Home SosokPelajaran Berharga dari Maryam binti Imran

Pelajaran Berharga dari Maryam binti Imran

Maryam dipilih untuk melayani Baitul Maqdis, lalu dipilih menjadi ibu dari Nabi Isa ‘alaihissalam.

by Abu Umar
0 comments 8 views

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah Muhammad ﷺ.

Kisah Maryam binti Imran adalah salah satu kisah agung yang diabadikan Allah dalam Al-Qur’an. Ia bukan sekadar kisah seorang wanita salehah, tetapi kisah tentang keimanan, kesucian, pengorbanan, doa orang tua, kesabaran, dan kedekatan seorang hamba dengan Rabb-nya.
Nasab dan Keluarga Maryam

Maryam adalah putri Imran, keturunannya bersambung hingga Nabi Dawud ‘alaihissalam, dari jalur Nabi Ishaq bin Ibrahim ‘alaihimas salam. Ibunya bernama Hannah binti Faqudz.

Muhammad bin Ishaq رحمه الله menjelaskan bahwa Hannah adalah seorang wanita yang lama tidak memiliki anak. Suatu hari ia melihat seekor burung memberi makan anaknya, lalu tumbuhlah keinginan besar dalam hatinya untuk memiliki keturunan. Maka ia berdoa dengan penuh keikhlasan kepada Allah agar dikaruniai seorang anak.

Allah pun mengabulkan doanya. Ketika ia mengetahui dirinya hamil, ia bernazar bahwa anak yang dikandungnya akan dipersembahkan sepenuhnya untuk beribadah dan melayani Baitul Maqdis.

Maryam, Wanita Shiddiqah

Allah سبحانه وتعالى memuji Maryam dalam Al-Qur’an dengan gelar shiddiqah (wanita yang sangat jujur dan membenarkan kebenaran). Allah berfirman:

“Al-Masih putra Maryam hanyalah seorang rasul yang sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa rasul, dan ibunya adalah seorang yang sangat benar.” (QS. Al-Ma’idah: 75)

Maryam disebut shiddiqah karena ia membenarkan Nabi Isa ‘alaihissalam sebagai nabi dan rasul Allah serta beriman sepenuhnya kepada wahyu yang dibawanya.
Derajat shiddiqiyyah adalah kedudukan tertinggi setelah kenabian. Namun hal itu juga menjadi dalil bahwa Maryam bukan seorang nabi, sebab Allah tidak mengutus nabi dari kalangan wanita. Allah Ta’ala berfirman:

“Dan Kami tidak mengutus sebelum engkau melainkan laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka dari penduduk negeri.” (QS. Yusuf: 109)

BACA JUGA: Perempuan-perempuan Mulia

Doa Orang Tua Tidak Pernah Sia-Sia

Kisah Maryam mengajarkan bahwa doa orang tua untuk anak-anaknya adalah panah yang tidak pernah meleset jika dipanjatkan dengan penuh keikhlasan dan keyakinan kepada Allah.

Ibunda Maryam bukan hanya berdoa agar memiliki anak, tetapi juga menyerahkan anaknya untuk menjadi hamba Allah yang taat. Bahkan sejak lahir, Maryam dan keturunannya dipohonkan perlindungan dari gangguan setan.

Lihatlah bagaimana Allah mengabulkan doa itu. Dari rahim Maryam lahirlah Nabi Isa ‘alaihissalam, salah satu rasul ulul azmi.

Betapa dahsyat pengaruh doa dan keikhlasan orang tua terhadap anak dan cucu-cucu mereka.

Tidak Selalu Anak Laki-Laki Lebih Baik

Ibunda Maryam awalnya berharap mendapatkan anak laki-laki karena menurut pandangannya, laki-laki lebih kuat dan lebih mampu melayani Baitullah. Namun Allah justru mengaruniakannya seorang anak perempuan.

