Tertidur, Apakah Membatalkan Wudhu?
Islam juga tidak mengajarkan kita untuk berlebih-lebihan dalam keraguan.
Islam juga tidak mengajarkan kita untuk berlebih-lebihan dalam keraguan.
Pagi yang dimulai dengan mengingat Allah juga dapat memberikan ketenangan dan kekuatan kepada hati.
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, "Kemuliaan seorang mukmin terletak pada qiyamul lail."
Sebelum memejamkan mata, tanyakan pada diri sendiri: sudahkah hari ini membuat Allah ridha?
Seorang muslim tidak boleh mengambil gaji secara penuh tetapi tidak menunaikan pekerjaannya secara benar.
Jika seseorang terbiasa bermalas-malasan, ia akan semakin sulit melakukan ibadah. Ia juga akan merasa berat untuk bekerja dan beramal saat berpuasa.
Ramadhan adalah musim pahala. Orang cerdas bukan yang sekadar sah puasanya.
Puasa orang yang banyak tidurnya memang sah secara hukum. Tetapi Ramadhan bukan bulan untuk “lolos tanpa batal”. Ia adalah bulan untuk naik…
Ketika bangun tidur, Nabi ﷺ memulai hari dengan syukur, membaca, “Alhamdulillahilladzi ahyaanaa ba’da maa amaatanaa.”
Tidak kalah penting, tidur dengan hati yang bersih, tanpa kebencian dan dendam kepada sesama muslim.
Sungguh, muhasabah sebelum tidur adalah amalan ringan namun bernilai besar. Mari kita rutinkan, karena tak ada jaminan kita bangun kembali esok hari.
Tidur ringan (mengantuk) di mana masih merasakan sesuatu, sebagaimana yang disebutkan di depan, maka hal itu tidak membatalkan wudhu.