Menjalankan peran perbaikan di tengah zaman penuh fitnah adalah amanah bersama. Tugas ini berbeda-beda sesuai ilmu dan kemampuan masing-masing: seorang ulama dengan ilmunya, dai dengan hikmahnya, jurnalis dengan tulisannya, orang kaya dengan hartanya, dan yang memiliki kedudukan dengan pengaruhnya. Setiap orang berkontribusi sesuai dengan apa yang Allah berikan kepadanya.
Musibah dan fitnah sejatinya adalah pesan rahmat yang tersembunyi. Melaluinya, Allah membangunkan hati yang tertutup oleh kelalaian. Orang yang berdosa menjadi bertaubat, yang lalai menjadi sadar, yang lalai dalam kewajiban kembali memperbaiki diri. Kezaliman pun dikembalikan, barisan umat dirapikan, hati-hati disatukan sebelum jasad, dan jiwa-jiwa yang semula berselisih kembali bersatu.
Saat itu, manusia saling tolong-menolong dalam kebaikan dan ketakwaan. Mereka saling menguatkan seperti satu tubuh: jika satu bagian sakit, maka seluruh tubuh ikut merasakan demam dan tidak bisa tidur. Mereka kembali kepada Allah dengan kejujuran, kerendahan hati, dan tawakal.
BACA JUGA: Saudaraku, Perbanyak Taubat dan Istighfar
Jika engkau melihat suatu masyarakat diuji dengan fitnah, lalu mereka mau introspeksi, mencari letak kesalahan, dan segera memperbaikinya; mereka bersatu, membantu yang lemah, dan yang kuat menopang yang lemah—maka bergembiralah. Itu tanda bahwa Allah akan menjaga mereka dan menyimpan kebaikan besar untuk mereka.
Namun, jika engkau melihat fitnah justru membuat mereka semakin jauh dari Allah, semakin bergantung kepada selain-Nya, terpecah-belah, dan masing-masing sibuk dengan dirinya sendiri tanpa peduli saudaranya—maka ketahuilah bahwa mereka telah berpindah dari satu musibah kepada musibah yang lebih besar.
Karena itu, kewajiban setiap muslim adalah memulai dari diri sendiri: melakukan muhasabah yang jujur dan taubat yang tulus. Setelah itu, ia menyebarkan dampaknya kepada orang di sekitarnya melalui dakwah, nasihat, perbaikan, dan empati. Ia membantu yang membutuhkan, menghibur yang terluka, menjaga perasaan orang lain, serta berusaha menyatukan umat dan memadamkan api perpecahan.
Dengan demikian, masyarakat akan berdiri di atas fondasi kasih sayang dan solidaritas, bukan egoisme dan pertikaian.
BACA JUGA: Shalat Taubat: Dua Rakaat yang Mengundang Ampunan
Peran perbaikan ini adalah tanggung jawab bersama. Maka hendaknya setiap orang mengerahkan kemampuannya, tidak meremehkan kebaikan sekecil apa pun, memperbanyak amal, dan mengurangi perdebatan yang tidak bermanfaat.
Di antara sebab terbesar diangkatnya musibah adalah memperluas ibadah di masa fitnah, menyebarkan nasihat dengan ikhlas, menjaga persatuan masyarakat, serta menumbuhkan kasih sayang dan solidaritas dalam segala keadaan—baik saat lapang maupun sempit.
Semoga ini menjadi alasan kita di hadapan Allah, dan semoga hati-hati menjadi sadar, bertakwa, dan kembali melihat kebenaran dengan jelas.
Dan Allah-lah sebaik-baik pemberi petunjuk. []
SUMBER: AR.ALISLAMWAY.NET
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