Dari sini Allah mengajarkan bahwa manusia tidak selalu mengetahui mana yang terbaik bagi dirinya. Allah Ta’ala berfirman: “Orang tua kalian dan anak-anak kalian, kalian tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih dekat manfaatnya bagi kalian.” (QS. An-Nisa’: 11)

Sering kali manusia menginginkan sesuatu, tetapi ternyata hal itu menjadi sumber kesedihan. Sebaliknya, banyak anak perempuan yang justru menjadi sumber kebahagiaan dan keberkahan bagi kedua orang tuanya.
Karena itu, seorang mukmin harus ridha terhadap segala ketentuan Allah.

Jika Allah Memberi, Dia Memberi dengan Menakjubkan

Ketika Nabi Zakaria ‘alaihissalam masuk ke mihrab Maryam, beliau mendapati makanan yang tidak biasa. Ada buah musim dingin di musim panas, dan buah musim panas di musim dingin.

Allah menunjukkan bahwa rezeki-Nya tidak terbatas oleh hukum manusia. Jika Allah menghendaki sesuatu, Dia cukup berkata, “Jadilah,” maka terjadilah.

Begitu pula kelahiran Nabi Isa tanpa ayah adalah bukti bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. Ketika semua sebab tampak mustahil, Allah tetap mampu menghadirkan jalan keluar.

Kisah Maryam mengajarkan agar manusia tidak pernah berputus asa dari rahmat Allah.

Berlomba dalam Kebaikan

Para ahli ibadah di Baitul Maqdis sampai berselisih tentang siapa yang berhak mengasuh Maryam. Mereka melakukan undian demi mendapatkan kehormatan itu.
Allah berfirman:

“Dan engkau tidak berada di sisi mereka ketika mereka melemparkan pena-pena mereka untuk menentukan siapa yang akan memelihara Maryam.”(QS. Ali Imran: 44)

Ini mengajarkan agar manusia berlomba dalam amal saleh, membantu anak yatim, dan merawat kaum lemah.

Ironisnya, pada zaman sekarang justru banyak hak anak yatim dan kaum lemah dirampas oleh orang-orang terdekat mereka sendiri.

Kebaikan Akan Kembali kepada Pelakunya

Pengasuhan Maryam akhirnya jatuh kepada Nabi Zakaria ‘alaihissalam. Saat itu beliau belum memiliki anak meskipun telah lama berdoa.

Namun ketika beliau merawat Maryam dengan penuh kasih sayang, Allah akhirnya mengaruniakan kepadanya Nabi Yahya ‘alaihissalam.

Seolah Allah ingin menunjukkan bahwa kebaikan yang dilakukan seseorang akan kembali kepadanya dalam bentuk pertolongan dan kemudahan.

Karena itu, membantu orang lain dan memenuhi kebutuhan mereka termasuk jalan tercepat untuk menghilangkan kesusahan hidup.
Gadis yang Hidup untuk Allah

Maryam memilih hidup untuk ibadah sejak usia muda. Di saat banyak gadis seusianya sibuk dengan perhiasan dunia, Maryam justru sibuk mendekatkan diri kepada Allah.

Hari ini banyak remaja tenggelam dalam mode, hiburan, tren pakaian, kosmetik, dan kehidupan konsumtif. Namun Maryam adalah sosok berbeda. Hatinya dipenuhi cinta kepada Allah.

Islam sangat memuliakan pemuda yang tumbuh dalam ketaatan. Rasulullah Muhammad ﷺ bersabda: “Tujuh golongan yang akan dinaungi Allah pada hari tiada naungan selain naungan-Nya… di antaranya adalah seorang pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Allah.”

Ia memilih jalan Allah di tengah kuatnya godaan masa muda.

Tetap Mengambil Sebab

Ketika Maryam sedang lemah setelah melahirkan, Allah memerintahkannya:

“Goyangkanlah pangkal pohon kurma itu ke arahmu.”
(QS. Maryam: 25)

Padahal secara logika, wanita lemah tidak mungkin mampu mengguncang pohon kurma.
Namun Allah mengajarkan bahwa manusia tetap harus berusaha semampunya. Adapun hasil akhirnya berada di tangan Allah.

Pentingnya Menyendiri Bersama Allah

Maryam banyak beribadah dalam mihrabnya. Kisahnya mengajarkan pentingnya seorang hamba memiliki waktu khusus untuk bermunajat kepada Allah.
Di tengah hiruk-pikuk dunia, manusia membutuhkan saat-saat untuk menyendiri, menghisab dirinya, membersihkan hati dari riya, ghibah, dan penyakit hati lainnya.

