Home NasihatApa Kesibukan dalam Hidup?

Apa Kesibukan dalam Hidup?

Allah akan mencabutmu (dari dunia inil dan akan mengganti kanmu dengan kaum pendosa. Mereka beristighfar kepada Allah, kemudian Allah mengampuni mereka.

by Abu Umar
0 comments 94 views

D kala hati dan mata ini telah terbuka, di kala jiwa ini telah mengungkapkan penye salannya, muncul di dalam hati saya semangat untuk memperbaiki diri. Lisan saya bahkan telah mengutuk batin ini atas semua waktu yang tersia-siakan. Saya lalu membi-sikkan pada jiwa ini, mengapa kesadaran itu tidaklah lestari adanya?

Saya merasakan, tatkala berada di dalam majelis, rasa cinta dan kasih dengan sesama begitu kuat. Namun, tatkala keluar dari majelis, berubahlah semuanya. Suasana begitu hampa.

Saya masih merasakan kesadaran bersemayam dalam jiwa. Hati pun masih kuasa memandang dengan jernih. Na-mun, godaan begitu banyak. Akal yang seharusnya digunakan untuk berpikir tentang kekuasaan Allah selalu ter-ombang-ambing kepentingan dunia. Hanyut dalam kepentingan hawa nafsu, sedangkan hati terbenam dalam dosa.

Badan menjadi tawanan hawa nafsu. Pikiran berkelana mencari makanan, mi-numan, dan apa yang ditimbun untuk kepentingan esok hari dan tahun-tahun yang akan datang.

BACA JUGA:  Jangan Bangga Melakukan Dosa

Oleh karenanya, setiap diri yang berpunya harus memer-hatikan bagaimana cara mengeluarkan kelebihan harta dan apa yang dimakannya, termasuk kelebihan biologis yang harus disalurkan lewat jalur pernikahan. Setiap orang harus sadar, bahwa itu semua mensyaratkan adanya mata pencarian baginya di dunia dan harus berusaha menelusuri jalan-jalan rezeki.

Ketika seseorang memiliki anak, pas-tilah ia memikirkan nasibnya. Berpikir adalah faktor penting untuk memperoleh dunia.

Jika seseorang datang ke sebuah majelis, hendaknya hadir bukan karena lapar, tetapi atas niat dan motivasi yang baik. Lupakan niatan-niatan duniawi.

Saat itulah hatinya dapat menerima nasihat, sehingga sadar atas apa yang pernah di perbuatnya dan tertarik untuk melakukan apa yang diketahuinya baik. la akan bangkit di atas perahu makrifat-Nya.

Saat itulah, hati mulai sadar atas perbuatan-perbuatan buruk yang pernah dilakukan, sehingga menyesal dan keingintahuan nya semakin bertambah besar.

Seandainya nafsu bisa lepas dari rayuan syah-wat, saya yakin ia bisa taat kepada Tuhannya. Seandainya ia benar-benar mencintai-Nya, sir-nalah keterasingannya dari manusia saat sibuk dengan Tuhannya.

Oleh karenanya, banyak orang zuhud yang melakukan khalwat dan sibuk menghancurkan segala dinding yang mengha-langinya menuju Allah. Sebesar itu usaha mereka, sebesar itu pulalah hasil yang dicapai-nya. Mereka ibarat mengetam sesuatu yang se-padan dengan apa yang disemainya dahulu.

Saya menemukan titik paling dalam dari kejadian ini. Seandainya jiwa terus sadar dan waspada, ia akan terus melaku-kan yang terbaik. Jika tidak, ia akan terjebak pada perasaan bangga, takabur. dan sikap meremehkan orang lain. la akan berkata, “Aku telah memiliki segalanya, aku berhak untuk berbuat apa sajal

Orang seperti itu akan membiarkan hawa nafsunya terjun ke dalam dosa. Pa dahal, kalau saja ia berdiri di pantai keren dahan hati dan jiwa pengabdian pada Allah akan selamatlah ia.

Demikianlah keadaan sebagian besar manusia yang berebut mencari kedu dukan di mana-mana. Saat seseorang telah menanam benih dan tumbuh dengan baik, ia harus mulai waspada agar tidak tergilas godaan yang menghancurkan. Dengan demikian, ibadahnya menjadi baik dan selamat.

Seandainya jiwa terus sadar dan waspada, ia akan terus melakukan yang terbaik. Jika tidak, ia akan terjebak pada perasaan bangga, takabur, dan sikap meremehkan orang lain

Dalam sebuah hadis sahih, Rasulullah bersabda, “Seandainya kamu tidak melakukan dosa apapun, Allah akan mencabutmu (dari dunia inil dan akan mengganti kanmu dengan kaum pendosa. Mereka beristighfar kepada Allah, kemudian Allah mengampuni mereka.”

BACA JUGA:  Hawa Nafsumu

Saya merenung tentang kebiasaan sekelompok orang yang mengeluarkan seluruh hartanya. Mereka adalah orang-orang yang mengaku aku zuhud dan bertawakal. Ternyata, apa yang mereka lakukan tidaklah diperintahkan syariat. Hal itu didasarkan atas sabda Rasulullah kepada al-Ka’ab bin Malik, “Tahanlah (jangan keluarkan semua) hartamu”, dan sabda kepada Saad, “Lebih baik engkau tinggalkan ahli warismu dalam keadaan kaya daripada engkau meninggalkan mereka dalam keadaan miskin dan meminta minta kepada manusia.”

Ada orang bodoh yang mengecam Abu Bakar karena menginfakkan seluruh hartanya tanpa sedikit pun tersisa. Saya katakan, Abu Bakar adalah seorang peda gang dan pribadi yang sangat luas perga ulannya. Bisa saja ia berutang kepada sahabat yang lain dan mudah menyambung hidupnya

Yang justru saya sayangkan, banyak orang yang tidak memiliki kualitas kepri badian seperti Abu Bakar dan hidupnya sangat pas pasan. Atau mungkin seperti Abu Bakar, tetapi kemudian berhenti be kerja, sehingga menjadi beban bagi orang lain dan meminta-meminta Mereka meyakini, bahwa itulah cara mendapat rezeki dari Allah. Orang semacam ini hatinya sangat bergantung pada makhluk dan makanannya pun didapat dari mereka. []

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

Ikuti kami di Facebook Humayro. Satu tempat untuk pembelajaran tiada henti. Pembelajaran setiap hari. Pembelajaran sepanjang hayat.

Subscribe

Subscribe my Newsletter for new blog posts, tips & new photos. Let's stay updated!

Humayro.com – Belajar Sepanjang Hayat.  Kantor : Jalan Taman Pahlawan Gg. Ikhlas No. 2 RT18/RW 08 Purwakarta 41119