Home MuamalahMenyembunyikan Rasa Kecewa

Menyembunyikan Rasa Kecewa

Tanyakan kepada diri sendiri: apakah perkataan yang hendak aku sampaikan akan memperbaiki keadaan, atau justru memperbesar masalah?

by Abu Umar
0 comments 6 views

Tidak semua yang kita ketahui layak diungkapkan. Demikian pula, tidak setiap rasa kecewa harus ditampakkan kepada orang lain.

Ada kalanya kita merasa terluka oleh ucapan seseorang. Kecewa karena perlakuan orang lain. Marah karena sesuatu yang tidak sesuai harapan.

Namun, seorang Muslim belajar untuk tidak selalu menuruti apa yang dirasakan oleh hatinya.

Al-Qur’an memberikan gambaran yang sangat menarik tentang Nabi Yusuf ‘alaihissalam ketika menghadapi saudara-saudaranya.

Allah Ta’ala berfirman,

فَأَسَرَّهَا يُوسُفُ فِي نَفۡسِهِۦ وَلَمۡ يُبۡدِهَا لَهُمۡۚ

“Maka Yusuf menyembunyikan kejengkelan itu dalam hatinya dan tidak ditampakkannya kepada mereka.” (QS. Yusuf: 77).

BACA JUGA:  Keutamaan Menyembunyikan Amal Saleh

Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan bahwa Nabi Yusuf ‘alaihissalam menyimpan apa yang ada dalam hatinya dan tidak menampakkannya kepada mereka.

Perhatikan sikap ini.

Yusuf memiliki alasan untuk merasa kecewa. Saudara-saudaranya dahulu telah melakukan sesuatu yang sangat berat terhadap dirinya. Namun ketika mereka kembali bertemu, beliau tidak menjadikan luka masa lalu sebagai alasan untuk melampiaskan segala perasaan.

Ini bukan berarti setiap rasa kecewa harus dipendam selamanya.

Bukan pula berarti seseorang tidak boleh menyampaikan keberatan atau mencari penyelesaian ketika dizalimi.

Namun, ada perbedaan antara menyelesaikan masalah dan melampiaskan emosi.

Tidak semua yang ada di dalam hati harus segera keluar melalui lisan.

Terkadang diam jauh lebih bijaksana daripada berbicara dalam keadaan marah.

Sebab satu kalimat yang keluar ketika emosi bisa melukai hati seseorang bertahun-tahun. Sementara kalimat tersebut mungkin hanya membutuhkan beberapa detik untuk diucapkan.

Maka, ketika kecewa, berikan waktu kepada hati untuk tenang.

Jangan terburu-buru menulis pesan.

Jangan langsung membalas perkataan.

Jangan mengumbar masalah kepada banyak orang.

Tanyakan kepada diri sendiri: apakah perkataan yang hendak aku sampaikan akan memperbaiki keadaan, atau justru memperbesar masalah?

BACA JUGA:  Doa Orang yang Bersedih

Ada rasa kecewa yang cukup kita sampaikan kepada Allah melalui doa.

Ada luka yang lebih baik kita serahkan kepada-Nya.

Dan ada kesalahan orang lain yang lebih mulia jika kita memilih memaafkannya.

Sebab menahan diri bukan selalu tanda kelemahan.

Terkadang, kemampuan untuk tidak membalas ketika kita mampu melakukannya adalah bentuk kekuatan.

Semoga Allah mengajarkan kita untuk menjaga lisan, mengendalikan emosi, dan menyimpan sebagian rasa kecewa demi kebaikan yang lebih besar.

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

Ikuti kami di Facebook Humayro. Satu tempat untuk pembelajaran tiada henti. Pembelajaran setiap hari. Pembelajaran sepanjang hayat.

Subscribe

Subscribe my Newsletter for new blog posts, tips & new photos. Let's stay updated!

Humayro.com – Belajar Sepanjang Hayat.  Kantor : Jalan Taman Pahlawan Gg. Ikhlas No. 2 RT18/RW 08 Purwakarta 41119