Berhutang tidak dilarang dalam Islam.
Ia dibolehkan saat ada kebutuhan.
Namun Islam mengaturnya dengan ketat.
Salah satu bentuk hutang adalah hutang dengan jaminan.
Dalam fikih disebut rahn.
Yaitu menjaminkan suatu barang agar hutang lebih terjaga.
Dalilnya sangat jelas.
Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha.
Beliau menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah berhutang makanan.
Beliau membelinya dari seorang Yahudi.
Dengan pembayaran tertunda.
Dan Nabi ﷺ menjaminkan baju besinya.
(HR. Muslim)
Hadis ini menjadi dasar utama kebolehan rahn.
Imam an-Nawawi rahimahullah menegaskan.
Hadis ini menunjukkan bolehnya hutang.
Bolehnya jual beli tidak tunai.
Dan bolehnya gadai sebagai jaminan.
Bahkan Nabi ﷺ melakukannya sendiri.
Padahal beliau adalah manusia paling mulia.
Ini menunjukkan bahwa gadai bukan aib.
Dan bukan perbuatan tercela.
Dalam transaksi ini,
terkandung beberapa akad sekaligus.
Ada akad jual beli.
Ada akad hutang.
Dan ada akad gadai.
Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan.
Gabungan akad seperti ini dibolehkan.
Selama tidak ada larangan syariat.
Dan tidak mengantarkan kepada riba atau kezaliman.
Namun para ulama juga memberi peringatan.
Rahn sangat rawan disalahgunakan.
Jika tidak hati-hati.
Ia bisa berubah menjadi riba.
Imam Ahmad rahimahullah menegaskan.
Setiap hutang yang mendatangkan manfaat adalah riba.
Kaidah ini dikenal luas di kalangan salaf.
Pertama,
riba terjadi jika hutang disyaratkan tambahan.
Hutang satu juta.
Harus dikembalikan satu juta seratus ribu.
Tambahan ini adalah riba qardh.
Sekalipun ada jaminan.
Kedua,
riba terjadi jika barang jaminan dimanfaatkan oleh pemberi hutang.
Motor digadaikan.
Lalu dipakai setiap hari oleh pemberi pinjaman.
Walau tanpa bunga.
Ini tetap riba.
Ibnul Mundzir rahimahullah menukil ijma’.
Bahwa pemanfaatan barang gadai oleh pemberi hutang tidak dibolehkan.
Kecuali dengan izin yang sah dan tanpa syarat hutang.
BACA JUGA: 4 Adab Menagih Hutang
Ketiga,
kezaliman terjadi jika barang jaminan langsung dimiliki pemberi hutang.
Tanpa menghitung nilainya.
Padahal nilainya lebih besar dari hutang.
Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata.
“Janganlah engkau memakan harta saudaramu dengan cara zalim.”
Selisih nilai wajib dikembalikan.
Agar tidak terjadi pemerasan.
Islam datang membawa keadilan.
Menjaga hak pemberi hutang.
Dan melindungi orang yang berhutang.
Rahn dibolehkan.
Namun harus dijalankan dengan amanah.
Tanpa riba.
Tanpa kezaliman.
Dan tanpa memakan harta orang lain dengan batil.
Wallahu a‘lam. []
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

