Home Tanya JawabHukum Mempergunakan Kata (Lau) (Seandainya)

Hukum Mempergunakan Kata (Lau) (Seandainya)

Jadi berangan-angan itu tergantung apa yang seorang hamba angankan, jika dia berangan-angan baik maka baik dan jika dia berangan-angan selain itu maka baginya apa yang dia angankan.

by Abu Umar
0 comments 143 views

Pertanyaan: Apa hukum mempergunakan kata (lau) (seandainya) kami meminta fatwa kepadamu? Semoga Allah mengampunimu.

Jawaban:

Sisi Pertama: Bahwasanya yang dimaksud dengan (lau) hanya sebagai kabar. Maka ini tidak apa-apa. Contohnya: Seseorang berkata kepada orang lain: “Seandainya engkau mengunjungiku, aku akan memuliakanmu.” Atau: “Seandainya aku tahu engkau ada, niscaya aku akan datang kepadamu.”

Sisi Kedua: Menyatakan dengan kata (lau) untuk berangan-angan. Ini sesuai dengan apa yang dia angankan, jika dia berangan-angan kebaikan maka dia diberi pahala tergantung niatnya. Jika dia berangan-angan selain itu, maka sesuai dengan yang dia angankan juga.

Karena itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkata tentang laki-laki yang akan menafkahkan hartanya di jalan Allah dan jalan kebaikan, sedangkan laki-laki yang lain tidak punya harta. Dia berkata: “Seandainya aku mempunyai harta seperti si fulan akan kugunakan sebagaimana si fulan menggunakannya.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Keduanya sama dalam mendapatkan pahala.”

BACA JUGA: Hukum Berdoa dalam Shalat

Yang kedua, ada seorang laki-laki yang mempunyai harta tetapi dia nafkahkan harta itu bukan untuk kebaikan. Maka berkata laki-laki lainnya, seandainya aku mempunyai harta seperti si fulan maka akan kugunakan sebagaimana si fulan menggunakannya. Maka berkata Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Keduanya sama dalam mendapatkan dosa.” (Ahmad dan at-Tirmidzi Shahih al-Jaami’ 3024)

Jadi berangan-angan itu tergantung apa yang seorang hamba angankan, jika dia berangan-angan baik maka baik dan jika dia berangan-angan selain itu maka baginya apa yang dia angankan.

Sisi Ketiga yang dimaksud kata (lau) adalah penyesalan terhadap apa yang telah berlalu, hal ini dilarang. Karena tidak memberikan faedah dan hanya membuka kesedihan dan penyesalan. Dalam masalah ini Rasulullah bersabda:

الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيْفِ احْرِضْ عَلَى وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجِزُ، وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ: لَوْ أَنِّي مَا يَنْفَعُكَ فَعَلْتُ كَذَا لَكَانَ كَذَا، فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ

“Seorang mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada seorang mukmin yang lemah dan dalam segala hal ia mempunyai kebaikan. Bersemangatlah kamu dalam hal-hal yang bermanfaat bagimu dan mintalah tolong kepada Allah dan janganlah lemah, apabila kamu ditimpa suatu musibah maka janganlah kamu mengatakan: sungguh seandainya aku berbuat begini, niscaya akan begini dan begini, tetapi katakanlah: ini semua ketentuan Allah dan apa-apa yang Dia kehendaki pasti terjadi, sesungguhnya kata ‘seandainya’ itu membuka peluang bagi perbuatan syetan.” Telah terdahulu takhrijnya.

Sebenarnya tidak ada faedahnya dalam hal ini. Karena manusia ketika berbuat sesuatu dia diperintah untuk mendapatkan apa yang bermanfaat baginya. Namun qadha’ dan qadar akan menyelisihi dengan apa yang dia inginkan. Maka kata (lau) dalam keadaaan ini membuka peluang penyesalan dan kesediahan.

Oleh sebab itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang hal tersebut. Karena Islam tidak menghendaki manusia berada dalam kesedihan dan kegelisahan bahkan menghendaki lapangnya dada dan kegembiraan yang terlihat diwajahnya,

Allah telah memperingatkan kaum mukminin tentang sisi ini. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّمَا النَّجْوَى مِنَ الشَّيْطَانِ لِيَحْزُنَ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَلَيْسَ بِضَارِّهِمْ شَيْئًا إلا بإذن الله ….

“Sesungguhnya pembicaraan rahasia itu adalah dari syetan, supaya orang-orang yang beriman itu berduka cita, sedang pembicaraan itu tiadalah memberi mudharat sedikitpun kepada mereka, kecuali dengan izin Allah” (QS. al-Mujaadilah: 10)

Demikian pula mimpi yang dibenci ketika seseorang melihat dalam mimpinya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberi petunjuk kepada seseorang untuk meniup kearah kirinya tiga kali dan berlindung kepada Allah dari keburukannya dan keburukan syetan. Dan membalik tubuhnya kearah sisi yang lain. Dan juga untuk tidak menceritakan mimpi itu kepada seorang pun karena dia akan melupakannya dan tidak akan mengganggu pikirannya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Karena sesungguhnya mimpi itu tidak membahayakannya.” (HR. al-Bukhari)

Yang penting bahwa syari’at mencintai agar seseorang selalu dalam keadaan gembira dan lapang supaya bisa menerima perintah-perintah syari’at. Karena seseorang jika menyesal sedang dia dalam keadaan sedih dan duka, tidak diragukan lagi akan merasa sempit dan lemah dengan perintah-perintah syari’at dan selainnya yang disampaikan kepadanya.

Karena itu Allah selalu berfirman kepada Rasulullah:

إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُم مُحْسِنُونَ (۱۲۸)

“Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. an-Nahl: 128)

BACA JUGA: Bagaimana Allah Menyiksa Orang yang Berbuat Makslat, Padahal Dia Telah Menaqdirkannya kepada Manusia?

لَعَلَّكَ بَاخِعٌ نَّفْسَكَ أَلَّا يَكُونُوا مُؤْمِنِينَ {٣}

“Boleh jadi kamu (Muhammad) akan membinasakan dirimu, karena mereka tidak beriman.” (QS. asy-Syu’araa’: 3)

Dari permasalahan ini, engkau akan mendapati sebagian orang yang memiliki kecemburuan dalam agama mereka ketika melihat manusia sesuatu yang mereka benci, engkau akan mendapati mereka terpengaruh dengannya. Bahkan dalam hal ibadah mereka yang khusus seharusnya mereka menghadapinya dengan penuh tekad, kekuatan, dan semangat. Kemudian melaksanakan terhadap apa yang diwajibkan Allah kepada mereka untuk berdakwah di jalan Allah di atas hujjah dan ilmu. Dan tidak memudharatkan orang yang menyelisihi mereka.

(Liqaa’aat al-Baabil Maftuuh no. 899) []

banner

Sumber: Al-Fatawa Al-Muhimmah (Fatwa-fatwa Penting dalam Sehari-hari jilid 1) / Penulis: Syaikh Muhammad Shalih Al-Utsaimin / Penerbit: Pustaka as-Sunnah / Cetakan 2, Maret 2012

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

Ikuti kami di Facebook Humayro. Satu tempat untuk pembelajaran tiada henti. Pembelajaran setiap hari. Pembelajaran sepanjang hayat.

Subscribe

Subscribe my Newsletter for new blog posts, tips & new photos. Let's stay updated!

Humayro.com – Belajar Sepanjang Hayat.  Kantor : Jalan Taman Pahlawan Gg. Ikhlas No. 2 RT18/RW 08 Purwakarta 41119