Iman bukan hanya tentang apa yang diucapkan oleh lisan. Iman juga terlihat dari bagaimana seseorang bersikap ketika menghadapi berbagai keadaan.
Saat marah, bagaimana ia bertindak?
Saat senang dan mencintai seseorang, apakah ia tetap adil?
Saat memiliki kekuasaan, apakah ia mampu menahan diri?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting. Sebab, perubahan keadaan sering kali menunjukkan keadaan hati seseorang yang sebenarnya.
Sarri as-Saqathi rahimahullah berkata:
ثلاث مَن كُنّ فيه استكمل الإيمان: مَن إِذَا غضب لم يخرجه غضبه عن الحقّ، وَ إِذَا رضي لم يخرجه رضاه إلى الباطل، وَ إِذَا قدر لم يتناول ما ليس له
“Ada tiga hal yang apabila seluruhnya terdapat pada seseorang, dia telah menyempurnakan keimanannya: jika ia marah, amarahnya tidak mengeluarkan dirinya dari kebenaran; jika ia ridha, keridhaannya tidak mengantarkannya menuju kebatilan; dan jika ia berkuasa, dia tidak mengambil apa yang bukan miliknya.” (Shifatush Shafwah, hlm. 365)
BACA JUGA: Firaun dan Keimanan Asiyah
1. Ketika Marah, Tetap Berada di Atas Kebenaran
Marah adalah tabiat manusia.
Namun, yang menjadi masalah bukan sekadar munculnya rasa marah. Masalahnya adalah ketika amarah membuat seseorang kehilangan kendali.
Ia berkata kasar.
Ia menuduh tanpa bukti.
Ia menyebarkan aib.
Ia menzalimi orang lain.
Bahkan, terkadang ia melakukan sesuatu yang sebenarnya ia sesali setelah emosinya reda.
Seorang mukmin harus belajar mengendalikan amarah.
Jika sedang marah kepada seseorang, jangan sampai kebencian membuat kita mengatakan sesuatu yang tidak benar.
Kebenaran tetaplah kebenaran meskipun kita tidak menyukai orang yang berada di pihaknya.
2. Ketika Ridha, Tidak Terjerumus kepada Kebatilan
Sebagaimana marah bisa membuat seseorang berbuat zalim, rasa cinta dan kesenangan juga bisa membuat seseorang kehilangan keadilan.
Ketika menyukai seseorang, jangan sampai kita membenarkan semua kesalahannya.
Ketika mencintai keluarga, jangan sampai kita membela mereka dalam kebatilan.
Ketika mengagumi seorang tokoh, jangan sampai kita menganggap semua perkataannya pasti benar.
Cinta tidak boleh membuat kita menolak kebenaran.
Seorang mukmin harus tetap adil, bahkan kepada orang yang sangat dicintainya.
3. Ketika Berkuasa, Tidak Mengambil yang Bukan Haknya
Ujian kekuasaan adalah ujian yang berat.
Ketika seseorang memiliki kedudukan, jabatan, pengaruh, atau kemampuan untuk mengambil sesuatu, di situlah ketakwaannya diuji.
Apakah ia menggunakan kekuasaan untuk menolong?
Ataukah menggunakannya untuk mengambil keuntungan pribadi?
Apakah ia menjaga amanah?
Ataukah memanfaatkan jabatan untuk mendapatkan sesuatu yang bukan haknya?
Orang yang beriman akan memahami bahwa kekuasaan adalah amanah.
Ia tidak akan mengambil hak orang lain hanya karena memiliki kesempatan.
BACA JUGA: Keimanan Abu Bakar yang Luar Biasa
Iman Terlihat Ketika Keadaan Berubah
Tiga keadaan ini sangat dekat dengan kehidupan kita.
Marah menguji keadilan kita.
Ridha menguji kejujuran kita.
Kekuasaan menguji amanah kita.
Maka, jangan hanya menilai iman dari banyaknya ibadah yang terlihat.
Perhatikan pula bagaimana seseorang bersikap ketika emosinya tersulut, ketika hatinya sedang sangat menyukai sesuatu, dan ketika ia memiliki kekuasaan untuk melakukan apa saja.
Di situlah akhlak dan keimanan benar-benar diuji.
Semoga Allah menjadikan kita orang yang tetap berada di atas kebenaran ketika marah, tetap adil ketika mencintai, dan tetap amanah ketika memiliki kekuasaan. []
Sumber: Sarri as-Saqathi rahimahullah, Shifatush Shafwah, hlm. 365.
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

