Masa muda sering diidentikkan dengan tawa, kebebasan, dan kesenangan. Sementara masa tua diharapkan menjadi waktu untuk menikmati hasil dari perjalanan panjang kehidupan. Bahkan sebagian orang membayangkan kematian sebagai akhir tanpa beban. Namun kenyataannya, hidup tidaklah sesederhana itu, kawan. Ada tujuan besar yang sering terlupakan—yakni kehidupan yang sesungguhnya setelah dunia ini berakhir.
Allah Ta’ala menggambarkan penyesalan sebagian manusia pada hari Kiamat dalam firman-Nya:
يَقُولُ يَا لَيْتَنِي قَدَّمْتُ لِحَيَاتِي
“Dia berkata: ‘Alangkah baiknya sekiranya dahulu aku mengerjakan (kebajikan) untuk hidupku ini.’” (QS. Al-Fajr: 24)
BACA JUGA: Jika Perbanyak Istighfar, Dilepaskan Segala Kesempitan Hidup
Ayat ini memberikan pelajaran yang sangat dalam. Kata “lihayati” (untuk hidupku) menunjukkan bahwa kehidupan yang benar-benar disebut “hidup” bukanlah kehidupan di dunia, melainkan kehidupan di akhirat. Dunia hanyalah persinggahan sementara, tempat menanam amal yang kelak akan dipanen hasilnya.
Banyak manusia terlena dengan gemerlap dunia. Mereka menghabiskan waktu untuk mengejar kesenangan, harta, dan ambisi, seakan-akan hidup ini hanya berhenti di sini. Padahal, setiap detik yang berlalu adalah kesempatan untuk menyiapkan bekal menuju kehidupan yang kekal.
Penyesalan yang disebutkan dalam ayat tersebut bukanlah penyesalan biasa. Itu adalah penyesalan yang datang terlambat—ketika amal sudah terputus dan kesempatan telah habis. Tidak ada lagi ruang untuk memperbaiki, tidak ada lagi waktu untuk kembali.
Karena itu, selama masih diberi kesempatan hidup, hendaknya kita memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya. Dunia ini ibarat ladang: siapa yang menanam dengan sungguh-sungguh, dia akan memanen hasilnya. Dan siapa yang lalai, maka dia sendiri yang akan merasakan akibatnya.
BACA JUGA: Obat-obat Segala Persoalan Hidup
Hidup bukan sekadar tentang menikmati masa muda atau mengejar kebahagiaan duniawi. Lebih dari itu, hidup adalah tentang mempersiapkan diri untuk kehidupan yang abadi. Maka, jangan sampai kita termasuk orang-orang yang kelak berkata dengan penuh penyesalan, “Seandainya dulu aku berbuat lebih banyak untuk hidupku yang sesungguhnya.”
Semoga Allah membimbing kita untuk menggunakan waktu yang ada dengan amal shalih, agar kelak kita memetik hasil yang membahagiakan di akhirat. []
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

