Allah mengingatkan manusia.
Harta dan anak bukan sekadar nikmat.
Keduanya adalah ujian.
Cobaan yang menguji iman.
Cobaan yang menakar keikhlasan.
“Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan.”
Bukan tujuan.
Bukan pula sandaran.
Karena pahala yang besar hanya ada di sisi Allah.
BACA JUGA: Setan di Waktu Maghrib, Suruh Anak-anakmu di Dalam Rumah
Rasulullah ﷺ juga mengingatkan.
Anak bisa menjadi sebab kebakhilan.
Bisa melahirkan rasa takut.
Bisa menyeret pada kebodohan.
Bahkan menumbuhkan kesedihan yang panjang.
Ujian keturunan sering datang diam-diam.
Masuk lewat rasa cinta.
Menyusup lewat tanggung jawab.
Lalu melemahkan hati.
Pertama, sifat bakhil.
Hati berat untuk berbagi.
Tangan enggan berinfaq.
Karena takut harta berkurang.
Karena anak dianggap alasan.
Padahal rezeki milik Allah.
Kedua, sifat pengecut.
Takut kehilangan kenyamanan.
Takut anak terkena risiko.
Akhirnya kebenaran ditinggalkan.
Kebatilan dibiarkan.
Demi rasa aman yang semu.
Ketiga, sifat malas menuntut ilmu.
Waktu habis untuk urusan dunia.
Ilmu ditunda.
Majelis ditinggalkan.
Dengan alasan anak dan keluarga.
Padahal ilmu adalah kebutuhan jiwa.
Keempat, sifat berlarut dalam sedih.
Saat anak tertimpa musibah.
Hati runtuh.
Kesabaran melemah.
Doa tergantikan keluhan.
Padahal kasih sayang harus dituntun iman.
Islam tidak melarang cinta pada anak.
Namun cinta itu harus terarah.
Tidak mengalahkan ketaatan.
Tidak menggeser keimanan.
BACA JUGA: 3 Karakter Anak Broken Home
Anak adalah amanah.
Bukan alasan untuk lalai.
Bukan pembenar untuk takut.
Bukan penghalang menuju akhirat.
Beruntunglah orang tua.
Yang menjadikan anak sebagai jalan taat.
Bukan sebagai pengikat dunia.
Karena di sisi Allah.
Ada pahala yang jauh lebih besar. []
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

