Abu Thalhah dikenal di Madinah.
Ia kaya.
Sangat kaya.
Hartanya berupa kebun-kebun kurma.
Pohon-pohon yang berbuah lebat.
Dan tanah-tanah yang subur.
Namun ada satu yang paling ia cintai.
Bairuha namanya.
Sebidang tanah yang indah.
Letaknya dekat masjid.
Berhadapan langsung dengannya.
Airnya segar.
Menyejukkan dahaga.
BACA JUGA: Berapa Jumlah Sahabat Nabi ﷺ?
Rasulullah ﷺ sering memasukinya.
Beliau minum dari airnya.
Dan menikmati kesejukannya.
Suatu hari, langit menurunkan ayat.
Ayat tentang kebajikan.
Ayat tentang cinta dan pengorbanan.
“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan yang sempurna, sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai.”
Ayat itu mengetuk hati.
Menggetarkan jiwa Abu Thalhah.
Ia bangkit.
Langkahnya mantap.
Menuju Rasulullah ﷺ.
Ia berkata dengan jujur.
Tanpa ragu.
“Hartaku yang paling aku cintai adalah Bairuha.”
“Aku sedekahkan tanah itu karena Allah.”
“Aku mengharap pahalanya.”
“Aku simpan di sisi-Nya.”
Ia serahkan sepenuhnya.
Tanpa syarat.
Tanpa penyesalan.
Rasulullah ﷺ tersenyum.
Lalu bersabda dengan penuh makna.
“Engkau beruntung.”
“Ini harta yang menguntungkan.”
“Ini harta yang menguntungkan.”
Kemudian beliau memutuskan.
Bairuha diberikan.
Untuk kerabat beliau.
BACA JUGA: 10 Sahabat Nabi ﷺ yang Dijamin Masuk Surga (1)
Abu Thalhah tidak menolak.
Tidak menyesal.
“Lakukanlah, wahai Rasulullah.”
Bairuha pun dibagi.
Untuk keluarga.
Untuk kerabat.
Dan di langit.
Allah mencatat.
Bahwa kebajikan sejati.
Lahir dari hati yang rela.
Melepas yang paling dicintai. []
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

