Home KajianMengapa Takut Manusia, Lupa kepada Allah?

Mengapa Takut Manusia, Lupa kepada Allah?

Seorang mukmin hendaknya selalu mengingat bahwa penilaian manusia tidak akan menentukan keselamatannya di akhirat.

by Abu Umar
0 comments 4 views

Salah satu penyakit hati yang sering menimpa manusia adalah lebih takut kepada makhluk daripada kepada Allah Ta’ala. Ketika melihat kemungkaran, sebagian orang mengetahui bahwa perbuatan tersebut salah, bahkan memahami bahwa Allah membencinya. Namun karena takut dicela, dijauhi, atau dimusuhi manusia, ia memilih diam dan membiarkan kemungkaran itu terus terjadi.

Padahal seorang mukmin sejati menyadari bahwa seluruh makhluk berada di bawah kekuasaan Allah. Tidak ada seorang pun yang mampu memberikan manfaat atau mudarat kecuali dengan izin-Nya. Oleh karena itu, rasa takut kepada manusia tidak boleh mengalahkan rasa takut kepada Allah.

BACA JUGA: Beruntung Orang yang Tidak Tenar di Mata Manusia

Dalam kitab Ad-Da’u wad Dawa’u, Ibnul Qayyim rahimahullah menukil perkataan Al-‘Umari Az-Zahid rahimahullah:

إن من غفلتك عن نفسك، وإعراضك عن الله أن ترى ما يسخط الله فتتجاوزه، ولا تأمر فيه، ولا تنهى عنه، خوفا ممن لا يملك لنفسه ضرا ولا نفعا

“Di antara bentuk kelalaianmu terhadap dirimu sendiri dan berpalingmu dari Allah adalah engkau melihat sesuatu yang dimurkai Allah, namun engkau membiarkannya berlalu, tidak memerintahkan untuk diingkari dan tidak pula melarangnya, karena takut kepada makhluk yang tidak mampu mendatangkan mudarat maupun manfaat bagi dirinya sendiri.”

Perkataan ini mengandung teguran yang sangat dalam. Ketika seseorang lebih memilih diam karena takut kepada manusia, padahal ia mengetahui bahwa Allah murka terhadap suatu kemaksiatan, maka hal tersebut menunjukkan adanya kelemahan dalam pengagungan kepada Allah di dalam hatinya.

Allah Ta’ala berfirman:

فَلَا تَخْشَوُا النَّاسَ وَاخْشَوْنِ

“Maka janganlah kalian takut kepada manusia, tetapi takutlah kepada-Ku.” (QS. Al-Ma’idah: 44)

Ayat ini mengajarkan bahwa rasa takut yang paling besar seharusnya tertuju kepada Allah, bukan kepada manusia. Sebab manusia hanyalah makhluk yang lemah, sedangkan Allah adalah Rabb yang menguasai seluruh urusan langit dan bumi.

Al-‘Umari Az-Zahid juga berkata:

من ترك الأمر بالمعروف، والنهي عن المنكر، مخافة من المخلوقين، نزعت منه الطاعة، ولو أمر ولده أو بعض مواليه لاستخف بحقه

“Barang siapa meninggalkan amar ma’ruf dan nahi munkar karena takut kepada manusia, maka ketaatannya akan dicabut. Bahkan seandainya ia hanya memerintah anaknya sendiri atau orang-orang di bawah tanggungannya, niscaya ia akan diremehkan.”

Perkataan ini menunjukkan bahwa meninggalkan amar ma’ruf nahi munkar karena takut kepada makhluk dapat menjadi sebab hilangnya kewibawaan dan keberkahan ketaatan. Ketika seseorang lebih mengutamakan ridha manusia daripada ridha Allah, maka Allah dapat menjadikannya kehilangan pengaruh dan kehormatan di hadapan manusia itu sendiri.

Tentu amar ma’ruf dan nahi munkar harus dilakukan dengan ilmu, hikmah, kelembutan, dan memperhatikan kemampuan. Islam tidak mengajarkan sikap kasar atau menimbulkan kerusakan yang lebih besar. Namun seorang muslim juga tidak boleh menjadikan rasa takut kepada manusia sebagai alasan untuk meninggalkan kewajiban yang Allah syariatkan.

BACA JUGA: 

banner

Kemuliaan Ahli Ilmu di Sisi Allah

Rasulullah Muhammad ﷺ bersabda:

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ

“Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lisannya. Jika tidak mampu, maka dengan hatinya, dan itulah selemah-lemahnya iman.”  (HR. Muslim)

Karena itu, seorang mukmin hendaknya selalu mengingat bahwa penilaian manusia tidak akan menentukan keselamatannya di akhirat. Yang akan menentukan adalah ridha Allah Ta’ala. Jangan sampai kita berani melanggar perintah Allah karena takut kepada makhluk yang lemah, sementara kita melupakan Rabb yang menggenggam seluruh kehidupan.

Semoga Allah mengaruniakan kepada kita keberanian untuk menegakkan kebenaran, hikmah dalam berdakwah, serta hati yang lebih mengagungkan Allah daripada seluruh makhluk-Nya. Aamiin. []

Sumber: Ad-Da’u wad Dawa’u 49.

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

Ikuti kami di Facebook Humayro. Satu tempat untuk pembelajaran tiada henti. Pembelajaran setiap hari. Pembelajaran sepanjang hayat.

Subscribe

Subscribe my Newsletter for new blog posts, tips & new photos. Let's stay updated!

Humayro.com – Belajar Sepanjang Hayat.  Kantor : Jalan Taman Pahlawan Gg. Ikhlas No. 2 RT18/RW 08 Purwakarta 41119