Pertama sekali yang seharusnya dilakukan oleh qari'(orang yang belajar qiraah) dan muqri’ (orang yang mengajarkan qiraah) adalah meniatkan aktivitasnya ini dalam rangka mencari ridha Allah Ta’ala.
Allah berfirman:
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَوةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ )
“Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas, menjalankan agama untuk-Nya semata, melaksanakan shalat dan menunaikan zakat, dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar).” (Al-Bayyinah [98]: 5)
Diriwayatkan dari Rasulullah, dalam Shahihain:
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَ إِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى ..
“Sesungguhnya amalan itu bergantung pada niat dan sesungguhnya seseorang akan mendapatkan balasan sesuai dengan niatnya.”
BACA JUGA: 4 Tahapan Menikmati Bacaan Quran
Hadits ini merupakan prinsip dari agama Islam.
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia berkata: “Seseorang itu akan menghafal sesuai dengan kadar niatnya.”
Dalam riwayat lain: “Orang itu diberi sesuai dengan apa yang diniatkan.”
Menurut Huzaifah Al-Mar’asyi: “Ikhlas adalah samanya perbuatan hamba antara yang tampak dengan yang tersembunyi.”
Menurut Dzun Nun: “Ada tiga tanda ikhlas: memosisikan pujian sebagaimana celaan, tidak mengingat-ingat amalan-amalan baik yang telah dikerjakan, dan mengharap balasan amalan-amalan tersebut di akhirat.”
Fudhail bin Iyadh berkata: “Meninggalkan suatu amalan karena manusia merupakan riya’ dan melakukan suatu amalan karena manusia merupakan syirik, sedangkan ikhlas adalah Allah menghindarkanmu dari keduanya.”
Sahl At-Tustari berkata: “Orang-orang bijak merenungkan penjelasan tentang ikhlas, dan mereka tidak mendapatkan kalimat yang tepat kecuali: hendaknya gerak dan diamnya baik sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan didasari karena Allah semata, tidak tercampuri dengan maksud lain, baik itu hawa nafsu ataupun perkara-perkara keduniaan.”
As-Sariya berkata: “Janganlah sedikit pun kamu beramal karena manusia, meninggalkan suatu amalan karena manusia, menutupi sesuatu karena manusia, dan mengungkapkan sesuatu juga karena manusia.”
Al-Qusyairi berkata: “Kejujuran yang paling langka adalah samanya perbuatan yang tidak nampak dengan yang nampak.”
Harits Al-Muhasibi berkata: “Orang yang jujur ialah orang yang tidak peduli jika timbul kekaguman pada hati makhluk karena kebaikan hatinya, ia tidak suka tersingkap kebaikannya di hadapan manusia sekecil apa pun, dan ia tidak murka jika perbuatan buruknya terungkap di hadapan mereka; karena kemurkaannya dalam hal ini menunjukkan bahwa ia suka dipandang lebih di mata mereka, dan ini bukan merupakan akhlak para shidiqin (orang-orang yang jujur).”
BACA JUGA: Berhenti Membaca Quran ketika Mengantuk saat Qiyamul Lail
Yang lain berkata: “Jika Allah meminta kejujuranmu maka Dia memberimu cermin yang di dalamnya kamu bisa melihat hal-hal menakjubkan yang terdapat di dunia dan di akhirat.”
Tidak sedikit perkataan para salaf mengenai hal ini, kami hanya menyebutkan sesuai kebutuhan saja.
Beberapa perkataan mereka mengenai hal ini saya cantumkan beserta penjelasannya pada awal kitab Syarhul Muhadzdzab yang terhimpun di dalamnya adab-adab seorang pengajar, pelajar, fakih, dan mutafakih yang dibutuhkan oleh seorang penuntut ilmu. Wallahu a’lam. []
Sumber: At-Tibyan Adab Para Penghafal Al-Qur’an / Penulis: Imam Abu Zakaria Yahya bin Syaraf An-Nawawi / Penerbit: Maktabah Ibnu Abbas / Tahun terbit: 1426 H 2005 M
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

