Home KajianImam Asy-Syafi’i: Jika Hadis Itu Sahih, Itulah Mazhabku

Imam Asy-Syafi’i: Jika Hadis Itu Sahih, Itulah Mazhabku

Menghormati para ulama adalah bagian dari adab menuntut ilmu, tetapi tidak boleh berubah menjadi fanatisme yang membuat kita menolak dalil.

by Abu Umar
0 comments 10 views

Imam Asy-Syafi’i rahimahullah merupakan salah satu imam besar dalam Islam yang dikenal memiliki perhatian sangat besar terhadap hadis dan sunnah Rasulullah ﷺ. Meski memiliki kemampuan ilmu yang tinggi dan menjadi rujukan dalam fikih, beliau tidak pernah menganggap pendapat pribadinya harus selalu diikuti.

Salah satu perkataan beliau yang masyhur adalah, “Jika hadis itu sahih, maka itulah mazhabku.”

Perkataan tersebut menunjukkan sikap seorang ulama terhadap kebenaran. Bagi Imam Asy-Syafi’i, pendapat manusia tidak boleh didahulukan ketika telah ditemukan hadis sahih dari Rasulullah ﷺ yang menjadi dalil dalam sebuah persoalan.

BACA JUGA: Nasihat-nasihat Imam Syafi’i yang Menggetarkan Jiwa

Beliau juga berkata, “Kalian lebih tahu tentang hadis dan para perawinya daripada aku. Jika hadis itu sahih, maka beritahukanlah kepadaku di mana pun itu berada, baik di Kufah, Bashrah, ataupun Syam, sampai aku pergi mendatanginya jika hadis itu sahih.”

Betapa besar semangat beliau dalam mencari kebenaran. Jarak yang jauh tidak menjadi penghalang apabila ada hadis sahih yang perlu diketahui dan dipelajari.

Dalam perkataan lainnya, Imam Asy-Syafi’i menegaskan, “Setiap permasalahan yang di dalamnya ada hadis sahih dari Rasulullah ﷺ menurut orang yang ahli dalam menukilnya, berbeda dengan apa yang aku katakan, maka aku kembali kepadanya, yaitu hadis sahih, baik ketika aku masih hidup ataupun setelah aku mati.”

Nasihat ini menunjukkan kerendahan hati seorang imam besar. Beliau menyadari bahwa manusia dapat keliru, lupa, atau belum mengetahui sebuah dalil. Karena itu, pendapat seorang ulama tidak boleh ditempatkan sejajar dengan wahyu dan sunnah Rasulullah ﷺ.

Namun, perkataan tersebut bukan berarti setiap orang boleh mengambil kesimpulan hukum hanya dengan membaca satu hadis. Menilai kesahihan hadis, memahami kandungannya, mengetahui konteksnya, serta mengompromikan berbagai dalil membutuhkan ilmu dan kemampuan yang memadai. Karena itu, persoalan agama hendaknya dikembalikan kepada para ulama yang terpercaya.

BACA JUGA:  Imam Malik: Setiap Pendapat Harus Kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah

Pelajaran terbesarnya adalah bahwa seorang Muslim hendaknya mencintai kebenaran lebih daripada pendapatnya sendiri. Menghormati para ulama adalah bagian dari adab menuntut ilmu, tetapi tidak boleh berubah menjadi fanatisme yang membuat kita menolak dalil.

Semoga kita dapat meneladani Imam Asy-Syafi’i rahimahullah dalam keikhlasan mencari kebenaran, menghormati sunnah Rasulullah ﷺ, dan berani meninggalkan pendapat apabila ternyata bertentangan dengan dalil yang sahih. []

Sumber: Shahih Fiqhu As-Sunnah (Shahih Fiqih Sunnah (Jilid 1)/ Penulis: Abu Malik Kamal bin As-Sayyid Salim / Penerbit: Insan Kamil / Cetakan: Cet. 1: Nopember 2021 / Rabiul Akhir 1443 H

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

Ikuti kami di Facebook Humayro. Satu tempat untuk pembelajaran tiada henti. Pembelajaran setiap hari. Pembelajaran sepanjang hayat.

Subscribe

Subscribe my Newsletter for new blog posts, tips & new photos. Let's stay updated!

Humayro.com – Belajar Sepanjang Hayat.  Kantor : Jalan Taman Pahlawan Gg. Ikhlas No. 2 RT18/RW 08 Purwakarta 41119