Home KajianImam Asy-Syafi’i: Hadis Nabi Lebih Utama daripada Pendapatku

Imam Asy-Syafi’i: Hadis Nabi Lebih Utama daripada Pendapatku

Seorang Muslim hendaknya belajar kepada ulama yang terpercaya dan tidak tergesa-gesa mengambil kesimpulan hanya berdasarkan pemahaman pribadi.

by Abu Umar
0 comments 5 views

Imam Asy-Syafi’i rahimahullah merupakan salah satu imam besar yang memiliki perhatian sangat besar terhadap sunnah Rasulullah ﷺ. Meskipun dikenal sebagai ulama dengan keluasan ilmu dan memiliki mazhab fikih yang diikuti hingga hari ini, beliau tidak pernah mengajarkan kepada murid-muridnya untuk mengikuti pendapatnya secara membabi buta.

Beliau berkata, “Jika kalian melihatku mengatakan suatu perkataan, lalu ada hadis sahih dari Nabi ﷺ yang bertentangan dengannya, maka ketahuilah bahwa akalku telah hilang.”

Perkataan tersebut menggambarkan betapa tingginya kedudukan sunnah Rasulullah ﷺ dalam pandangan Imam Asy-Syafi’i. Beliau menyadari bahwa manusia memiliki keterbatasan. Seorang ulama sekalipun dapat keliru dalam berijtihad atau belum mengetahui suatu hadis.

BACA JUGA:  Tanda-Tanda Kebahagiaan Sejati Menurut Imam Asy-Syathiby

Dalam perkataan lainnya, beliau menegaskan, “Setiap apa yang aku katakan, lalu ada hadis sahih dari Rasulullah ﷺ yang berbeda dengan perkataanku, maka hadis Nabi lebih utama dan janganlah kalian bertaklid kepadaku.”

Pesan ini menunjukkan kerendahan hati seorang ulama. Imam Asy-Syafi’i tidak ingin kedudukan atau pendapatnya menjadi penghalang seseorang untuk menerima kebenaran. Ketika terdapat dalil yang sahih, maka dalil tersebut harus mendapatkan kedudukan yang lebih utama.

Beliau juga berkata, “Setiap hadis dari Rasulullah ﷺ adalah perkataanku meskipun kalian tidak mendengarnya dariku.”

Nasihat ini menjadi pelajaran penting bagi setiap Muslim agar tidak menjadikan pendapat manusia sebagai sesuatu yang mutlak. Menghormati ulama adalah bagian dari adab dalam menuntut ilmu, tetapi kecintaan kepada ulama tidak boleh berubah menjadi fanatisme yang membuat seseorang menolak kebenaran.

Di sisi lain, memahami hadis juga bukan perkara sederhana. Menentukan kesahihan hadis, memahami maknanya, mengetahui konteksnya, serta menggabungkannya dengan dalil-dalil lain membutuhkan ilmu. Karena itu, seorang Muslim hendaknya belajar kepada ulama yang terpercaya dan tidak tergesa-gesa mengambil kesimpulan hanya berdasarkan pemahaman pribadi.

BACA JUGA:  3 Tanda Kemuliaan Seseorang Menurut Imam Asy-Syafi’i

Dari perkataan Imam Asy-Syafi’i rahimahullah, kita belajar bahwa kemuliaan seorang alim bukan terletak pada keinginannya agar pendapatnya selalu diikuti, tetapi pada kesungguhannya mengarahkan manusia kepada kebenaran.

Semoga kita memiliki sikap ilmiah seperti para ulama terdahulu: menghormati ahli ilmu, mencintai sunnah Rasulullah ﷺ, serta siap menerima kebenaran ketika dalil yang sahih telah jelas. []

Sumber: Shahih Fiqhu As-Sunnah (Shahih Fiqih Sunnah (Jilid 1)/ Penulis: Abu Malik Kamal bin As-Sayyid Salim / Penerbit: Insan Kamil / Cetakan: Cet. 1: Nopember 2021 / Rabiul Akhir 1443 H

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

Ikuti kami di Facebook Humayro. Satu tempat untuk pembelajaran tiada henti. Pembelajaran setiap hari. Pembelajaran sepanjang hayat.

Subscribe

Subscribe my Newsletter for new blog posts, tips & new photos. Let's stay updated!

Humayro.com – Belajar Sepanjang Hayat.  Kantor : Jalan Taman Pahlawan Gg. Ikhlas No. 2 RT18/RW 08 Purwakarta 41119