan lenyap karenanya.” (Manaqib Al-Imam Al-A’zham, II: 35)
Wahai Abu Hanifah! Takutlah kepada Allah!
Suatu ketika, seseorang menemui Abu Hanifah sambil ber-teriak kencang, “Wahai Abu Hanifah, takutlah kepada Allah.” Abu Hanifah terguncang dan pucat pasi. la menundukkan kepala ke tanah lama sekali. Setelah itu ia mengangkat kepala sambil berkata, “Semoga Allah memberikan balasan baik kepadamu. Orang-orang setiap saat sangat memerlukan seseorang yang berkata seperti ini kepada mereka.” (Siyar A’lamin Nubala, VI: 401)
BACA JUGA: Kepiawaian Abu Hanifah
Dia Itu Abu Hanifah
Di Hijir Ka’bah, seorang imam agung Ja’far bin Muhammad Ash-Shadiq duduk membaca tahlil, takbir, dan berddzikir. Abu Hanifah kemudian datang dan mengucapkan salam. Ja’far Ash-Shadiq menjawab salamnya lalu merangkulnya, menanyakan kondisinya, keluarganya, dan menanyakan apa yang ia bisa bantu untuknya.
Setelah itu Abu Hanifah duduk sesaat bersamanya, kemudian pergi. Seseorang berkata kepada Ja’far Ash-Shadiq, “Wahai anak Rasulullah! Tadi aku melihatmu mengenal orang itu.”
Ja’far berkata, “Tidak pernah aku melihat seorang pun yang lebih bodoh darimu. Aku menanyakan tentang keluarganya dan apa yang bisa aku lakukan untuknya, lalu engkau berkata, “Kau mengenali orang itu?” Dia itu Abu Hanifah, penduduk Kufah yang paling faqih.” (Manaqib Abi Hanifah, Al-Kurdi, II: 33)
Bergurulah kepada Abu Hanifah
Jarir pernah duduk di dekat Mughirah bin Qasyim untuk be-lajar darinya. Mughirah kemudian berkata kepadanya, “Bergurulah kepada Abu Hanifah. Andai Ibrahim At-Tadha’i masih hidup, tentu ia perlu berguru (kepada Abu Hanifah), meski ia pandai berbicara tentang halal dan haram. ” (Siyar A’lamin Nubala, VI: 404, Manaqib Abi Hanifah, Al-Kurdi, II: 62)
Air Mata Abu Hanifah
Pada waktu menjelang Subuh, syaikh ahli ibadah, Abu Hani-fah, berdiri di mihrab di hadapan Rabbnya, menghidupkan malam dengan suara merdu dan khusyuk. la terus mengharumkan suasana dengan membaca kalam Rabb seluruh alam hingga sampai pada firman-Nya:
بَلِ السَّاعَةُ مَوْعِدُهُمْ وَالسَّاعَةُ أَدْهَى وَأَمَرُ
“Bahkan hari kiamat itulah hari yang dijanjikan kepada mereka dan hari kiamat itu lebih dahsyat dan lebih pahit.” (Al-Qamar [54]:46)
Air matanya berderai, menangis, dan berdoa hingga fajar.
BACA JUGA: Kepiawaian Abu Hanifah
Cinta Ahlul Bait
Di Masjidil Haram, Abu Hanifah An-Nu’man duduk dikelilingi kerumunan orang dan para penuntut ilmu yang bertanya kepada-nya. Ja’far bin Muhammad Ash-Shadiq kemudian berdiri di hadapannya. Begitu melihatnya berdiri, Abu Hanifah langsung berdiri dan berkata seraya mencintai Ahlul Bait, “Wahai anak Rasulullah, andai aku menyadari dirimu saat engkau berdiri, tentu aku berdiri karena aku tidak ingin Allah melihatku duduk sementara engkau berdiri.” Ja’far berkata, “Duduklah Abu Hanifah dan jawablah pertanyaan orang-orang, karena seperti inilah aku menjumpai ayah-ayahku.” (Manaqib Al-Imam Al-Azham, II 66 []
Sumber: 100 Qishatan wa Qishah min Hayati Al Imam Abi Hanifah An-Nu man -100 Qishatan wa Qishah min Hayati Al Imam Malik bin Anas – 100 Qishatan wa Qishah min Hayati Al Imam Asy-Syafii – 100 Qishatan wa Qishah min Hayati Al Imam Ahmad bin Hanbal (400 Kisah Hidup Imam Empat Madzhab) /Penulis: Dr Muhammad Shiddiq Al-Minsyawi / Penerbit: Zam Zam Cetakan V: September 2023
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

