Home MuamalahAntara Kata dan Diam: Timbangan Keselamatan Seorang Mukmin

Antara Kata dan Diam: Timbangan Keselamatan Seorang Mukmin

Diam, dalam pandangan para salaf, bukanlah kekosongan. Ia adalah penjagaan.

by Abu Umar
0 comments 83 views

Di suatu hari yang sunyi oleh hiruk pikuk dunia, seorang lelaki datang kepada Salman radhiyallahu ‘anhu. Langkahnya ringan, tetapi hatinya berat oleh gelisah. Ia berkata dengan kerendahan yang jujur, “Berilah aku wasiat.” Maka keluar dari lisan seorang sahabat Nabi itu sebuah kalimat yang ringkas namun tajam, “Janganlah engkau berbicara.”

Lelaki itu tertegun. Bagaimana mungkin manusia hidup tanpa bicara, sementara lidah adalah jembatan bagi hati? Ia pun bertanya dengan kejujuran yang lugu, “Bagaimana mungkin seseorang bersabar untuk tidak berbicara?” Salman menatapnya dengan pandangan yang dalam, seakan menimbang berat setiap kata, lalu menjawab, “Jika engkau tidak sanggup bersabar untuk diam, maka janganlah berbicara kecuali dengan kebaikan, atau diamlah.”

BACA JUGA:  Ilmu Tidak Boleh Diambil dari 4 Orang Ini

Di situlah rahasia diletakkan: antara kata dan diam terbentang sebuah timbangan. Setiap lisan memikul beban, setiap kalimat membawa akibat. Kata bisa menjadi cahaya yang menuntun, namun ia juga bisa menjadi api yang membakar. Lidah yang kecil itu kerap menyeret pemiliknya ke jurang yang tak disangka.

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu menegaskan nasihat itu dengan suara yang lebih tegas namun penuh kasih, “Wahai lisan, ucapkanlah kebaikan niscaya engkau beruntung, atau diamlah dari keburukan niscaya engkau selamat.” Seakan ia sedang berbicara langsung kepada bagian tubuh yang paling sering menyeret manusia pada penyesalan.

Berapa banyak persahabatan yang runtuh oleh satu kalimat? Berapa banyak hati yang luka oleh ucapan yang tak dijaga? Dan betapa seringnya kita menyesal setelah suara terlanjur terbang dari bibir kita. Kata tak bisa kembali. Ia seperti anak panah yang sudah meninggalkan busurnya.

BACA JUGA:  Lisan, Titian yang Menyelamatkan atau Menjerumuskan

Diam, dalam pandangan para salaf, bukanlah kekosongan. Ia adalah penjagaan. Ia adalah zikir yang tak bersuara. Ia adalah benteng bagi hati. Sedangkan bicara yang baik adalah sedekah, penenang, dan penuntun menuju keselamatan.

Maka marilah kita belajar menimbang sebelum mengucap. Jika yang akan lahir dari lidah adalah cahaya, biarkan ia menyinari. Namun jika yang akan keluar hanyalah gelap, biarlah ia terpenjara dalam diam. Sebab keselamatan sering kali terletak pada satu pilihan yang sederhana: berkata baik, atau memilih diam. []

Sumber: Ash-Shomt Libni Abi Ad-Dunia 44.

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

Ikuti kami di Facebook Humayro. Satu tempat untuk pembelajaran tiada henti. Pembelajaran setiap hari. Pembelajaran sepanjang hayat.

Subscribe

Subscribe my Newsletter for new blog posts, tips & new photos. Let's stay updated!

Humayro.com – Belajar Sepanjang Hayat.  Kantor : Jalan Taman Pahlawan Gg. Ikhlas No. 2 RT18/RW 08 Purwakarta 41119