Dalam kehidupan, manusia sering kali melihat kelebihan yang dimiliki orang lain. Ada yang dikaruniai harta melimpah, ada pula yang diberi ilmu dan kebijaksanaan. Tidak jarang, kelebihan itu menimbulkan rasa iri di dalam hati.
Namun, Islam mengajarkan bahwa ada jenis kecemburuan yang justru dibenarkan, yaitu ketika seseorang menginginkan kebaikan seperti yang dimiliki orang lain tanpa berharap nikmat tersebut hilang darinya. Inilah yang dikenal sebagai ghibthah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
لَا حَسَدَ إِلَّا فِي اثْنَتَيْنِ، رَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالًا فَسُلِّطَ عَلَى هَلَكَتِهِ فِي الْحَقِّ، وَآخَرُ آتَاهُ اللَّهُ حِكْمَةً فَهُوَ يَقْضِي بِهَا وَيُعَلِّمُهَا
“Tidak boleh hasad kecuali dalam dua hal: seseorang yang Allah beri harta, lalu ia menggunakannya untuk membelanjakan harta itu di jalan yang benar; dan seseorang yang Allah beri hikmah, kemudian ia memutuskan perkara dengannya dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari no. 7316).
BACA JUGA: Hadist: Nafkah untuk Keluarga Bernilai Sedekah
Hadis ini menjelaskan dua nikmat yang patut menjadi motivasi bagi seorang Muslim untuk berlomba-lomba dalam kebaikan.
1. Harta yang digunakan untuk kebenaran
Memiliki banyak harta bukanlah sesuatu yang tercela. Yang menjadi persoalan adalah bagaimana seseorang memperoleh dan menggunakannya.
Orang yang patut dicontoh adalah mereka yang diberi kelapangan rezeki, lalu menggunakan hartanya untuk perkara yang diridai Allah. Ia menunaikan zakat, membantu fakir miskin, menyantuni anak yatim, mendukung dakwah, serta memenuhi kebutuhan keluarganya dengan cara yang baik.
Harta di tangannya tidak membuatnya sombong atau lalai. Sebaliknya, semakin besar rezeki yang diterima, semakin besar pula semangatnya untuk berbagi dan berbuat kebaikan.
2. Ilmu yang diamalkan dan diajarkan
Nikmat kedua adalah ilmu dan hikmah. Orang yang diberi pemahaman oleh Allah tidak menyimpan ilmunya hanya untuk dirinya sendiri. Ia mengamalkannya dalam kehidupan, menggunakannya untuk memutuskan perkara secara adil, serta mengajarkannya agar orang lain memperoleh manfaat.
Ilmu yang bermanfaat bukan sekadar membuat seseorang dihormati atau dipandang tinggi. Ilmu seharusnya membimbing pemiliknya semakin dekat kepada Allah dan memberi manfaat bagi sesama.
BACA JUGA: Hadist: Janganlah Lalai Mengingat Allah saat Kondisi Lapang
Berlomba dalam kebaikan, bukan dalam kedengkian
Hadis ini mengajarkan bahwa seorang Muslim seharusnya tidak sibuk menginginkan hilangnya nikmat orang lain. Sebaliknya, jadikan kelebihan mereka sebagai inspirasi untuk meningkatkan amal.
Jika melihat orang kaya yang dermawan, tumbuhkan keinginan untuk menjadi dermawan. Jika melihat orang berilmu yang mengajarkan kebaikan, tumbuhkan semangat untuk belajar dan mengamalkan ilmu.
Sebab, yang terpenting bukanlah seberapa banyak harta atau seberapa tinggi ilmu yang kita miliki, melainkan sejauh mana semua itu digunakan untuk mencari keridaan Allah. []
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311