Home MuhasabahSeluruh Perkara Pastilah Ada Sebabnya

Seluruh Perkara Pastilah Ada Sebabnya

Syariat telah menjadikan semua perkara bekaitan dengan sebab-musababnya. Jika saya menolak untuk menelusuri sebab dari segala sesuatu, itu sama saja dengan menolak hikmah Allah.

by Abu Umar
0 comments 174 views

Suatu hal terjadi pada diri saya, sehingga menyerah sepenuh hati kepada Allah. Saya sadar betul, tak ada yang sanggup memberikan manfaat dan menghilangkan mudarat selain Dia. Saya lalu bangkit dan berusaha menelusuri sebab-sebab yang melatarinya

Saat itu, keyakinan saya meronta, “Alangkah buruknya tawakalmu!” Saya menjawab, “Bukan begitu. Saya yakin Allah meletakkan sesuatu dengan segala hikmahnya. Dengan demikian, tak ada alasan untuk mengatakan, bahwa apa yang engkau perbuat tiada berguna. Mencari sebab-musabab adalah keharusan dalam ajaran agama. Allah berfirman, “Apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu), lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama mereka, hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) bersamamu dan menyandang senjata.” (an-Nisa’ [4]: 102).

Dalam ayat yang lain dikatakan, “Biarkanlah apa yang kamu ketam tetap di bulirnya, kecuali sedikit (yang engkau ambil) untuk dimakan.” (Yûsuf [12]: 47).

BACA JUGA: 3 Perkara

Ketika hendak berperang, Nabi memakai dua baju perang. Juga meminta pendapat dua ahli pengobatan. Saat pergi ke Thaif, dia tidak bisa pulang kembali ke Makkah hingga mengutus seseorang pada Muthim bin Ali untuk meminta jaminan keamanan. Padahal, mungkin saja bagi Rasulullah untuk kembali ke Makkah dengan penuh tawakal.

Syariat telah menjadikan semua perkara bekaitan dengan sebab-musababnya. Jika saya menolak untuk menelusuri sebab dari segala sesuatu, itu sama saja dengan menolak hikmah Allah.

Atas dasar itu, berobat saat sakit sangatlah dianjurkan. Ada sekelompok orang yang menganggap, bahwa tidak berobat itu lebih baik. Bagi saya, sangatlah terlarang untuk mengikuti pendapat ini, karena Rasulullah bersabda dalam hadis sahih, Tak pernah Allah menurunkan suatu penyakit kecuali Dia menurunkan obat penawarnya, maka berobatlah kalian.

Kata berobatlah dalam hadis itu adalah perintah. Setiap perintah syariat hanya memiliki dua kemungkinan, wajib atau-minimal-sunnah dan tidak mungkin haram.

‘Aisyah berkata, “Aku belajar cara pengobatan saat Rasulullah diobati seorang tabib. Itu seringkali terjadi.” Rasulullah bersabda kepada Ali bin Abi Thalib, “Makanlah makanan ini, karena ini baik bagimu.”

Orang-orang yang beranggapan, bahwa meninggalkan pengobatan itu lebih baik mengambil dalil dari sabda Rasulullah, akan masuk surga dari antara umatku tujuh puluh ribu orang tanpa dihisab. Mereka adalah yang tidak berbekam, yang tidak menggunakan mantra, yang tidak meminta ramalan kepada tukang ramal, dan yang bertawakal kepada Tuhan mereka.

Namun demikian, hadis tersebut tidak lantas memberikan pemahaman, bahwa pengobatan tidak perlu dilakukan.

Banyak orang yang berbekam agar tidak ditimpa penyakit. Ada pula yang melafalkan bacaan terten-tu (tentunya berupa kalimat yang sesuai dengan syariat, Penj.) agar tidak ditimpa musibah. Rasulullah pernah mem-bekam Saad bin Zararah dan memberi rukhsah (keringanan) untuk menggunakan jampi-jampi. Dengan demikian, pendapat saya ini cukup beralasan.

Saat saya ingin merasa badan ini le bih segar, maka, atas dasar pengetahuan, tak mungkin saya memakan buah ballût.

Namun, saya akan minum sari kurmal India yang saya anggap lebih mujarab. Jika saya tidak minum sebanyak kebutuhan badan, lalu saya berdoa, “Ya Allah, sembuhkanlah hamba”, hikmah akan berkata, “Tidakkah engkau mendengar Rasulullah bersabda, “ikat dulu kudamu, lalu bertawakallah”?

Minumlah terlebih dahulu minuman yang baik, baru Anda patut berkata, “Ya Allah, sehatkanlah hamba.” Janganlah berlaku seperti seorang petani yang memiliki ladang Di antara ladang dan sungai terdapat gundukan tanah, tetapi ia malas untuk membersihkan gundukan tanah itu dengan tangannya sendiri. Malah, kemudian ia shalat istisqa (meminta hujan) agar gundukan tanah itu bisa hilang disiram air hujan.

Kelakuan petani tersebut serupa dengan orang yang mengadakan perjalanan dengan cara menguji Tuhannya, la berjalan tanpa bekal apapun, la mencoba, apa kah Allah akan memberinya rezeki atau tidak. Padahal, jelas sekali perintah Allah mengatakan, “Berbekallah kalian.” (al-Ba-qarah (2): 197). Orang itu malah berkata, “Aku tak akan membawa bekalku!”

Orang seperti itu pasti akan hancur sebelum Allah menghancurkannya. Jika waktu shalat tiba dan tidak ada air, ia mencaci maki dirinya sendiri. “Mengapa engkau tidak membawa air sebelum berada di tengah padang pasir gersang seperti ini?”

BACA JUGA:  12 Perkara dalam Shalat

Berhati-hatilah pada tindakan yang dianggap benar, namun sebenarnya menyimpang dari jalan agama yang lurus. Mereka menyangka, bahwa kesempurnaan beragama itu didapat dengan cara melawan tabiat kewajaran dan menentang arus.

Pahamilah, wahai saudara. Yang demikian itu, insya Allah, lebih bermanfaat daripada yang Anda dengar dari kitab-kitab kecil. Jadilah diri Anda bersama ahli makna, yaitu mereka yang mengerti sesu atu di balik peristiwa. Janganlah menjadi kelompok manusia yang hanya percaya dengan sesuatu yang kasat mata. []

Sumber: Shaidul Khatir, Cara Manusia Cerdas Menang dalam Hidup, karya Imam Ibnu Al Jauzi, Penerbit Maghfirah Pustaka, Cetakan Juni 2022

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

Ikuti kami di Facebook Humayro. Satu tempat untuk pembelajaran tiada henti. Pembelajaran setiap hari. Pembelajaran sepanjang hayat.

Subscribe

Subscribe my Newsletter for new blog posts, tips & new photos. Let's stay updated!

Humayro.com – Belajar Sepanjang Hayat.  Kantor : Jalan Taman Pahlawan Gg. Ikhlas No. 2 RT18/RW 08 Purwakarta 41119