Home SirahDakwah di Bukit Shafa

Dakwah di Bukit Shafa

Di sisi lain, berkembangnya Islam membuat kaum Quraisy Makkah sakit hati. Mereka sangat marah kepada Muhammad ﷺ dan agama Islam.

by Abu Umar
0 comments 4 views

Di suatu siang, Rasulullah ﷺ berdiri di Bukit Shafa. Bukit ini biasa digunakan oleh penduduk Makkah apabila hendak mengumumkan hal-hal yang penting. Angin gurun pasir berembus menerbangkan debu. Sebuah teriakan keras dilontarkan Rasulullah ﷺ dari bukit tersebut.

“Yā Ṣabāḥāh!”

Suara Rasulullah ﷺ memecah keheningan. Nabi akhir zaman itu lalu menyebut nama-nama suku Quraisy satu per satu.

“Wahai Bani Fihr, wahai Bani ‘Adi, wahai Bani ‘Abdu Manaf, wahai Bani ‘Abdul Muththalib!”

Panggilan itu terdengar hingga ke pelosok Makkah. Yā Ṣabāḥāh adalah kalimat peringatan yang mengabarkan adanya serangan musuh atau peristiwa besar. Mendengar panggilan itu, penduduk Makkah bertanya-tanya,

“Siapa yang memanggil-manggil itu?”

Sebagian mereka menjawab bahwa yang memanggil adalah Muhammad. Mereka pun berbondong-bondong datang ke Bukit Shafa, termasuk Abu Lahab. Karena menduga akan ada pengumuman penting, seluruh penduduk Makkah pergi ke Bukit Shafa. Bahkan, mereka yang berhalangan hadir mengirimkan utusan untuk melihat apa yang sedang terjadi.

BACA JUGA:  Cara Wahyu Diturunkan kepada Rasulullah Muhammad ﷺ

Dalam waktu singkat, orang-orang pun berkumpul. Rasulullah ﷺ kemudian membuka percakapan dengan sebuah pertanyaan,

“Bagaimanakah menurut pendapat kalian, jika aku memberi tahu bahwa ada segerombolan pasukan berkuda di lembah sana yang hendak menyerang kalian, apakah kalian akan memercayaiku?”

Nabi ﷺ bertanya dengan lantang.

Mereka menjawab serempak,

“Ya! Kami tidak pernah mengetahui darimu selain kejujuran.”

Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda,

“Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan kepada kalian tentang adanya azab yang pedih.”

Lalu beliau melanjutkan peringatannya,

“Wahai kaum Quraisy! Belilah diri kalian dari Allah! Selamatkanlah diri kalian dari api neraka, karena sesungguhnya aku tidak dapat memberikan manfaat maupun mudarat apa pun di sisi Allah, dan aku tidak mampu memberikan pembelaan untuk kalian.”

“Wahai orang-orang Bani Qushai, selamatkanlah diri kalian dari api neraka! Sesungguhnya aku tidak dapat memberikan mudarat maupun manfaat.”

“Wahai orang-orang Bani ‘Abdu Manaf, selamatkanlah diri kalian dari api neraka, karena sesungguhnya aku tidak dapat memberikan mudarat maupun manfaat. Aku tidak dapat memberikan perlindungan apa pun di sisi Allah.”

“Wahai Bani ‘Abdu Syams, selamatkanlah diri kalian dari api neraka! Wahai Bani Hasyim, selamatkanlah diri kalian dari api neraka!”

“Wahai Shafiyyah binti Abdul Muththalib, bibiku, aku tidak dapat memberikan perlindungan apa pun di sisi Allah.”

“Wahai Fathimah binti Muhammad, selamatkanlah dirimu dari api neraka, karena sesungguhnya aku tidak dapat memberikan mudarat maupun manfaat. Aku tidak dapat memberikan perlindungan apa pun di sisi Allah. Hanya saja, aku memiliki hubungan silaturahim dengan kalian yang akan aku tunaikan sesuai haknya.”

Setelah peringatan itu, orang-orang pun berpencar. Mereka tidak memberikan reaksi apa pun, kecuali Abu Lahab yang menghadang Rasulullah ﷺ dengan kata-kata kasar.

“Celakalah engkau sepanjang hari ini! Apakah hanya untuk ini engkau mengumpulkan kami?”

Rasulullah ﷺ tidak menjawab perkataan kasar Abu Lahab, karena Allah langsung menjawabnya melalui firman-Nya, “Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sungguh dia akan binasa.” (QS. Al-Lahab [111]: 1)

Peristiwa Bukit Shafa segera menyebar ke seluruh penjuru Makkah. Kalimat-kalimat yang sangat tegas dari Rasulullah ﷺ menjadi pembicaraan hangat. Makkah pun gempar. Allah kemudian menurunkan firman-Nya, “Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang musyrik.” (QS. Al-Hijr [15]: 94)

Sejak saat itu Rasulullah ﷺ mulai berdakwah secara terbuka. Beliau membacakan firman Allah kepada penduduk Makkah, “Wahai kaumku! Sembahlah Allah. Kalian tidak memiliki tuhan selain Dia.” (QS. Al-A’raf [7]: 59)

BACA JUGA:  Muhammad Al-Amin

Nabi ﷺ juga mulai memperlihatkan cara beribadah di hadapan semua orang. Rasulullah ﷺ mendirikan shalat di halaman Ka’bah pada siang hari secara terang-terangan. Dakwah yang beliau lakukan semakin mendapatkan sambutan sehingga orang-orang mulai masuk ke dalam agama Allah.

Mereka yang telah memeluk Islam sering mendapatkan ujian yang tidak mudah. Salah satunya adalah pertengkaran dengan anggota keluarga yang belum memeluk Islam. Di antara mereka timbul kebencian dan saling menjauhi. Mereka pun saling bermusuhan.

Di sisi lain, berkembangnya Islam membuat kaum Quraisy Makkah sakit hati. Mereka sangat marah kepada Muhammad ﷺ dan agama Islam. Jumlah kaum muslimin yang semakin banyak membuat mereka khawatir akan kehilangan kedudukan.

Fase-fase dakwah Islam pun mulai memasuki tahapan yang berat. Berbagai rintangan dan hadangan datang bagai gelombang. Hinaan, cacian, hingga teror fisik menjadi “teman akrab” Rasulullah ﷺ dan para sahabat. Namun, mereka tidak mundur sedikit pun demi tegaknya Islam di bumi Allah. []

Sumber: The Great Story of Muhammad ﷺ : Referensi Lengkap Hidup Rasulullah ﷺ dari Sebelum Kelahiran hingga Detik-detik Terakhir / Penyusun: Ahmad Hatta, dkk. / Penerbit: Maghfirah Pustaka / Cetakan Keenam, September 2016 

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

Ikuti kami di Facebook Humayro. Satu tempat untuk pembelajaran tiada henti. Pembelajaran setiap hari. Pembelajaran sepanjang hayat.

Subscribe

Subscribe my Newsletter for new blog posts, tips & new photos. Let's stay updated!

Humayro.com – Belajar Sepanjang Hayat.  Kantor : Jalan Taman Pahlawan Gg. Ikhlas No. 2 RT18/RW 08 Purwakarta 41119