Ketahuilah bahwa penyakit yang sudah kronis tidak akan mudah disembuhkan kecuali dengan obat yang kuat.
Jika penyakit telah mendarah daging dalam jiwa seseorang, penyakit itu pun dapat terbawa ke dalam shalat.
Gambaran sederhananya seperti seseorang yang berteduh di bawah sebuah pohon karena berharap pikirannya menjadi jernih. Namun, suara burung justru mengganggunya. Ia kemudian menggunakan sebatang kayu untuk mengusir burung-burung tersebut.
Masalahnya, burung-burung itu akan kembali lagi karena pohon tersebut telah menjadi tempat tinggal mereka.
Situasi seperti ini tidak akan pernah berakhir. Jika benar-benar ingin terbebas dari gangguan tersebut, pohonnya harus ditebang.
BACA JUGA: Jadikan Sabar dan Shalat sebagai Penolongmu
Demikian pula dengan syahwat. Jika syahwat telah tumbuh tinggi dan bercabang-cabang dalam jiwa seseorang, ia akan terus tertarik memikirkannya. Seperti burung yang tertarik pada pepohonan dan lalat yang tertarik pada tempat-tempat yang penuh kotoran.
Umar an-Nafis berpendapat bahwa penyakit yang menyebabkan munculnya syahwat yang kuat semacam itu adalah karena kecintaan kepada dunia atau *hubbuddunya*.
Amir bin Abd Qais pernah ditanya, “Apakah engkau pernah berbicara kepada dirimu sendiri tentang urusan dunia di dalam shalat?”
Ia menjawab, “Aku lebih senang ada ujung tombak yang menyasar kepadaku daripada memikirkan urusan duniawi di dalam shalatku.”
Membuang kecintaan kepada dunia memang bukan perkara mudah, apalagi membencinya secara penuh. Namun, seseorang tetap harus berusaha sekuat tenaga untuk mengurangi keterikatan hatinya kepada dunia. Allah Maha Memberi taufik dan Maha Menolong.
**Ketiga, mengagungkan Allah.**
Mengagungkan Allah dapat ditempuh dengan mengenal kemuliaan-Nya sekaligus menyadari betapa rendahnya diri kita di hadapan-Nya. Dari sinilah lahir ketundukan dan kepasrahan kepada Allah.
Di antara bentuk pengagungan kepada Allah adalah memiliki rasa harap kepada-Nya. Rasa harap dapat berjalan bersama rasa takut kepada Sang Pencipta.
Seorang mukmin dianjurkan mengharapkan pahala ketika melaksanakan shalat. Ketika mendengar panggilan muazin, ia segera menjawabnya dengan penuh khusyuk.
Ketika menutup aurat untuk menghadap Allah, hendaknya ia tidak hanya mengingat aurat tubuh, tetapi juga mengingat aib-aib yang tersembunyi di dalam hati.
Aib tersebut tidak diketahui oleh manusia, tetapi diketahui oleh Allah. Tidak ada yang mampu menutup aib tersebut selain Dia.
Karena itu, seseorang perlu menghadirkan tiga hal dalam hatinya: penyesalan terhadap dosa dan aib, rasa malu kepada Allah, serta kekhawatiran terhadap siksa-Nya di akhirat.
Ketika telah menghadap kiblat, seseorang memalingkan dirinya dari berbagai arah lain dan fokus menghadap Baitullah. Demikian pula hatinya harus diarahkan kepada Allah dan dipalingkan dari selain-Nya, seperti syahwat dan berbagai penyakit hati.
Jika telah bertakbir dengan takbiratul ihram, jangan sampai hati berdusta kepada lisan.
Jika ada sesuatu yang dianggap lebih besar daripada Allah di dalam hati, maka ucapan “Allahu Akbar” belum benar-benar dihayati.
BACA JUGA: Khusyuk, Ruh dari Shalat
Begitu pula ketika membaca, “A’udzu billahi minasy-syaithanir-rajim.” Maknanya adalah memohon perlindungan kepada Allah. Jika hati tidak benar-benar berlindung kepada-Nya, seseorang perlu memperbaiki penghayatan terhadap ucapannya.
Demikian seterusnya. Pahami setiap bacaan dalam shalat dan hadirkan pemahamannya di dalam hati.
Ketika membaca *Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin*, hadirkan rasa syukur kepada Allah. Ketika membaca *Ar-Rahmanir-Rahim*, hadirkan kesadaran terhadap kelembutan dan kasih sayang-Nya. Ketika membaca *Maliki Yaumiddin*, hadirkan keagungan Allah sebagai Penguasa Hari Pembalasan.
Dengan begitu, shalat tidak sekadar menjadi rangkaian gerakan dan bacaan, tetapi menjadi perjumpaan seorang hamba dengan Rabb-nya dalam keadaan hati yang tunduk, takut, berharap, dan penuh pengagungan. []
Sumber: Mukhtashar Minhaj al-Qashidîn (Rahasia Hidup Orang-orang Shaleh) / Penulis: Ibnu Qudamah / Penerbit: al-Maktab al-Islami (Khatuliswa Pers) / Tahun Terbit ?/Cet.: 2000/Kesembilan
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

