Home IbadahPuasa Enam Hari di Bulan Syawal: Keutamaan dan Hukumnya

Puasa Enam Hari di Bulan Syawal: Keutamaan dan Hukumnya

Puasa enam hari di bulan Syawal adalah amalan sunnah yang memiliki keutamaan besar dan dianjurkan oleh Nabi ﷺ.

by Abu Umar
0 comments 33 views

Puasa enam hari di bulan Syawal setelah Ramadan merupakan peluang berharga yang dimanfaatkan oleh seorang mukmin. Setelah menyelesaikan ibadah puasa Ramadan, ia kembali berdiri di ambang ketaatan berikutnya. Nabi ﷺ telah menganjurkan puasa enam hari ini, sebagaimana sabdanya:
“Barang siapa berpuasa Ramadan kemudian mengikutinya dengan enam hari di bulan Syawal, maka seakan-akan ia berpuasa sepanjang tahun.”

Allah عز وجل mensyariatkan berbagai ibadah dan ketaatan untuk menyucikan jiwa dan membersihkannya. Semakin seorang mukmin meningkatkan ketaatan, semakin baik dan dekat ia kepada Allah. Sebaliknya, semakin ia terjerumus dalam maksiat, semakin keras pula hatinya.

Musim ketaatan datang silih berganti. Setelah Ramadan berakhir, datanglah bulan Syawal yang juga merupakan bulan penuh berkah dan ketaatan. Bahkan, Syawal adalah awal dari bulan-bulan haji. Di dalamnya terdapat anjuran untuk berpuasa enam hari, berdasarkan hadis-hadis sahih. Puasa ini hukumnya sunnah (dianjurkan), bukan wajib, namun memiliki keutamaan dan pahala yang sangat besar.

BACA JUGA: Mana Dulu, Puasa 6 Hari Syawal ataukah Qadha Ramadhan?

Setiap muslim mengetahui bahwa puasa termasuk ibadah yang mampu membersihkan hati dari kotoran, menyucikan jiwa dari keburukan, serta menyembuhkan penyakit-penyakitnya. Oleh karena itu, Allah mewajibkan puasa Ramadan. Setelah Ramadan berakhir, Nabi ﷺ mendorong umatnya untuk melanjutkan dengan puasa enam hari di bulan Syawal, karena besarnya keutamaan yang terkandung di dalamnya.

Keutamaan Puasa Enam Hari Syawal

Puasa ini merupakan tanda syukur seorang hamba kepada Allah atas taufik yang diberikan dalam menjalankan puasa Ramadan. Ia juga menjadi bukti kecintaan seorang hamba terhadap ketaatan dan keinginannya untuk terus berada di jalan amal saleh.

Selain itu, puasa enam hari di bulan Syawal berfungsi menutupi kekurangan dalam puasa Ramadan. Sebagaimana shalat sunnah menyempurnakan kekurangan dalam shalat wajib, maka puasa sunnah pun menyempurnakan kekurangan dalam puasa wajib. Pada hari kiamat, amal wajib akan disempurnakan dengan amal sunnah.

Melanjutkan puasa setelah Ramadan juga menjadi tanda diterimanya amal seseorang. Para ulama mengatakan bahwa balasan dari kebaikan adalah kebaikan berikutnya. Jika seseorang melakukan kebaikan lalu diikuti dengan kebaikan lain, itu pertanda diterimanya amal pertama.

Puasa Ramadan menghapus dosa-dosa yang telah lalu, dan pada hari Idulfitri, orang-orang yang berpuasa akan menerima ganjarannya. Maka, melanjutkan puasa setelahnya merupakan bentuk syukur atas nikmat tersebut. Tidak ada nikmat yang lebih besar daripada ampunan dosa. Nabi ﷺ sendiri beribadah hingga kedua kakinya bengkak, dan ketika ditanya, beliau menjawab: “Tidakkah aku ingin menjadi hamba yang bersyukur?”

Hukum dan Tata Cara Puasa Syawal

Puasa enam hari di bulan Syawal hukumnya sunnah. Para ulama seperti Imam Tirmidzi menyatakan bahwa sebagian ulama menganjurkan puasa ini berdasarkan hadis Nabi ﷺ.

Puasa ini boleh dilakukan secara berturut-turut atau terpisah selama bulan Syawal. Jika seseorang menundanya karena kesibukan, tamu, atau silaturahmi di hari raya, maka tidak mengapa. Bahkan, boleh juga menggabungkan niat puasa Syawal dengan puasa sunnah lain seperti puasa Senin-Kamis atau puasa ayyamul bidh (hari-hari putih), dan diharapkan mendapatkan dua pahala.

Mayoritas ulama seperti Imam Syafi’i, Ahmad, dan lainnya menganjurkan puasa ini. Adapun sebagian ulama seperti Imam Malik dan Abu Hanifah memakruhkannya karena khawatir dianggap wajib oleh masyarakat. Namun, pendapat yang kuat adalah tetap dianjurkan, karena didukung oleh hadis sahih yang jelas.

Lebih utama jika dilakukan segera setelah Idulfitri secara berurutan. Namun, jika dilakukan terpisah atau di akhir bulan, tetap mendapatkan keutamaannya.

BACA JUGA:  3 Tata Cara Pelaksanaan Puasa Syawal

Mengapa Seperti Puasa Setahun?

Karena satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh. Puasa Ramadan setara dengan sepuluh bulan, dan enam hari Syawal setara dengan dua bulan. Maka totalnya seperti berpuasa selama satu tahun penuh.

Kesimpulan

Puasa enam hari di bulan Syawal adalah amalan sunnah yang memiliki keutamaan besar dan dianjurkan oleh Nabi ﷺ. Ia menjadi pelengkap puasa Ramadan, tanda diterimanya amal, serta bentuk syukur kepada Allah. Puasa ini boleh dilakukan berturut-turut atau terpisah, sesuai kemampuan, dan tetap mendapatkan pahala yang besar.

Semoga Allah memberikan kita taufik untuk mengamalkannya dan menerima seluruh ibadah kita. []

SUMBER: AR.ALISLAMWAY.NET

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

Ikuti kami di Facebook Humayro. Satu tempat untuk pembelajaran tiada henti. Pembelajaran setiap hari. Pembelajaran sepanjang hayat.

Subscribe

Subscribe my Newsletter for new blog posts, tips & new photos. Let's stay updated!

Humayro.com – Belajar Sepanjang Hayat.  Kantor : Jalan Taman Pahlawan Gg. Ikhlas No. 2 RT18/RW 08 Purwakarta 41119