Setiap manusia pasti pernah mengalami masa sulit—baik berupa kesedihan, kebingungan, tekanan ekonomi, maupun beban hutang. Hutang, selain menjadi masalah finansial, juga bisa menjadi beban mental dan spiritual yang mengganggu ketenangan hidup. Dalam Islam, masalah ini mendapat perhatian khusus. Rasulullah ﷺ mengajarkan umatnya doa-doa yang menjadi solusi, bukan hanya secara batin tetapi juga secara nyata dalam kehidupan.
Kisah Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu
Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan sebuah kisah yang mengandung pelajaran berharga. Suatu hari Rasulullah ﷺ masuk ke masjid dan menemukan Abu Umamah duduk di luar waktu shalat. Beliau bertanya, “Wahai Abu Umamah, kenapa aku melihatmu duduk di sini di luar waktu shalat?”
Abu Umamah menjawab, “Aku diliputi kebingungan karena hutangku, wahai Rasulullah.”
BACA JUGA: Doa Nabi Musa
Rasulullah ﷺ pun menawarkan solusi berupa doa yang apabila dibaca pagi dan sore akan menghilangkan kegundahan hati dan memudahkan pelunasan hutang:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kebingungan dan kesedihan, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan dan kemalasan, aku berlindung kepada-Mu dari sifat pengecut dan kikir, dan aku berlindung kepada-Mu dari lilitan hutang dan tekanan manusia.” (HR. Abu Dawud no. 1555)
Abu Umamah pun mengamalkan doa ini setiap pagi dan sore, hingga Allah ﷻ menghilangkan kebingungannya dan melunasi hutangnya.
Makna dan Hikmah Doa
Doa ini mencakup perlindungan dari delapan hal yang sering menjadi sumber penderitaan manusia:
Al-Hamm (kebingungan) – Pikiran yang kacau karena masalah yang belum terjadi.
Al-Hazan (kesedihan) – Perasaan duka akibat kejadian yang telah berlalu.
Al-‘Ajz (kelemahan) – Ketidakmampuan fisik atau mental untuk bertindak.
Al-Kasal (kemalasan) – Keengganan untuk berusaha.
Al-Jubn (pengecut) – Takut berlebihan yang menghalangi dari kebenaran.
Al-Bukhl (kikir) – Enggan memberi hak orang lain.
Ghalabat ad-Dain (tekanan hutang) – Beban finansial yang memberatkan.
Qahr ar-Rijal (kezaliman manusia) – Tekanan atau penindasan dari pihak lain.
Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa doa ini adalah bentuk permintaan perlindungan yang sempurna karena menggabungkan antara permohonan untuk terhindar dari kelemahan batin, sifat buruk, serta masalah eksternal yang menimpa manusia. (Madarij As-Salikin, 2/477)
Kaitan Doa dengan Usaha
Walaupun doa memiliki kekuatan besar, Islam menekankan bahwa doa harus dibarengi dengan usaha nyata. Rasulullah ﷺ bersabda: “Ikatlah untamu, kemudian bertawakkallah.” (HR. At-Tirmidzi no. 2517)
Artinya, setelah berdoa, seorang Muslim harus mengatur keuangan, mencari sumber pendapatan yang halal, dan menjauhi perilaku boros.
BACA JUGA: Nabi pada Aisyah: Apakah Kau Senang dengan Doaku Tadi, Humairah?
Kesimpulan
Doa yang diajarkan Rasulullah ﷺ kepada Abu Umamah bukan sekadar rangkaian kata, melainkan sarana spiritual untuk menguatkan hati, membersihkan pikiran, dan memberi dorongan untuk bertindak. Mengamalkannya secara rutin di pagi dan sore, disertai usaha yang sungguh-sungguh, menjadi kunci terbebas dari lilitan hutang dan kesedihan. []
Referensi:
Abu Dawud, Sunan Abu Dawud, no. 1555
Ibnul Qayyim, Madarij As-Salikin, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah
At-Tirmidzi, Sunan At-Tirmidzi, no. 2517
Al-Mubarakfuri, Tuhfatul Ahwadzi
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

