Hadirnya hati merupakan suatu keharusan dalam shalat. Fokus hati yang terkadang memudar memang dapat ditoleransi, tetapi hadirnya hati pada awal shalat biasanya akan memengaruhi gerakan-gerakan shalat setelahnya.
Esensi batin yang dapat menyempurnakan ibadah shalat seseorang antara lain sebagai berikut.
**Pertama, menghadirkan hati.**
Hadirnya hati berarti mengosongkan hati dari berbagai hal yang tidak berkaitan dengan shalat. Untuk mencapai keadaan tersebut, seseorang membutuhkan perhatian penuh.
BACA JUGA: Khusyuk, Ruh dari Shalat
Jika ada sesuatu yang menarik perhatian, secara otomatis hati akan hadir di dalamnya. Karena itu, tidak ada cara yang lebih utama untuk menghadirkan hati dalam shalat selain memberikan perhatian penuh kepada shalat itu sendiri.
Kekuatan perhatian seseorang dalam shalat berbeda-beda. Hal itu bergantung pada kuat atau lemahnya iman kepada akhirat serta kesadaran terhadap tercelanya kehidupan dunia.
Karena itu, ketika merasa hati tidak hadir dalam shalat, hendaknya seseorang berusaha memperkuat imannya.
**Kedua, memahami bacaan dalam shalat.**
Memahami bacaan merupakan salah satu faktor yang membantu menghadirkan hati. Akan sangat sulit membuat hati benar-benar hadir hanya dengan ucapan yang tidak dipahami maknanya.
Karena itu, orang yang sedang shalat sebaiknya memusatkan perhatian pada makna bacaan yang diucapkannya dan membuang jauh-jauh hal-hal yang mengganggu pikirannya.
Gangguan tersebut terkadang berupa sesuatu yang tampak, seperti gambar yang dilihat mata atau suara yang didengar telinga. Namun, gangguan juga bisa berasal dari sesuatu yang tidak tampak.
Gangguan yang berasal dari dalam hati justru sering kali lebih sulit diatasi. Seseorang bisa saja memikirkan berbagai urusan dunia ketika sedang shalat. Bahkan ketika ia memejamkan mata, pikirannya tetap dapat bercabang ke banyak hal.
Cara mengatasi gangguan dari luar adalah menjauhkan berbagai hal yang dapat mengganggu konsentrasi melalui mata dan telinga. Misalnya, mendekatkan diri kepada kiblat, melihat tempat sujud, serta menghindari tempat yang dipenuhi tulisan atau gambar.
BACA JUGA: Mengikuti Imam dalam Shalat Berjamaah
Nabi Muhammad ﷺ pernah melaksanakan shalat dengan mengenakan Anbijaniyah yang terdapat gambar di dalamnya. Beliau kemudian mencopotnya dan bersabda, “Tadi gambar-gambar itu telah melalaikanku dari shalatku.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Adapun jika gangguan berasal dari dalam pikiran, seseorang perlu mengembalikan perhatiannya kepada bacaan shalat. Jiwa harus diarahkan kembali kepada apa yang sedang dibaca sehingga tidak terus mengikuti pikiran yang bercabang.
Persiapan sebelum shalat juga penting. Selesaikan berbagai urusan yang dapat menyibukkan pikiran, lalu kosongkan hati dan pikiran untuk menghadap Allah.
Perbaruilah ingatan tentang akhirat, bayangkan pertemuan dengan Allah, dan ingatlah betapa beratnya keadaan ketika manusia dibangkitkan tanpa membawa amal yang memadai. []
Sumber: Mukhtashar Minhaj al-Qashidîn (Rahasia Hidup Orang-orang Shaleh) / Penulis: Ibnu Qudamah / Penerbit: al-Maktab al-Islami (Khatuliswa Pers) / Tahun Terbit ?/Cet.: 2000/Kesembilan
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

