Home Kisah Nabi-nabiKerinduan Nabi Adam kepada Surga dan Tuntunan Mengurus Jenazah

Kerinduan Nabi Adam kepada Surga dan Tuntunan Mengurus Jenazah

Ada juga dengan cara mendirikan bangunan besar dan megah seperti piramida, lalu mayit dikuburkan di dalamnya setelah meletakkan makanan, minuman, perhiasan, dan permata.

by Abu Umar
0 comments 4 views

Bapak kita, Adam, menjelang wafatnya menginginkan buah-buahan dari surga. Ini menjadi dalil betapa Adam sangat mencintai surga, memiliki kerinduan untuk kembali. Bagaimana mungkin beliau tidak merindukan surga, sedangkan beliau sudah pernah tinggal di dalamnya, melihat kenikmatan surga, merasakan, dan menikmatinya beberapa waktu!

Boleh jadi Nabi Adam yang menginginkan buah-buahan dari surga karena beliau sudah merasa ajalnya sudah dekat. Bukankah telah disebutkan pada beberapa hadis bahwa beliau mengetahui berapa tahun umurnya dan selalu menghitung berapa tahun usianya yang telah berlalu?

Tampaknya Nabi Adam sudah mengetahui bahwa batas usianya akan habis dan semakin dekatnya waktu untuk berpindah ke alam akhirat. Ditambah lagi, Nabi Adam sudah mengetahui bahwa anak-anaknya tidak mungkin bisa memenuhi permintaannya. Bagaimana mungkin mereka bisa mencapai surga dan memetik buahnya?

Mereka pun mengetahui hal itu, akan tetapi demi berbakti kepada bapak mereka, mereka pun pergi mencari untuk memenuhi permintaannya.

BACA JUGA:  Meninggalnya Nabi Adam ‘Alaihissalam

Belumlah langkah kaki mereka menjauh dari bapak mereka, mereka bertemu dengan sekelompok malaikat yang menjelma seperti sekelompok laki-laki, membawa perlengkapan yang dibutuhkan untuk mengurusi mayit dan menguburkannya.

Ya, mereka menjelma seperti kaum Muslimin sekarang ini ketika ada seorang Muslim yang meninggal dunia; membawa kain kafan, wangi-wangian, keranda, kapak, dan sekop untuk menggali kuburan.

Setelah menyampaikan kepada anak-anak Nabi Adam tentang tujuan dan maksud kedatangan mereka, lalu menyuruh anak-anak Nabi Adam untuk kembali kepada bapak mereka karena batas usianya telah habis dan ajalnya sudah datang.

Ketika Malaikat Maut datang untuk mencabut nyawa Adam, seketika itu juga Hawa mengetahui dan langsung bangkit hendak melindungi Adam. Nampaknya ia juga ingin membujuk Adam agar lebih memilih dunia (umur yang panjang). Para rasul tidaklah mereka diambil ruhnya hingga diberi pilihan, sebagaimana Rasulullah ﷺ telah memberitahukannya kepada kita.

Akan tetapi, Adam tidak menoleh sama sekali, bahkan menghardiknya seraya berkata, “Menjauhlah engkau dariku, karena sesungguhnya aku didatangkan (ke dunia) ini akibat dari dirimu.”

Ungkapan itu mengisyaratkan peristiwa terdahulu akibat bujukan untuk makan buah dari pohon yang dilarang.

Malaikat mencabut ruh Adam, mengurusi jenazahnya hingga penguburannya. Anak-anaknya melihat dan memperhatikan semua proses tersebut; bagaimana para malaikat memandikannya, mengafaninya, memberikan wewangian, menggali kubur, dan membuatkan lubang lahadnya.

Setelah itu, malaikat menyalatkannya, memasukkannya ke kubur dan liang lahadnya, lalu meletakkan sejenis batu bata untuk menutupi liang lahadnya dan keluar dari lubang kubur.

Barulah setelah itu mereka menimbunnya dengan tanah dan berkata kepada anak-anaknya, “Wahai anak keturunan Adam, ini adalah sunnah kalian,” yakni cara yang Allah pilih bagaimana mengurusi mayit di antara kalian.

BACA JUGA:  Surganya Nabi Adam Alaihis Salam

Dengan demikian, cara ini menjadi syariat yang berlaku secara umum atas setiap rasul dan semua orang beriman di muka bumi sepanjang masa. Setiap metode pengurusan jenazah yang menyelisihinya berarti menyelisihi petunjuk Allah, disesuaikan dengan penyimpangannya dari petunjuk Allah.

Barang siapa yang mengetahui tuntunan kaum Muslimin terhadap orang yang meninggal di antara mereka yang telah diajarkan Rasulullah ﷺ kepada mereka, tentu akan menemukan kesesuaian dengan apa yang dilakukan para malaikat terhadap Adam.

Akan tetapi, tuntunan itu diselisihi oleh kebanyakan manusia sepanjang sejarah. Di antara mereka ada yang dengan cara membakar orang yang meninggal di antara mereka. Ada juga dengan cara mendirikan bangunan besar dan megah seperti piramida, lalu mayit dikuburkan di dalamnya setelah meletakkan makanan, minuman, perhiasan, dan permata.

Di antara mereka ada yang meletakkan mayit di dalam peti yang terbuat dari batu atau kayu. Semua itu membutuhkan biaya yang besar, menyia-nyiakan tenaga bukan pada tempatnya. Semua itu menyelisihi petunjuk yang Allah syariatkan kepada anak keturunan Adam yang meninggal. []

Sumber: Kisah-kisah dalam Hadist Nabi Versi Tadabbur (Shahih Al-Qashash An-Nabiwi) / Penulis: Dr. Umar Sulaiman ‘Abdullah Al-Asyqar / Penerbit: Dar An-Nafa’is, Yordania / Cetakan Pertama: 1418 H/1997 M

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

Ikuti kami di Facebook Humayro. Satu tempat untuk pembelajaran tiada henti. Pembelajaran setiap hari. Pembelajaran sepanjang hayat.

Subscribe

Subscribe my Newsletter for new blog posts, tips & new photos. Let's stay updated!

Humayro.com – Belajar Sepanjang Hayat.  Kantor : Jalan Taman Pahlawan Gg. Ikhlas No. 2 RT18/RW 08 Purwakarta 41119