Dzun Nun Al-Mishri رحمه الله berkata: “Aku tidak melihat sesuatu yang lebih membantu keikhlasan selain menyendiri.”

Karena itu, setiap muslim sebaiknya memiliki “mihrab” di rumahnya, tempat ia kembali kepada Allah untuk memperbaiki hati dan jiwanya.

Terkadang Diam Lebih Baik daripada Berdebat

Allah memerintahkan Maryam untuk tidak berbicara kepada manusia setelah melahirkan Nabi Isa.
Hal ini mengajarkan bahwa terkadang diam lebih baik daripada perdebatan yang sia-sia, terutama dengan orang-orang yang hanya mengikuti hawa nafsunya.
Tidak semua hal harus dijawab dengan kata-kata.

Pelajaran tentang Kesucian dan Rasa Malu

Ketika Maryam melahirkan Nabi Isa, ia berkata:

“Wahai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi sesuatu yang dilupakan.” (QS. Maryam: 23)

Ucapan itu menunjukkan betapa besar rasa malu dan penjagaan kehormatannya. Ia tahu bagaimana masyarakat akan menuduhnya.
Kisah Maryam mengajarkan bahwa wanita yang memiliki fitrah lurus akan sangat menjaga kehormatan dirinya.
Hari ini, banyak fitnah yang menyeret wanita menjauh dari rasa malu dan kesucian. Pergaulan bebas, tabarruj, campur baur tanpa batas, serta berbagai seruan yang menjauhkan wanita dari fitrahnya terus disebarkan atas nama kebebasan.
Padahal kemuliaan wanita justru terletak pada kehormatan, rasa malu, dan ketaatannya kepada Allah.

BACA JUGA: Keutamaan Wanita Quraisy dan Anshar

Allah Membela Hamba-Nya

Siapa yang menyangka seorang bayi yang baru lahir akan berbicara demi membela kehormatan ibunya?
Namun Allah menampakkan mukjizat itu melalui Nabi Isa ‘alaihissalam.
Kisah ini mengajarkan bahwa Allah akan membela para wali dan hamba-Nya yang tulus.
Jika seseorang bersama Allah, maka Allah akan menolongnya dengan cara yang tidak pernah disangka-sangka.
Menisbatkan Semua Nikmat kepada Allah
Ketika Nabi Zakaria bertanya kepada Maryam dari mana ia mendapatkan makanan itu, Maryam menjawab:

“Itu dari Allah.”

Ia tidak sombong dengan ibadah dan kesalehannya. Semakin dekat seseorang kepada Allah, semakin ia menyadari bahwa semua nikmat berasal dari-Nya.

Makna Dipilih oleh Allah

Allah berfirman: “Wahai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilihmu, menyucikanmu, dan melebihkanmu atas seluruh wanita di alam semesta.” (QS. Ali Imran: 42)

Maryam dipilih untuk melayani Baitul Maqdis, lalu dipilih menjadi ibu dari Nabi Isa ‘alaihissalam.
Ia mencapai derajat itu karena keikhlasan, ibadah, dan kezuhudannya terhadap dunia.
Maka setiap wanita mukminah yang menjaga ketaatan, membersihkan hati, dan mendekatkan diri kepada Allah juga memiliki peluang menjadi hamba pilihan Allah.
Salam untuk Maryam binti Imran, wanita suci yang namanya diabadikan dalam Al-Qur’an hingga Hari Kiamat. []

SUMBER: AR_ISLAMWAY.NET

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

Ikuti kami di Facebook Humayro. Satu tempat untuk pembelajaran tiada henti. Pembelajaran setiap hari. Pembelajaran sepanjang hayat.

Subscribe

Subscribe my Newsletter for new blog posts, tips & new photos. Let's stay updated!

Humayro.com – Belajar Sepanjang Hayat.  Kantor : Jalan Taman Pahlawan Gg. Ikhlas No. 2 RT18/RW 08 Purwakarta 41119