Para nabi dan rasul adalah manusia pilihan yang dimuliakan oleh Allah ﷻ. Setiap nabi memiliki kedudukan yang mulia dan kisah kehidupan yang mengandung pelajaran bagi umat manusia. Karena itu, seorang Muslim hendaknya menjaga lisannya ketika membicarakan para nabi dan tidak merendahkan salah seorang di antara mereka.
Rasulullah ﷺ mengingatkan umatnya agar tidak menganggap diri lebih baik daripada Nabi Yunus bin Matta عليه السلام. Peringatan ini mengajarkan kerendahan hati, adab dalam menyikapi kisah para nabi, serta larangan merendahkan kedudukan mereka hanya karena ujian atau peristiwa yang dialami dalam kehidupan mereka.
BACA JUGA: Hadist: Janganlah Lalai Mengingat Allah saat Kondisi Lapang
Hadis tentang Nabi Yunus bin Matta عليه السلام
Imam al-Bukhari رحمه الله meriwayatkan hadis ini dalam Kitab at-Tauhid, pada bab Dzikir an-Nabiyyi ﷺ wa Riwayatuhu ‘an Rabbihi, sebagaimana disebutkan dalam rujukan naskah, jilid IX, halaman 157.
Dari Abdullah bin Abbas رضي الله عنهما, Nabi ﷺ meriwayatkan firman Rabb-nya:
“Tidak sepantasnya seorang hamba mengatakan bahwa dirinya lebih baik daripada Yunus bin Matta.”
Hadis ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, pada pembahasan mengenai keutamaan Nabi Musa عليه السلام. Dalam riwayat tersebut, Rasulullah ﷺ menyampaikan larangan seorang hamba mengatakan bahwa dirinya lebih baik daripada Nabi Yunus bin Matta عليه السلام.
Perbedaan redaksi dalam sejumlah jalur periwayatan tidak mengubah pesan utama hadis tersebut, yaitu larangan merendahkan Nabi Yunus عليه السلام atau menganggap diri lebih utama daripadanya.
Mengenal Para Perawi Hadis
Dalam penjelasan Syarh al-Qasthalani, jilid X, halaman 465, disebutkan sejumlah keterangan mengenai para perawi hadis ini.
Hafs bin Umar adalah Hafs bin al-Harits bin Sakhbarah al-Azdi, yang dikenal dengan kunyah Abu Umar al-Haudhi. Syu’bah yang disebutkan dalam sanad adalah Syu’bah bin al-Hajjaj, sedangkan Qatadah adalah Qatadah bin Di’amah as-Sadusi.
Pada jalur sanad lainnya, nama Khalifah merujuk kepada Khalifah bin Khayyath, Sa’id adalah Sa’id bin Abi ‘Arubah, dan Abu al-‘Aliyah adalah ar-Riyahi.
Dalam ilmu hadis, huruf ha (ح) terkadang digunakan sebagai tanda perpindahan dari satu jalur sanad ke jalur sanad lainnya. Istilah ini disebut tahwil, yaitu peralihan jalur periwayatan. Apabila dua jalur bertemu pada seorang perawi yang sama, penyebutan sanad dapat disusun sedemikian rupa untuk menunjukkan pertemuan tersebut.
Keterangan mengenai sanad membantu pembaca memahami jalur periwayatan hadis sekaligus mengenali para perawi yang menyampaikan sabda Rasulullah ﷺ.
Larangan Merendahkan Kedudukan Nabi Yunus
Sabda Rasulullah ﷺ tersebut menegaskan bahwa tidak pantas bagi seseorang menganggap dirinya lebih baik daripada Nabi Yunus bin Matta عليه السلام. Larangan ini juga menjadi peringatan agar umat Islam tidak merendahkan kedudukan beliau ketika membicarakan kisahnya di dalam Al-Qur’an.
Kisah Nabi Yunus عليه السلام yang ditelan oleh ikan merupakan salah satu peristiwa besar dalam perjalanan dakwah beliau. Namun, peristiwa tersebut tidak boleh dijadikan alasan untuk meremehkan kedudukan beliau sebagai nabi Allah.
Para nabi menghadapi berbagai ujian dalam menjalankan tugas yang diberikan kepada mereka. Ujian tersebut tidak serta-merta menghapus kemuliaan dan kedudukan kenabian mereka. Oleh karena itu, seorang Muslim hendaknya memahami kisah para nabi dengan ilmu, adab, dan sikap yang jauh dari penghinaan.
Kerendahan Hati Rasulullah ﷺ
Para ulama memberikan beberapa penjelasan mengenai hadis ini. Di antaranya, hadis tersebut menunjukkan tingginya kerendahan hati Rasulullah ﷺ dan pentingnya menjaga adab ketika membicarakan keutamaan para nabi.
Ada pula penjelasan yang menekankan bahwa larangan tersebut ditujukan kepada siapa pun agar tidak menganggap dirinya lebih utama daripada Nabi Yunus عليه السلام, sekalipun ia memiliki banyak ilmu, rajin beribadah, atau mempunyai keutamaan lainnya.
Kedudukan kenabian merupakan karunia Allah ﷻ yang tidak dapat disamakan begitu saja dengan pencapaian seseorang melalui ilmu maupun amal. Karena itu, seseorang tidak boleh menggunakan amal ibadah atau kelebihan yang dimilikinya sebagai alasan untuk merendahkan para nabi.
Rasulullah ﷺ juga bersabda dalam hadis lain:
“Aku adalah pemimpin anak Adam pada hari Kiamat.”
Hadis tersebut menunjukkan keutamaan Rasulullah ﷺ. Namun, pengakuan tentang keutamaan beliau tidak boleh dijadikan alasan untuk merendahkan nabi lainnya. Mengimani keutamaan Rasulullah ﷺ dan menghormati seluruh nabi merupakan dua hal yang berjalan bersama.
BACA JUGA: Hadist: Perkara Seorang Muslim, Pasti Selalu yang Terbaik
Mengambil Pelajaran dari Kisah Para Nabi
Kisah para nabi dalam Al-Qur’an bukanlah bahan untuk merendahkan mereka, melainkan sumber pelajaran bagi orang-orang beriman. Kisah Nabi Yunus عليه السلام mengajarkan pentingnya kembali kepada Allah, memohon pertolongan-Nya, dan menyadari bahwa manusia selalu membutuhkan rahmat serta bimbingan-Nya.
Seorang Muslim hendaknya berhati-hati dalam menilai orang lain, terlebih ketika membicarakan para nabi yang dimuliakan oleh Allah ﷻ. Banyaknya ilmu, amal, atau kelebihan tidak seharusnya membuat seseorang merasa paling tinggi dan meremehkan orang lain.
Hadis ini mengingatkan kita agar senantiasa bersikap rendah hati, menjaga lisan, serta menghormati kedudukan seluruh nabi dan rasul. Semoga Allah ﷻ membimbing kita untuk memahami ajaran agama dengan benar dan menghiasi hati kita dengan adab serta kerendahan hati.[]
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

