Pembahasan mengenai kemunculan Imam Mahdi merupakan salah satu tema yang banyak dibicarakan dalam kajian akidah dan tanda-tanda akhir zaman. Sejumlah hadis menyebutkan tentang kemunculan seorang pemimpin dari kalangan Ahlulbait Nabi ﷺ yang akan menegakkan keadilan ketika kezaliman meluas.
Namun, untuk memahami persoalan ini dengan benar, kita perlu menelaah hadis-hadis yang berkaitan dengannya melalui penjelasan para ulama. Perlu dibedakan antara hadis yang sahih, hasan, lemah, dan palsu, karena tidak semua riwayat memiliki derajat yang sama.
Daftar isi
Pandangan Syekh Ibnu Baz tentang Hadis Imam Mahdi
Syekh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz menjelaskan bahwa hadis-hadis tentang Imam Mahdi sangat banyak dan saling menguatkan. Menurut beliau, banyak ulama menilai kumpulan riwayat tersebut mencapai derajat mutawatir secara maknawi, yakni memiliki banyak jalur periwayatan dengan redaksi yang beragam, tetapi mengarah pada makna pokok yang sama.
Beliau menerangkan bahwa Imam Mahdi yang dimaksud adalah Muhammad bin Abdullah, dari keturunan Hasan bin Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhuma. Kemunculannya pada akhir zaman dipahami sebagai bagian dari ketetapan Allah untuk menegakkan keadilan, menghilangkan kezaliman, serta menyebarkan kebaikan di tengah umat.
BACA JUGA: Nabi Isa dan Penegakan Syariat Islam di Akhir Zaman
Derajat Hadis tentang Imam Mahdi
Setelah menelaah berbagai riwayat, Ibnu Baz menyatakan pandangan yang sejalan dengan sejumlah ulama, seperti asy-Syaukani dan Ibnul Qayyim. Hadis-hadis tentang Imam Mahdi memiliki derajat yang beragam: ada yang sahih, hasan, lemah, dan ada pula yang palsu.
Riwayat yang sahih atau hasan dapat dijadikan pegangan sesuai kaidah ilmu hadis. Adapun riwayat yang lemah perlu diteliti lebih lanjut, termasuk apakah jalur-jalurnya dapat saling menguatkan. Banyaknya riwayat tidak serta-merta menjadikan setiap hadis sahih, sebab kualitas sanad dan keadaan para perawinya tetap harus diperhatikan.
Menurut pandangan Ibnu Baz, kumpulan riwayat yang dapat diterima menjadi landasan bagi keyakinan tentang kemunculan Imam Mahdi pada akhir zaman. Beliau juga menyebutkan bahwa mayoritas ulama menetapkan adanya Imam Mahdi, meskipun terdapat perbedaan pendapat di kalangan sebagian ulama.
Banyak Sahabat dan Kitab Meriwayatkan Hadis Imam Mahdi
Abdul Muhsin bin Hamd al-‘Abbad melakukan penelitian mengenai riwayat-riwayat Imam Mahdi. Dalam penelitiannya, ia menyebutkan bahwa terdapat 26 sahabat yang meriwayatkan hadis berkaitan dengan Imam Mahdi dan sekitar 36 kitab yang memuat riwayat-riwayat tersebut.
Hadis-hadis itu terdapat dalam berbagai karya ulama hadis, di antaranya kitab-kitab Sunan, Musnad Ahmad, Sahih Ibnu Hibban, dan al-Mustadrak karya al-Hakim. Keberadaan riwayat dalam kitab-kitab tersebut menjadi bahan kajian para ahli untuk meneliti sanad, matan, serta derajat masing-masing hadis.
Ulama yang Mengumpulkan Hadis tentang Imam Mahdi
Sejumlah ulama memberikan perhatian khusus terhadap hadis-hadis mengenai Imam Mahdi. Mereka mengumpulkan berbagai jalur periwayatan, membahas sanad, dan menelaah kandungan riwayatnya.
Di antara karya yang disebutkan dalam pembahasan ini ialah al-‘Urf al-Wardi fi Akhbar al-Mahdi karya as-Suyuthi, al-Fitan wa al-Malahim karya Ibnu Katsir, serta al-Qaul al-Mukhtashar fi ‘Alamat al-Mahdi al-Muntazhar karya Ibnu Hajar al-Haitami. Selain itu, terdapat pula karya dan pembahasan dari ulama lain, seperti al-Hafizh Abu Nu‘aim dan al-Muttaqi al-Hindi.
Kumpulan karya tersebut menunjukkan bahwa pembahasan tentang Imam Mahdi telah menjadi perhatian dalam tradisi keilmuan Islam. Para ulama meneliti riwayat-riwayatnya dengan pendekatan yang beragam, sehingga penting untuk membaca setiap pendapat berdasarkan sumber dan argumentasinya.
Penilaian Para Ulama terhadap Hadis Imam Mahdi
Sejumlah ulama hadis dan ulama Islam membahas serta menerima sebagian riwayat tentang Imam Mahdi. Nama-nama yang disebut dalam naskah ini antara lain al-Hakim, adz-Dzahabi, Abu Nu‘aim, al-Qurthubi, Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim, Ibnu Hajar al-‘Asqalani, dan as-Suyuthi.
Meski demikian, penilaian terhadap riwayat tertentu perlu dilihat secara terperinci. Seorang ulama dapat menilai suatu hadis sahih, sementara ulama lain menilai sanad atau jalur tertentu berbeda. Karena itu, sikap ilmiah menuntut kita membedakan antara penetapan umum mengenai tema Imam Mahdi dan penilaian terhadap setiap hadis yang digunakan untuk membahasnya.
BACA JUGA: Fitnah Dajjal: Meminta Pertolongan dari Setan
Pelajaran yang Dapat Diambil
Pembahasan mengenai Imam Mahdi mengajarkan pentingnya merujuk kepada Al-Qur’an, hadis, dan penjelasan ulama yang memiliki keahlian dalam ilmu hadis. Kita tidak sepatutnya menerima semua riwayat tanpa pemeriksaan, tetapi juga tidak tergesa-gesa menolak suatu pembahasan hanya karena terdapat riwayat yang lemah di dalamnya.
Sikap yang tepat adalah mempelajari dalil dengan hati-hati, menghormati perbedaan penilaian ilmiah, dan tidak menyampaikan riwayat yang belum jelas derajatnya sebagai sesuatu yang pasti berasal dari Nabi ﷺ. Pengetahuan tentang tanda-tanda akhir zaman hendaknya mendorong kita memperbaiki iman dan amal, bukan menimbulkan perselisihan tanpa dasar yang kuat.[]