Home IbadahShalat Dhuha Tidak Boleh Dilakukan Jam-jam Ini, Harus Tahu!

Shalat Dhuha Tidak Boleh Dilakukan Jam-jam Ini, Harus Tahu!

Keutamaannya besar, pahalanya melimpah, bahkan menjadi pengganti sedekah bagi seluruh persendian tubuh setiap pagi.

by Abu Umar
0 comments 2 views

Matahari baru saja naik. Cahaya keemasannya mulai menyelimuti bumi. Sebagian orang bergegas menuju tempat kerja, sebagian lagi masih menikmati waktu pagi. Di saat seperti inilah banyak kaum muslimin berusaha menghidupkan salah satu ibadah yang sangat dicintai Rasulullah ﷺ, yaitu shalat Dhuha.

Shalat Dhuha dikenal sebagai shalatnya orang-orang yang kembali kepada Allah (shalatul awwabin). Keutamaannya begitu besar. Rasulullah ﷺ bahkan menganjurkan umatnya untuk menjaga amalan ini sebagai bentuk syukur atas nikmat yang Allah berikan setiap hari.

Namun, tidak sedikit orang yang masih keliru dalam menentukan waktunya. Ada yang melaksanakan shalat Dhuha terlalu pagi. Ada pula yang mengerjakannya tepat ketika matahari berada di tengah langit. Padahal, syariat telah menetapkan beberapa waktu yang dilarang untuk mengerjakan shalat sunnah, termasuk shalat Dhuha.

Lalu, kapan sebenarnya shalat Dhuha boleh dilakukan? Dan pada jam-jam berapa shalat Dhuha tidak boleh dikerjakan?

Waktu Dimulainya Shalat Dhuha

Para ulama menjelaskan bahwa waktu shalat Dhuha dimulai setelah matahari terbit dan meninggi sekitar satu tombak.

Rasulullah ﷺ bersabda,

“Shalat orang-orang yang kembali kepada Allah adalah ketika anak-anak unta mulai kepanasan oleh sinar matahari.”

(HR. Muslim)

Yang dimaksud matahari meninggi satu tombak adalah sekitar 10–15 menit setelah matahari terbit. Pada saat itulah waktu larangan pertama telah berakhir, sehingga seseorang boleh mulai melaksanakan shalat Dhuha.

Sebagai contoh, jika matahari terbit pukul 06.00, maka shalat Dhuha baru boleh dilakukan sekitar pukul 06.15. Waktu ini dapat sedikit berbeda tergantung lokasi dan musim.

Tiga Waktu yang Dilarang untuk Shalat

Dalam Islam terdapat tiga waktu yang dilarang untuk melaksanakan shalat sunnah tanpa sebab. Larangan ini didasarkan pada hadits sahih dari ‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhu.

Beliau berkata,

“Ada tiga waktu yang Rasulullah ﷺ melarang kami melakukan shalat dan menguburkan jenazah: ketika matahari terbit hingga meninggi, ketika matahari tepat berada di tengah langit hingga tergelincir, dan ketika matahari mulai tenggelam hingga benar-benar tenggelam.”

(HR. Muslim)

Karena shalat Dhuha termasuk shalat sunnah mutlak yang memiliki waktu tertentu, maka ia tidak boleh dilakukan pada ketiga waktu tersebut.

Pertama: Saat Matahari Baru Terbit

Inilah waktu yang paling sering tidak disadari sebagian orang.

Begitu selesai shalat Subuh, sebagian orang menunggu beberapa menit lalu langsung mengerjakan shalat Dhuha.

Padahal, selama matahari masih terbit dan belum meninggi, waktu tersebut termasuk waktu yang dilarang.

Para ulama menjelaskan bahwa larangan ini berlangsung hingga matahari naik sekitar satu tombak dari ufuk.

Karena itu, jangan tergesa-gesa. Tunggulah sekitar 10–15 menit setelah matahari terbit, baru kemudian melaksanakan shalat Dhuha.

Kedua: Saat Matahari Tepat di Tengah Langit

Inilah waktu yang dikenal dengan istilah istiwa’, yaitu ketika matahari berada tepat di atas kepala sebelum masuk waktu Zuhur.

Waktu ini biasanya hanya berlangsung beberapa menit.

Rasulullah ﷺ melarang shalat pada saat tersebut karena pada waktu itu neraka Jahannam sedang dinyalakan, sebagaimana dijelaskan dalam beberapa riwayat.

Maka, apabila seseorang ingin melaksanakan shalat Dhuha menjelang Zuhur, hendaknya selesai sebelum waktu istiwa’ tiba.

Setelah matahari mulai tergelincir ke arah barat dan azan Zuhur berkumandang, waktu shalat Dhuha pun telah berakhir.

