Saya merenungi firman Allah, “Mereka merasa telah memberi nikmat kepadamu de ngan keislaman mereka. Katakanlah, “Janganlah kamu merasa memberi nikmat kepa daku dengan keislamanmu, sebenamya Allah-lah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan memberimu petunjuk pada keimanan.” (al-Hujurat [49]: 17)
Sungguh indah ayat itu. Ketika manusia dikaruniai akal dan merenungkan ber-hala-berhala yang tercela dan tidak patut disembah, saat itulah mereka sepatutnya mengarahkan pengabdian hanya kepada Dzat Yang Menciptakan segala sesuatu.
BACA JUGA: Keinginan yang Tinggi
Semua pencapaian pengetahuan adalah hasil ker-ja akal dan pikiran yang adalah karunia Allah. Karunia itu pulalah yang membuat manusia ber-beda dengan hewan. Manakala manusia hanya meyakini hasil kerja akal, maka sebenarnya mereka telah lupa dan keliru dalam memahami batas kemampuan karunia itu.
Pada saat yang sama, telah melupakan siapa sebenarnya yang menciptakan dan mengaruniakan akal itu.
Setiap orang yang beribadah dan berijtihad dalam suatu ilmu hendaknya selalu melihat kebenaran dengan kesa daran yang terbuka, pemahaman yang benar, dan penglihatan yang cermat.
Dengan demikian, ia akan mencapai apa yang dimaksudkan dan diharapkan. Wa-jiblah rasa syukur itu dipersembahkan hanya kepada Dzat yang memberi pene rangan pada jiwa yang gelap.
Alkisah, tiga orang memasuki sebuah gua. Mereka terkunci di dalamnya hingga tidak tahu harus berbuat apa. Namun, akhirnya bisa keluar dari gua itu dengan bertawasul melalui amal-amal saleh mereka.
BACA JUGA: Menekan Nafsu agar Sabar Menempuh Ketaatan
Hal itu dilakukan bukan atas dasar perasaan bahwa amal itulah yang bi-sa menyelamatkan, namun mereka bertawasul dengan nikmat yang telah Allah karuniakan. Jika terbayang dalam benak bahwa apa yang dikerjakan adalah hasil keringat mereka, jawaban dari doanya saat itu adalah terputusnya semua nikmat Allah.
Kejadian seperti itu bisa saja menimpa seseorang yang bertakwa. la melihat dirinya lebih baik daripada yang lain. la mencela para ahli maksiat dan menyom-bongkan diri di hadapan manusia. Sikap seperti itu adalah kelalaian yang takkan terampuni dan dapat menjauhkannya dari jalan Allah. []
Sumber: Shaidul Khatir, Cara Manusia Cerdas Menang dalam Hidup, karya Imam Ibnu Al Jauzi, Penerbit Maghfirah Pustaka, Cetakan Juni 2022
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

