Perselisihan adalah bencana besar. Jika ia menimpa sebuah masyarakat, maka demi Allah, ia akan menghancurkan dan membinasakannya. Semua orang mengenalnya dan membencinya, tetapi sering kali seseorang tidak sadar bahwa dirinya sendiri telah terjerumus ke dalamnya. Itulah persengketaan, perpecahan, dan pertikaian di antara kaum muslimin.
Wahai saudara-saudaraku, perselisihan adalah petaka yang mematikan. Ketika dua pihak saling memaksakan kebenaran agar berpihak kepada mereka, lalu berusaha menghalangi orang lain darinya dengan tekanan, provokasi, penghinaan, bahkan dengan dalih mengingkari kemungkaran untuk menjatuhkan pihak lain, maka masyarakat akan terpecah-belah. Akibatnya, muncul kerusakan yang jauh lebih besar daripada kesalahan yang diperkirakan ada pada pendapat yang berbeda tersebut.
Allah Ta’ala berfirman:
وَاَطِيْعُوا اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ وَلَا تَنَازَعُوْا فَتَفْشَلُوْا وَتَذْهَبَ رِيْحُكُمْ وَاصْبِرُوْاۗ اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِيْنَۚ ٤٦
wa athî‘ullâha wa rasûlahû wa lâ tanâza‘û fa tafsyalû wa tadz-haba rîḫukum washbirû, innallâha ma‘ash-shâbirîn
“Taatilah Allah dan Rasul-Nya, janganlah kamu berbantah-bantahan yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan kekuatanmu hilang, serta bersabarlah. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Anfal: 46)
Ayat yang agung ini melarang perselisihan, sekaligus menjelaskan akibatnya: kegagalan, hilangnya keberanian, melemahnya tekad, dan tercerai-berainya kekuatan. Di dalamnya juga terdapat jalan keluar yang benar, yaitu firman-Nya: “Bersabarlah.” Seseorang harus melatih dirinya untuk taat kepada Allah dan menahan diri dari perselisihan, sebab hal itu sangat sulit dilakukan, bahkan oleh banyak orang berakal dan berilmu, apalagi oleh orang-orang awam yang mudah terbawa emosi.
BACA JUGA: Bahaya Berhutang
Sesungguhnya perselisihan dan perpecahan hati adalah penghancur terbesar. Maka perlu dibedakan antara perbedaan pendapat yang wajar dengan pertikaian yang memecah-belah. Setiap orang yang berbicara tentang ilmu dan urusan umat harus memahami batas antara menyampaikan pendapat disertai dalil, membuka ruang diskusi dan penelitian, dengan menciptakan kekacauan, menghasut, menuduh niat orang lain, serta menebar permusuhan dan pertikaian.
Lihatlah bagaimana Rasulullah Muhammad ﷺ menyikapi perbedaan di antara para sahabat. Beliau tidak marah karena adanya dua pendapat, tetapi marah karena perbedaan itu berubah menjadi pertengkaran dan permusuhan hati.
Dalam Shahih Al-Bukhari, Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata:
“Aku mendengar seseorang membaca suatu ayat, sementara aku mendengar Nabi ﷺ membacanya dengan cara berbeda. Maka aku membawanya kepada Nabi ﷺ dan menceritakan hal itu. Aku melihat ketidaksukaan di wajah beliau, lalu beliau bersabda: ‘Kalian berdua benar. Janganlah berselisih, karena orang-orang sebelum kalian berselisih lalu mereka binasa.’”
Dalam riwayat Imam Ahmad disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ marah hingga tampak kemarahan di wajah beliau.
Jadi, yang membuat Rasulullah ﷺ murka bukanlah adanya dua pandangan, tetapi pertikaian yang lahir dari perbedaan itu.
Perhatikan pula peristiwa ketika Rasulullah ﷺ sakit menjelang wafat beliau. Dalam Shahih Al-Bukhari, Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
“Bawakan aku alat tulis, agar aku tuliskan untuk kalian sesuatu yang tidak akan membuat kalian tersesat setelahku.”
Namun Umar radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah ﷺ sedang sangat sakit, sedangkan kita telah memiliki Kitab Allah, itu sudah cukup bagi kita.”
Lalu para sahabat berbeda pendapat dan suara pun menjadi gaduh. Rasulullah ﷺ kemudian bersabda:
“Pergilah kalian dariku. Tidak pantas terjadi pertengkaran di sisiku.”
Ibnu Abbas kemudian berkata: “Sungguh musibah terbesar adalah apa yang menghalangi Rasulullah ﷺ untuk menuliskan pesan tersebut.”
Al-Hafizh Ibnu Hajar رحمه الله menjelaskan bahwa perselisihan itulah yang menjadi sebab tidak dituliskannya pesan tersebut. Dari hadis ini juga dipahami bahwa perselisihan dapat menjadi sebab hilangnya banyak kebaikan.
Bahkan, malam Lailatul Qadar pernah tidak jadi diberitahukan waktunya kepada para sahabat karena adanya perselisihan. Demikian pula kaum muslimin kehilangan kemenangan dalam Perang Uhud akibat pertikaian.
