Jangan pernah merasa ringan ketika menyampaikan ucapan seseorang kepada orang lain dengan tujuan merusak hubungan mereka.
Perbuatan itu disebut namimah, dan ia termasuk dosa yang sangat berbahaya bagi kehidupan kaum Muslimin.
Rasulullah ﷺ bersabda, «لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَتَّاتٌ» — “Tidak akan masuk surga orang yang suka mengadu domba.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Dalam riwayat lain disebutkan, “Orang yang paling buruk di sisi Allah adalah orang yang suka menyebarkan namimah dan merusak hubungan antara orang-orang yang saling mencintai.” (HR. Ahmad).
BACA JUGA: Ghibah dan Namimah
Bayangkan, lisan yang seharusnya digunakan untuk berdzikir justru dipakai untuk memecah persaudaraan.
Ia membawa satu kalimat dari sini kepada sana, lalu satu kalimat dari sana kembali ke sini.
Sedikit demi sedikit, kepercayaan berubah menjadi kecurigaan dan persaudaraan berubah menjadi permusuhan.
Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa namimah termasuk kerusakan yang dapat menghancurkan hubungan manusia dan menyalakan api permusuhan di antara mereka.
Orang yang suka mengadu domba mungkin merasa dirinya hanya “menyampaikan fakta”, padahal bisa jadi ia sedang menjerumuskan dirinya ke dalam dosa besar.
Tidak semua yang benar boleh disampaikan kepada semua orang, terlebih jika penyampaiannya hanya akan menimbulkan keburukan.
Allah Ta’ala berfirman, {هَمَّازٍ مَشَّاءٍ بِنَمِيمٍ} — “Yang suka mencela, yang kian ke mari menyebarkan fitnah.” (QS. Al-Qalam: 11).
Maka berhati-hatilah dengan lisan ketika mendengar keburukan tentang saudaramu.
Jangan menjadi kurir bagi setan yang membawa pertengkaran dari satu hati menuju hati yang lain.
Jika ucapan itu dapat memperbaiki keadaan, sampaikan dengan hikmah dan niat yang benar.
Namun jika hanya akan memperbesar masalah, diam sering kali jauh lebih selamat.
BACA JUGA: Jangan Fitnah Diri Sendiri
Imam Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah pernah berkata, “Barang siapa yang menyampaikan kepadamu perkataan seseorang tentangmu, maka ketahuilah bahwa orang itu telah menyampaikan perkataan orang lain tentangmu.”
Orang yang menjaga lisan sebenarnya sedang menjaga kehormatan saudaranya dan keselamatan dirinya sendiri.
Jangan sampai kita menjadi sebab dua Muslim saling membenci, sementara kita sendiri lupa bahwa kelak setiap ucapan akan dipertanggungjawabkan.
Saudaraku, jadilah orang yang menyatukan hati, bukan yang memecahnya.
Sebab seorang mukmin sejati bukanlah yang pandai membawa berita, tetapi yang pandai menjaga persaudaraan karena Allah. []
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

