Rasulullah ﷺ Berperan dalam Perang Fijâr
Perang ini dinamakan "Perang Fajar" karena ternodainya kesucian bulan-bulan Haram, yaitu awal bulan Drulqadah.
Perang ini dinamakan "Perang Fajar" karena ternodainya kesucian bulan-bulan Haram, yaitu awal bulan Drulqadah.
Alangkah gembiranya hatinya. Kemudian ia pulang menemui istrinya dan menceritakan apa yang terjadi.
Ibunya bernama Hantamah binti Hisyam bin al-Mughirah. Ibunya adalah saudari tua dari Abu Jahal bin Hisyam.
Dari Abu Sa‘id al-Khudri diriwayatkan, Nabi ﷺ bersabda, “Semoga syafaatku bermanfaat baginya pada hari kiamat, sehingga ia ditempatkan di neraka yang dangkal—api…
Beliau berkata, 'Aku ingin mendengar bacaan Al-Qur'an dari orang lain.'
Di tengah kondisi lemahnya, rupanya istri ‘Ali bin Abi Thalib ini memikirkan suatu hal penting yang kini dianggap remeh oleh sebagian kaum…
Oleh karena itu apabila ada orang yang beum mengenalnya bertanya, “Siapa engkau?” Abu Bakar akan menjawab, “Aku adalah orang yang tersesat.”
Permusuhan terhadap dakwah sering dimulai dari orang terdekat. Kesabaran keluarga Nabi ﷺ adalah bagian dari keteguhan dakwah.
Terkejutlah Abdullah mendengar jawaban dari anak penggembala tersebut. Ia memutuskan untuk menguji keimanan dan sifat amanah yang dimiliki oleh anak tersebut.
“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan yang sempurna, sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai.”
Di rumah-rumah sahabat, akhlak beliau tumbuh. Dalam suapan sederhana, ajaran besar diwariskan.
Begitu tingginya kedudukan Aisyah di mata Allah, sehingga ketika terjadi kasus fitnah terhadap dirinya (Haidthat Al-Ifk), Allah menurunkan 10 ayat dalam Surat…