Allah Ta’ala berfirman:
وَلَقَدْ صَدَقَكُمُ اللّٰهُ وَعْدَهٗٓ اِذْ تَحُسُّوْنَهُمْ بِاِذْنِهٖۚ حَتّٰىٓ اِذَا فَشِلْتُمْ وَتَنَازَعْتُمْ فِى الْاَمْرِ وَعَصَيْتُمْ مِّنْۢ بَعْدِ مَآ اَرٰىكُمْ مَّا تُحِبُّوْنَۗ مِنْكُمْ مَّنْ يُّرِيْدُ الدُّنْيَا وَمِنْكُمْ مَّنْ يُّرِيْدُ الْاٰخِرَةَۚ ثُمَّ صَرَفَكُمْ عَنْهُمْ لِيَبْتَلِيَكُمْۚ وَلَقَدْ عَفَا عَنْكُمْۗ وَاللّٰهُ ذُوْ فَضْلٍ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ ١٥٢
“Sungguh, Allah benar-benar telah memenuhi janji-Nya kepadamu ketika kamu membunuh mereka dengan izin-Nya sampai pada saat kamu (dalam keadaan) lemah, berselisih dalam urusan itu, dan mengabaikan (perintah Rasul) setelah Allah memperlihatkan kepadamu apa yang kamu sukai. Di antara kamu ada orang yang menghendaki dunia dan di antara kamu ada (pula) orang yang menghendaki akhirat. Kemudian, Allah memalingkan kamu dari mereka untuk mengujimu. Sungguh, Dia benar-benar telah memaafkan kamu. Allah mempunyai karunia (yang diberikan) kepada orang-orang mukmin.” (QS. Ali Imran: 152)
Kekalahan di Uhud bukan hanya karena pelanggaran terhadap perintah Rasulullah ﷺ, tetapi juga karena perselisihan dan perpecahan yang terjadi di antara mereka.
Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu juga memberikan teladan besar dalam menjaga persatuan. Ketika Khalifah Utsman radhiyallahu ‘anhu menyempurnakan shalat di Mina menjadi empat rakaat, sementara Rasulullah ﷺ dahulu mengqasharnya menjadi dua rakaat, seseorang berkata kepada Ibnu Mas’ud:
“Mengapa engkau tidak menegurnya?”
Beliau menjawab:
“Diamlah, karena perselisihan itu buruk.”
Wahai kaum muslimin, siapa pun yang menelaah sejarah akan mendapati bahwa hampir tidak ada fitnah dan kekalahan yang terjadi kecuali karena perselisihan dan perpecahan. Perang Jamal adalah salah satu contoh nyata betapa dahsyatnya dampak pertikaian, hingga menyebabkan terbunuhnya para sahabat besar.
Karena itu, prinsip utama ketika terjadi perbedaan adalah menjaga persatuan hati, bukan menjatuhkan orang lain, menghasut masyarakat, dan menyalakan api fitnah.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah رحمه الله bahkan menjelaskan bahwa meninggalkan sebagian amalan sunnah yang diperselisihkan demi menjaga persatuan hati terkadang lebih utama. Beliau berkata:
“Disunnahkan bagi seseorang untuk berusaha melembutkan hati manusia dengan meninggalkan sebagian amalan sunnah yang diperselisihkan, meskipun amalan itu benar adanya. Sebab maslahat persatuan dalam agama lebih besar daripada maslahat melakukan amalan tersebut.”
Apalagi jika perbedaan itu hanya dalam masalah ijtihadiyah yang memang terbuka ruang perbedaan pendapat.
Karena itu, budaya menyikapi perbedaan dengan benar harus hidup dalam jiwa kaum muslimin dan tampak dalam perilaku mereka. Menyampaikan pendapat, membantah suatu pandangan, dan menjelaskan kesalahan menurut sudut pandang masing-masing adalah hal yang dibolehkan dan bahkan berpahala jika dilakukan dengan ilmu dan kelembutan. Namun jika perbedaan berubah menjadi permusuhan, provokasi, dan pertikaian, maka itu bukanlah jalan yang benar.
BACA JUGA: Bahaya Pujian
Allah Ta’ala kembali mengingatkan:
“Dan janganlah kalian berselisih, karena kalian akan menjadi lemah dan hilang kekuatan kalian. Bersabarlah.” (QS. Al-Anfal: 46)
Kesabaran itulah hakikat kekuatan dan keberanian. Kekuatan bukan sekadar kekuatan fisik, sebab seseorang bisa saja kuat badannya namun lemah hatinya. Kekuatan sejati adalah kekuatan hati dan keteguhannya ketika menghadapi amarah dan perselisihan.
Perselisihan tidaklah masuk ke dalam sebuah rumah kecuali akan memecahkannya. Tidak pula terjadi antara suami dan istri kecuali akan meretakkan hubungan mereka. Tidak pula menimpa dua sahabat kecuali akan memutus hangatnya persaudaraan. Bahkan jika ia menimpa sebuah negeri, ia akan menghancurkannya.
Allah Ta’ala berfirman: “Maka mereka terpecah-belah dalam urusan mereka menjadi beberapa golongan. Setiap golongan bangga dengan apa yang ada pada mereka.” (QS. Al-Mu’minun: 53)
Ibnu Qayyim رحمه الله menjelaskan bahwa setiap kelompok kemudian membuat pegangan sendiri, mengikuti dan membela kelompoknya, sambil meninggalkan kelompok lain. Dan itulah yang banyak terjadi hingga hari ini. []
SUMBER: AR-ISLAMWAY.NET
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