Ketiga: Saat Matahari Hendak Terbenam

Waktu larangan berikutnya adalah menjelang matahari tenggelam.

Meskipun waktu ini sudah berada di sore hari dan tidak lagi berkaitan dengan shalat Dhuha, larangan ini penting diketahui agar seorang muslim tidak sembarangan melakukan shalat sunnah pada waktu tersebut.

Larangan ini dimulai ketika matahari mulai menguning hingga benar-benar tenggelam di ufuk barat.

Kapan Waktu Terbaik Shalat Dhuha?

Walaupun shalat Dhuha boleh dilakukan sejak matahari meninggi, para ulama menjelaskan bahwa waktu yang paling utama adalah ketika matahari mulai terasa panas.

Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah ﷺ,

صَلَاةُ الْأَوَّابِينَ حِينَ تَرْمَضُ الْفِصَالُ

“Shalat orang-orang yang kembali kepada Allah adalah ketika anak-anak unta mulai merasakan panasnya pasir.”

(HR. Muslim)

Maksudnya adalah ketika sinar matahari sudah cukup terik, tetapi belum masuk waktu Zuhur.

Dalam praktiknya, waktu terbaik ini berada sekitar pukul 09.00 hingga 11.00 pagi, tergantung kondisi wilayah dan waktu terbit matahari.

Pada waktu inilah Rasulullah ﷺ menunjukkan keutamaan shalat Dhuha.

Berapa Jumlah Rakaatnya?

Shalat Dhuha paling sedikit dikerjakan dua rakaat.

Rasulullah ﷺ bersabda,

“Pada setiap pagi, setiap persendian kalian wajib disedekahi. Setiap tasbih adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, memerintahkan kepada yang makruf adalah sedekah, mencegah dari yang mungkar adalah sedekah. Semua itu dapat dicukupi dengan dua rakaat shalat Dhuha.”

(HR. Muslim)

Adapun jumlah rakaat yang paling banyak diperselisihkan para ulama. Sebagian berpendapat delapan rakaat berdasarkan praktik Rasulullah ﷺ saat Fathu Makkah. Sebagian ulama lainnya membolehkan lebih banyak karena terdapat dalil umum mengenai shalat sunnah di siang hari.

Yang terpenting adalah dikerjakan dengan ikhlas dan sesuai kemampuan.

Hikmah Adanya Waktu Larangan

Mengapa Islam melarang shalat pada waktu-waktu tertentu?

Para ulama menjelaskan bahwa salah satu hikmahnya adalah agar kaum muslimin tidak menyerupai penyembah matahari. Pada masa jahiliah, mereka melakukan ibadah ketika matahari terbit, berada di puncak langit, dan saat matahari terbenam.

Syariat Islam datang untuk menyelisihi kebiasaan tersebut sekaligus menjaga kemurnian tauhid.

Selain itu, adanya aturan waktu mengajarkan bahwa ibadah tidak cukup hanya dilakukan dengan semangat. Ibadah juga harus sesuai tuntunan Rasulullah ﷺ.

Sebagaimana kaidah yang dikenal oleh para ulama,

“Setiap ibadah yang tidak memiliki tuntunan, maka tertolak.”

Karena itu, mengetahui waktu yang benar merupakan bagian dari kesempurnaan dalam beribadah.

Penutup

Shalat Dhuha merupakan amalan yang sangat dianjurkan. Keutamaannya besar, pahalanya melimpah, bahkan menjadi pengganti sedekah bagi seluruh persendian tubuh setiap pagi. Namun, ibadah yang mulia ini tetap harus dilakukan sesuai tuntunan syariat.

Karena itu, hindarilah mengerjakan shalat Dhuha pada waktu matahari baru terbit hingga meninggi, ketika matahari tepat berada di tengah langit sebelum Zuhur, dan pada waktu matahari hendak terbenam. Sebaliknya, pilihlah waktu yang paling utama, yaitu ketika matahari mulai terasa hangat dan bumi mulai memancarkan panasnya.

Semoga Allah ﷻ menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang istiqamah menjaga shalat Dhuha dan selalu beribadah sesuai petunjuk Rasulullah Muhammad ﷺ. Aamiin. []

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

Ikuti kami di Facebook Humayro. Satu tempat untuk pembelajaran tiada henti. Pembelajaran setiap hari. Pembelajaran sepanjang hayat.

Subscribe

Subscribe my Newsletter for new blog posts, tips & new photos. Let's stay updated!

Humayro.com – Belajar Sepanjang Hayat.  Kantor : Jalan Taman Pahlawan Gg. Ikhlas No. 2 RT18/RW 08 Purwakarta 41119