Takwa sering kita dengar dalam nasihat dan kajian. Namun, sudahkah kita memahami seperti apa sebenarnya takwa yang Allah kehendaki?
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ
“Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya.” (QS. Ali ‘Imran: 102)
Ayat ini mengandung perintah yang sangat agung. Takwa bukan sekadar ucapan di lisan, tetapi harus terlihat dalam sikap dan kehidupan seorang Muslim.
Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu menjelaskan makna haqqa tuqatih dengan perkataan:
أن يطاع فلا يعصى، وأن يذكر فلا ينسى، وأن يشكر فلا يكفر
“Hendaklah Allah ditaati dan tidak dimaksiati, senantiasa diingat dan tidak dilupakan, serta disyukuri dan tidak diingkari.” (Tafsir Ibnu Katsir)
BACA JUGA: 5 Indikator Takwa
Perkataan Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu ini memberikan gambaran yang sangat jelas tentang takwa.
Allah ditaati dan tidak dimaksiati. Seorang yang bertakwa berusaha menjalankan perintah Allah dan meninggalkan larangan-Nya. Ketika sendirian maupun di hadapan manusia, ia tetap merasa diawasi oleh Allah.
Allah senantiasa diingat dan tidak dilupakan. Hatinya tidak hanya sibuk dengan dunia. Ia menjaga shalat, memperbanyak zikir, membaca Al-Qur’an, berdoa, dan mengingat Allah dalam berbagai keadaan.
Allah disyukuri dan tidak diingkari. Ia menyadari bahwa segala nikmat berasal dari Allah. Karena itu, nikmat tersebut digunakan untuk ketaatan, bukan untuk bermaksiat kepada-Nya.
Takwa bukan berarti seseorang tidak pernah berbuat dosa. Manusia pasti memiliki kekurangan. Namun, orang yang bertakwa tidak merasa nyaman dengan kemaksiatan. Ketika tergelincir, ia segera bertaubat dan kembali kepada Allah.
BACA JUGA: Takwa, Jalan Keselamatan di Zaman Penuh Fitnah
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13)
Maka, jangan sibuk mengejar kemuliaan di mata manusia sementara melupakan kedudukan kita di sisi Allah.
Sebab, kemuliaan yang sebenarnya bukanlah ketika manusia memuji kita, tetapi ketika Allah melihat kita sebagai hamba yang bertakwa. []
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

