Salah satu penyakit hati yang sering tidak disadari adalah merasa hidup kita kurang dibandingkan orang lain. Di era media sosial, penyakit ini semakin mudah menjangkiti siapa saja. Kita melihat rumah yang lebih megah, kendaraan yang lebih mahal, pekerjaan yang lebih mapan, atau liburan yang lebih mewah. Akibatnya, hati menjadi sempit, sulit bersyukur, dan merasa Allah belum memberikan nikmat yang cukup.
Padahal, Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan resep yang sangat sederhana untuk menjaga hati agar tetap dipenuhi rasa syukur. Beliau bersabda,
انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلاَ تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لاَ تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ
“Lihatlah orang yang berada di bawah kalian (dalam urusan harta dan dunia), dan janganlah melihat orang yang berada di atas kalian. Yang demikian itu lebih pantas agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang telah diberikan kepada kalian.” (HR. Muslim no. 2963).
BACA JUGA: Orang-Orang yang Diberi Nikmat oleh Allah
Hadits ini bukan mengajarkan kita untuk meremehkan orang lain. Bukan pula melarang seseorang untuk bekerja keras atau bercita-cita menjadi lebih baik. Yang diajarkan adalah cara menjaga hati agar tidak dipenuhi rasa iri dan keluh kesah dalam urusan dunia.
Cobalah sesekali melihat orang yang kehilangan pekerjaannya ketika kita masih memiliki penghasilan. Lihatlah mereka yang terbaring sakit ketika tubuh kita masih sehat. Lihatlah mereka yang mendambakan kehadiran anak, sementara kita telah dikaruniai keluarga. Lihatlah mereka yang tinggal di tempat yang sangat sederhana, sedangkan kita masih memiliki tempat berteduh yang nyaman. Dengan cara itulah hati akan lebih mudah mengakui betapa banyak nikmat Allah yang selama ini terlupakan.
Sebaliknya, jika kita terus-menerus membandingkan diri dengan orang yang memiliki harta lebih banyak, jabatan lebih tinggi, atau kehidupan yang tampak lebih sempurna, maka rasa syukur akan semakin memudar. Berapa pun nikmat yang kita miliki akan terasa kurang. Padahal, bukan sedikitnya nikmat yang membuat seseorang sengsara, tetapi sedikitnya rasa syukur di dalam hatinya.
Para ulama juga menjelaskan bahwa hadits ini berlaku dalam urusan dunia. Adapun dalam urusan agama, justru kita dianjurkan melihat kepada orang-orang yang lebih saleh, lebih berilmu, lebih rajin beribadah, dan lebih banyak amalnya agar kita termotivasi untuk memperbaiki diri.
BACA JUGA: Nikmat Berupa Ibadah
Karena itu, marilah kita menjaga pandangan hati. Jangan biarkan kehidupan orang lain mencuri kebahagiaan yang telah Allah berikan kepada kita. Hitunglah nikmat yang ada, bukan nikmat yang belum dimiliki. Perbanyak mengucapkan Alhamdulillah dalam setiap keadaan, karena syukur adalah kunci bertambahnya nikmat.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang pandai bersyukur, merasa cukup dengan karunia-Nya (qana’ah), dan tidak pernah meremehkan nikmat sekecil apa pun yang telah Dia limpahkan. Sebab, hati yang bersyukur adalah hati yang paling kaya, meskipun dunia yang dimilikinya tidak seberapa. []
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

