Home IbadahWaktu Shalat Syuruq

Waktu Shalat Syuruq

Dua rakaat Isyraq menjadi bentuk penghormatan kepada awal hari dan bukti cinta kepada Sang Pencipta.

by Abu Umar
0 comments 289 views

Dalam tradisi fiqih Islam, Shalat Isyraq — atau dikenal juga dengan Shalat Syuruq — adalah salah satu amalan istimewa yang dilakukan setelah terbitnya matahari. Para ulama fiqih dari mazhab Syafi’iyyah memberikan perhatian besar terhadap shalat ini.

Sebagian ulama Syafi’iyyah menyebut bahwa Shalat Isyraq adalah bagian dari Shalat Dhuha, sedangkan sebagian lainnya berpendapat bahwa keduanya berbeda dalam waktu pelaksanaan dan konteksnya.

Perbedaan Pandangan di Kalangan Ulama

Imam Ar-Ramli rahimahullah menjelaskan: “Adh-Dhuha… ia adalah Shalat Isyraq, sebagaimana yang difatwakan oleh ayah beliau, Imam Syihabuddin Ar-Ramli rahimahullah.” (Nihayatul Muhtaj)

Namun, Ibnu Hajar Al-Haitami rahimahullah memiliki pandangan lain. Beliau menegaskan bahwa Shalat Isyraq berbeda dengan Shalat Dhuha, sebagaimana dinukil oleh Asy-Syarwani dalam Hasyiyah-nya terhadap Tuhfatul Muhtaj.

BACA JUGA:  Rahasia Shalat Dhuha

Perbedaan ini menunjukkan betapa luasnya pemahaman para ulama dalam mengkaji ibadah-ibadah sunnah. Namun, keduanya sepakat bahwa shalat di waktu awal setelah matahari terbit adalah amalan yang sangat mulia dan berpahala besar.

Dalil dan Keutamaannya

Dalil utama tentang Shalat Isyraq berasal dari hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Siapa saja yang shalat Subuh berjamaah, kemudian duduk berdzikir kepada Allah hingga matahari terbit, lalu shalat dua rakaat, maka baginya pahala seperti pahala haji dan umrah yang sempurna, sempurna, sempurna.” (HR. At-Tirmidzi, hasan)

Hadits ini menunjukkan keagungan pahala bagi orang yang menjaga waktunya setelah Subuh, tidak terburu-buru meninggalkan masjid, tetapi mengisinya dengan dzikir, doa, dan bacaan Al-Qur’an hingga waktu syuruq tiba.

Imam Ath-Thibi rahimahullah menjelaskan: “Kemudian ia shalat setelah matahari naik setinggi tombak, yaitu keluar dari waktu yang terlarang. Shalat ini dinamakan Shalat Isyraq, dan ia adalah awal waktu Shalat Dhuha.” (Mir’atul Mafatih, Al-Mubarakfuri)

Waktu “matahari naik setinggi tombak” diperkirakan sekitar 15 menit setelah terbitnya matahari, karena waktu itu telah keluar dari larangan shalat yang disebut dalam hadits ‘Uqbah bin ‘Amir Al-Juhani radhiyallahu ‘anhu:

“Tiga waktu Rasulullah ﷺ melarang kami shalat atau mengubur jenazah: ketika matahari terbit hingga meninggi, ketika matahari tepat di tengah langit sampai condong ke barat, dan ketika hampir terbenam hingga tenggelam.” (HR. Muslim)

Rahasia di Balik Shalat Isyraq

Shalat Isyraq bukan sekadar dua rakaat biasa. Ia adalah simbol kesungguhan seorang hamba dalam menjaga dzikir dan hubungan dengan Allah sejak awal hari.
Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullah menjelaskan:

“Barang siapa yang memulai harinya dengan ketaatan, maka ia berada dalam penjagaan dan keberkahan hingga malam.” (Lathaif al-Ma’arif, hal. 275)

Shalat ini juga merupakan manifestasi dari rasa syukur. Karena siapa yang duduk setelah Subuh untuk berdzikir, berarti hatinya sibuk dengan Allah, bukan dengan urusan dunia. Ketika ia berdiri dua rakaat di waktu matahari terbit, ia seakan menyambut hari dengan sujud dan kerendahan diri.

Imam Al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah pernah berkata: “Tanda syukur kepada Allah adalah dengan menggunakan nikmat-Nya untuk beribadah kepada-Nya.”

Dan waktu terbitnya matahari adalah nikmat besar, karena saat itu langit bersih, udara segar, dan hati mudah tersentuh oleh keindahan ciptaan Allah. Maka dua rakaat Isyraq menjadi bentuk penghormatan kepada awal hari dan bukti cinta kepada Sang Pencipta.

BACA JUGA:  Engkau dan Shalat Tahajjud-mu

 Kesimpulan

Perbedaan pendapat antara Shalat Isyraq dan Dhuha tidaklah menjadi penghalang bagi siapa pun untuk meraih keutamaannya. Karena yang terpenting adalah mengamalkan hadits Nabi ﷺ yang menjanjikan pahala besar bagi siapa yang menjaga duduknya setelah Subuh dalam dzikir hingga matahari terbit, lalu shalat dua rakaat.

Seperti dikatakan oleh Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah: “Bukanlah amalan yang banyak yang menjadikan hati hidup, tetapi amalan yang dilakukan dengan ikhlas dan istiqamah.”

Maka siapa yang menjaga dua rakaat di waktu Isyraq dengan niat yang tulus, semoga Allah menulis baginya pahala haji dan umrah yang sempurna, serta menjadikan harinya penuh cahaya dan keberkahan.

Wallāhu a‘lam. []

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

Ikuti kami di Facebook Humayro. Satu tempat untuk pembelajaran tiada henti. Pembelajaran setiap hari. Pembelajaran sepanjang hayat.

Subscribe

Subscribe my Newsletter for new blog posts, tips & new photos. Let's stay updated!

Humayro.com – Belajar Sepanjang Hayat.  Kantor : Jalan Taman Pahlawan Gg. Ikhlas No. 2 RT18/RW 08 Purwakarta 41119