Home Nasihat UlamaMenekan Nafsu agar Sabar Menempuh Ketaatan

Menekan Nafsu agar Sabar Menempuh Ketaatan

Nafsu, KetaatanKetahuilah, dalam memperlakukan jiwa diperlukan sikap lemah lembut, sehingga tanpa terasa kita akan melewati jalan-jalan penuh rintangan dengan perasaan ringan.

by Abu Umar
0 comments 57 views

Suatu hari, ada dua orang memikul dua batang pohon yang sangat berat berjalan di depan kediaman saya. Keduanya bersahutan mendendangkan nyanyian. Kata-katanya sangat menghibur.

Yang satu mendengarkan apa yang didendangkan temannya, lalu mengulangi atau menyahut, begitu pula sebaliknya. Saya menyadari, jika mereka ti-dak melakukan itu, pasti akan merasa bahwa beban yang dibawa sangatlah berat

Mengapa bisa demikian? Ternyata, dialog lewat nyanyian dan pengalihan perhatian dari beratnya beban pada sesuatu yang menyenangkan, dapat membuat perjalanan yang panjang tak terasa melelahkan. Mereka lupa akan beban yang tengah dipikul.

BACA JUGA:  Akal, yang Memperkuat Kesabaran

Suatu isyarat dan pelajaran yang sangat menarik. Setelah saya memerhatikan, sebenarnya manusia sedang mengemban beban yang berat. Yang paling berat adalah menaklukkan hawa nafsu, bersabar untuk tidak melakukan apa yang disenangi dan bisa mengatasi apa yang dibenci. Oleh karena itu, menurut saya, cara yang benar untuk menjadikan diri kita sabar menghadapi semua itu ialah dengan cara menghibur diri dan menenangkan jiwa.

Seorang penyair pernah berkata:

Jika engkau merasa jiwamu berat di pagi hari
Janjikanlah ia dengan sinarnya di waktu dhuha

Kita bisa mencontoh Bisyr al-Hafi. Suatu ketika, dia berjalan dengan seorang laki-laki. Temannya itu merasa haus dan berkata, “Mungkinkah kita minum dari air sumur ini?”

Bisyr al Hafi berkata, “Bersabarlah ki ta minum di sumber air yang lain saja.”

Saat keduanya sampai di sumur yang lain, Bisyr berkata, “Kita minum di sumber yang lain lagi.” Demikian dia terus-menerus memberikan alasan setiap bertemu dengan sumber air. Bisyr lalu menoleh ke pada laki-laki itu dan berkata, “Begitulah semestinya dunia ini kita lewati.”

Barangsiapa memahami hal itu, ia akan memberikan alasan-alasan yang menghibur nafsunya. Hal itu diperlukan untuk menekannya agar bersabar dengan beban yang sedang dipikulnya. Beberapa orang salaf dahulu berkata kepada diri nya sendiri, “Aku melarangmu melakukan apa yang engkau senangi karena aku sangat sayang padamu.”

BACA JUGA:  Kekayaan Terbesar

Kata Abu Yazid, “Aku terus saja menggiring jiwaku semakin dekat kepada Allah dalam keadaan menangis, sampai akhir nya aku bisa membawa jiwaku kepa da-Nya sambil tertawa.”

Ketahuilah, dalam memperlakukan jiwa diperlukan sikap lemah lembut, sehingga tanpa terasa kita akan melewati jalan-jalan penuh rintangan dengan perasaan ringan.

Ketahuilah, dalam memperlakukan jiwa diperlukan sikap lemah lembut, sehingga tanpa terasa kita akan melewati jalan-jalan penuh rintangan dengan pe rasaan ringan. Itu hanyalah sebagian con toh. Saya cukupkan penjelasan tentang hal itu sampai di sini. []

Sumber: Shaidul Khatir, Cara Manusia Cerdas Menang dalam Hidup, karya Imam Ibnu Al Jauzi, Penerbit Maghfirah Pustaka, Cetakan Juni 2022

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

Ikuti kami di Facebook Humayro. Satu tempat untuk pembelajaran tiada henti. Pembelajaran setiap hari. Pembelajaran sepanjang hayat.

Subscribe

Subscribe my Newsletter for new blog posts, tips & new photos. Let's stay updated!

Humayro.com – Belajar Sepanjang Hayat.  Kantor : Jalan Taman Pahlawan Gg. Ikhlas No. 2 RT18/RW 08 Purwakarta 41119