Imam As-Syafi’i rahimahullah pernah menuturkan bait syair yang sangat masyhur dalam Diwannya:
أُحِبُّ الصالِحينَ وَلَستُ مِنهُم
لَعَلّي أَن أَنالَ بِهِم شَفاعَه
وَأَكرَهُ مَن تِجارَتُهُ المَعاصي
وَلَو كُنّا سَواءً في البِضاعَه
“Aku mencintai orang-orang sholih meski aku bukan bagian dari mereka.
Aku berharap kelak memperoleh syafaat melalui mereka.
Aku membenci orang yang menjadikan maksiat sebagai perniagaannya,
walau boleh jadi kami sama dalam jenis barang dagangan.”
Syair ini lahir dari ketawadhuan seorang imam besar. Padahal, Imam As-Syafi’i adalah pemimpin ilmu dan teladan keshalihan. Namun beliau tetap merasa belum pantas menyebut dirinya sebagai orang sholih, dan justru menggantungkan harapan pada cinta kepada orang-orang sholih.
BACA JUGA: 6 Manfaat Berteman dengan Orang Shaleh
Para ulama salaf mengajarkan bahwa mencintai orang sholih adalah bagian dari iman. Al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata, “Jika engkau tidak mampu beramal seperti mereka, maka cintailah mereka. Semoga Allah mengumpulkanmu bersama mereka karena cintamu.”
Keshalihan sendiri adalah dambaan setiap muslim. Orang tua menginginkan anak yang sholih, anak berharap memiliki orang tua yang sholih, suami mendambakan istri sholihah, dan istri pun berharap suami yang sholih. Hal ini menunjukkan bahwa keshalihan adalah fondasi kebahagiaan hidup.
Al-Qur’an mengisahkan keberkahan orang tua yang sholih dalam firman Allah Ta’ala tentang dua anak yatim dalam surah Al-Kahfi ayat 82. Dinding rumah mereka dijaga Allah karena ayahnya adalah orang yang sholih. Ini menunjukkan bahwa keshalihan seseorang bisa menjadi sebab terjaganya generasi setelahnya.
Rasulullah ﷺ juga menegaskan keutamaan anak sholih dalam sabdanya, “Apabila manusia meninggal dunia, terputus amalnya kecuali tiga: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak sholih yang mendoakannya.” (HR. Muslim).
Begitu pula tentang pasangan hidup, Nabi ﷺ bersabda, “Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita sholihah.” (HR. Muslim).
Secara bahasa, sholih berarti baik, lurus, dan sesuai dengan kebenaran. Secara makna, orang sholih adalah mereka yang menunaikan hak Allah dan hak sesama manusia serta istiqamah hingga akhir hayat.
Generasi terbaik umat ini adalah para nabi, kemudian sahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in—yang dikenal sebagai salafus sholih. Namun keshalihan tidak berhenti pada generasi tersebut. Siapa pun yang berjalan di atas manhaj mereka, maka ia termasuk orang-orang sholih.
BACA JUGA: Bagaimana Orang-orang Shaleh Mengingat Kematian
Allah Ta’ala menjanjikan karunia besar bagi mereka:
{ وَلَقَدۡ كَتَبۡنَا فِي ٱلزَّبُورِ مِنۢ بَعۡدِ ٱلذِّكۡرِ أَنَّ ٱلۡأَرۡضَ يَرِثُهَا عِبَادِيَ ٱلصَّٰلِحُونَ }
“Sesungguhnya bumi ini akan diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang sholih.” (QS. Al-Anbiya: 105)
Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan bahwa ayat ini adalah kabar gembira tentang kemenangan dan kemuliaan yang Allah tetapkan bagi orang-orang sholih.
Maka, bila kita belum mampu menjadi orang sholih, jangan lepaskan satu hal ini: mencintai mereka, meneladani mereka, dan berharap dikumpulkan bersama mereka di akhirat kelak. []
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

