Di Makkah yang kering dan tua oleh ingatan, sakit Abu Thalib kian menggerogoti tubuhnya. Nafasnya memendek, dadanya naik turun seperti bukit yang lelah menahan angin. Hari-hari terakhirnya berjalan pelan, seolah waktu sendiri enggan beranjak.
Hingga pada bulan Rajab, tahun kesepuluh dari nubuwah—enam bulan selepas keluar dari kepungan boikot yang pahit—ia menutup mata. Ada pula yang berkata, ia wafat di bulan Ramadhan, tiga bulan sebelum kepergian Khadijah radhiyallahu ‘anha. Yang pasti, Makkah kala itu kehilangan satu penyangga, dan Muhammad ﷺ kehilangan paman yang paling lama berdiri di sisinya.
Di saat ajal mengintai, Rasulullah ﷺ mendatangi pembaringannya. Di ruangan itu, bayang-bayang juga hadir: Abu Jahal dan Abdullah bin Abu Umayyah, dua suara yang tak pernah letih memadamkan cahaya. Nabi ﷺ mendekat, dengan hati yang penuh harap dan doa yang tertahan di dada.
BACA JUGA: Rasulullah pada Ibnu Mas’ud: Bacakan Al-Quran di Hadapanku
“Wahai pamanku,” sabda beliau lembut, seakan ingin menenangkan detak yang kian rapuh, “ucapkanlah la ilaha illallah. Satu kalimat yang dengannya aku akan membelamu di hadapan Allah.”
Namun suara lain segera menyela—kasar, mengikat, dan berat oleh tradisi. “Wahai Abu Thalib,” kata mereka, “apakah engkau hendak meninggalkan agama Abdul Muththalib?”
Pertanyaan itu berulang, menghantam seperti palu pada batu yang telah retak. Hingga kalimat terakhir yang keluar dari bibir Abu Thalib—kalimat yang menutup riwayat panjangnya—adalah kesetiaan kepada agama leluhur. Ia memilih jejak nenek moyang, bukan jalan yang kini terbentang terang di hadapannya.
Rasulullah ﷺ menunduk. Di antara cinta dan ketaatan, beliau berdiri. “Aku akan memohonkan ampun untukmu, wahai pamanku,” ucap beliau, “selama aku tidak dilarang.”
Lalu langit menurunkan ketetapan-Nya. Firman Allah turun menegur perasaan yang paling manusiawi: “Tidak sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun kepada Allah bagi orang-orang musyrik, walaupun mereka kerabat, setelah jelas bagi mereka bahwa orang-orang itu penghuni neraka.”
Dan turun pula ayat yang mengajarkan batas cinta: “Sesungguhnya engkau tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki.”
Tak terhitung perlindungan yang telah Abu Thalib bentangkan. Ia adalah benteng yang berdiri di depan badai, perisai yang menahan ejekan, ancaman, dan kebodohan. Bersamanya, dakwah Islam bernafas lebih lapang di lorong-lorong Makkah. Namun takdir iman tidak diwariskan oleh darah, dan keselamatan tidak ditentukan oleh jasa semata.
Al-‘Abbas bin Abdul Muththalib pernah berkata kepada Nabi ﷺ, mengenang paman yang keras namun setia, “Engkau sangat membutuhkan pamanmu; ia melindungimu, meski sering membuatmu murka.”
BACA JUGA: Rasulullah Memuliakan Tukang Sapu
Rasulullah ﷺ menjawab dengan kejujuran yang pahit dan rahmat yang tetap mengalir, “Ia berada di neraka yang dangkal. Kalau bukan karena aku, niscaya ia berada di lapisan neraka yang paling bawah.”
Dari Abu Sa‘id al-Khudri diriwayatkan, Nabi ﷺ bersabda, “Semoga syafaatku bermanfaat baginya pada hari kiamat, sehingga ia ditempatkan di neraka yang dangkal—api hanya sampai tumitnya.”
Demikianlah kisah Abu Thalib: seorang paman yang menjaga Nabi dengan seluruh keberaniannya, namun berhenti di ambang keimanan. Kisah yang mengajarkan bahwa cinta bisa menguatkan langkah, tetapi hidayah adalah anugerah. Dan bahwa di balik kesedihan paling sunyi, ketaatan tetap menjadi jalan yang harus ditempuh—meski hati ingin memeluk lebih lama. []
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

