Sedekah sering kali terasa mudah ketika seseorang memiliki banyak harta dan tidak sedang membutuhkannya. Namun, memberikan sebagian harta ketika kita sendiri masih menginginkannya, masih merasa takut kekurangan, dan masih memiliki banyak kebutuhan, itulah sedekah yang menunjukkan kekuatan iman.
Rasulullah ﷺ pernah ditanya tentang sedekah yang paling besar pahalanya. Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa seseorang bertanya kepada Rasulullah ﷺ:
“Wahai Rasulullah, sedekah yang manakah yang paling besar pahalanya?”
Beliau ﷺ menjawab:
“Engkau bersedekah ketika kamu masih sehat, ketika kamu takut menjadi fakir, dan ketika kamu masih berangan-angan menjadi kaya. Janganlah engkau menunda-nunda sedekah hingga ketika nyawa telah sampai di tenggorokan, barulah kamu berkata, ‘Untuk si fulan sekian dan untuk si fulan sekian,’ padahal harta tersebut sudah menjadi hak si fulan.” (Muttafaq ‘alaih, HR. Bukhari no. 1419 dan Muslim no. 1032)
BACA JUGA: Saudaraku, Sedekahlah di Waktu Shubuh
Perhatikan jawaban Rasulullah ﷺ.
Sedekah yang paling besar pahalanya bukan sekadar sedekah dalam jumlah besar. Tetapi sedekah yang diberikan ketika hati masih berat untuk melepaskannya.
Ketika sehat, seseorang masih memiliki banyak keinginan.
Ingin membeli sesuatu.
Ingin menabung.
Ingin memiliki rumah.
Ingin mengembangkan usaha.
Ingin menikmati hasil kerja.
Namun, di tengah berbagai keinginan tersebut, ia tetap menyisihkan hartanya untuk bersedekah.
Inilah bentuk pengorbanan.
Jangan Menunggu Kaya untuk Bersedekah
Sebagian orang berkata, “Nanti kalau sudah kaya, saya akan banyak bersedekah.”
Padahal, belum tentu kekayaan membuat seseorang lebih mudah bersedekah.
Bisa jadi ketika hartanya bertambah, kekhawatirannya juga bertambah.
Dulu takut kekurangan satu juta.
Setelah memiliki sepuluh juta, takut kehilangan lima juta.
Setelah memiliki seratus juta, takut hartanya berkurang.
Begitulah sifat manusia.
Karena itu, jangan menunggu kaya untuk belajar memberi.
Sedekahlah sesuai kemampuan.
Sedikit tetapi ikhlas lebih baik daripada banyak tetapi disertai riya atau mengungkit-ungkit pemberian.
Allah Ta‘ala berfirman:
“Kamu tidak akan memperoleh kebajikan, sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai.” (Ali ‘Imran: 92)
Ayat ini mengajarkan bahwa salah satu ukuran pengorbanan adalah ketika seseorang memberikan sesuatu yang sebenarnya ia cintai.
Jangan Menunggu Sakaratul Maut
Hadis tersebut juga mengingatkan kita agar tidak menunda sedekah.
Ketika sehat, kita merasa masih memiliki banyak waktu.
Ketika masih muda, kita merasa kematian masih jauh.
Ketika memiliki harta, kita merasa bisa bersedekah nanti.
Padahal, tidak ada yang mengetahui kapan ajal datang.
Ketika seseorang sudah berada di penghujung kehidupan, harta yang selama ini dikumpulkan tidak lagi memiliki nilai seperti sebelumnya.
Ia ingin bersedekah, tetapi kesempatan telah berakhir.
BACA JUGA: Sedekahmu Itu, Jalan Menuju Keberkahan
Maka, bersedekahlah ketika masih sehat.
Bersedekahlah ketika masih memiliki kesempatan.
Bersedekahlah ketika hati masih mampu berjuang melawan kecintaan kepada harta.
Sebab, sedekah bukan hanya tentang mengurangi harta.
Sedekah adalah cara membersihkan hati dari sifat kikir dan mengajarkan jiwa untuk percaya bahwa apa yang diberikan karena Allah tidak akan pernah sia-sia.
Hari ini kita masih memiliki kesempatan untuk memberi.
Jangan tunggu besok.
Bisa jadi, apa yang kita sedekahkan hari ini menjadi salah satu amal yang paling kita butuhkan ketika menghadap Allah kelak. []
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

